Kuliah Tafkir Islami – Kamis, 11 Dzulqa’dah 1444 H / 1 Juni 2023
بسم الله الرحمن الرحيم
أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
# Kurikulum Materi
Kaidah-kaidah dalam berpikir islami:
- Kaidah umum
- Kaidah yang bersumber dari fiqih
- Kaidah yang bersumber dari Tsaqafah Islamiyah
Kaidah-kaidah yang bersumber dari fiqih:
2.1. Niat menentukan amal
2.2. Keyakinan Tidak Bisa Dihilangkan Dengan Keraguan
2.3. Yang Mudharat Harus Ditinggalkan
2.4. Kesulitan Mendatangkan Kemudahan
2.5. Antara Manfaat dan Mudharat
2.6. Manfaat, Mudharat dan Ketaqwaan
2.7. Mengambil Keseluruhan atau Sebagian
MENGAMBIL KESELURUHAN ATAU SEBAGIAN
Apa saja yang keseluruhannya tidak bisa diraih, maka jangan ditinggalkan sebagian yang lainnya. Misal, apabila kita tidak bisa makan dengan komposisi yang lengkap, maka kita tetap makan dengan makanan yang ada. Anjurannya adalah bukan meninggalkan seluruhnya sama sekali. Kita memiliki kelonggaran untuk menerima yang tidak ideal karena hidup tidak selamanya ideal. Kaidah ini membimbing kita untuk bisa menerimanya.
Kaidah ini menarik untuk membuat kita realistis menerima keadaan dan membuat kita tidak sampai terkena mudharat. Kaidah ini membuat kita bisa beradaptasi dengan keadaan. Hal-hal yang tidak ideal dan tidak semuanya lengkap ini banyak ditemui di dalam masyarakat.
Hal-hal yang dibimbing dengan kaidah ini:
- Realistis melihat keadaan
- Terhindar dari mafsadah (kemudharatan)
- Mendorong kita untuk menopang keberhasilan di level tertentu
1. Realistis melihat keadaan
Di dalam Islam, idealisme dan realita itu sangat didekatkan. Seorang muslim seharusnya adalah orang yang paling memahami realita meskipun faktanya banyak orang muslim yang tidak memahami realita. Contoh, ketika seorang sahabat menemui Rasulullah dan menyampaikan kalau orang kaya itu berkesempatan memiliki banyak pahala karena banyak shadaqah dengan hartanya. Kemudian Rasulullah mengajarkan bahwa shadaqah itu bisa juga dengan dzikir menggunakan sebanyak ruas-ruas jari. Rasulullah mengajarkan solusi menghadapi realita.
2. Terhindar dari mafsadah
Banyak orang yang lebih memilih untuk meninggalkan keseluruhan ketika tidak mendapatkan seluruhnya. Dalam keadaan ini, ia bisa mendapatkan kemudharatan. Misal, seseorang yang belum bisa
3. Mendorong kita untuk menopang keberhasilan di level tertentu
Apabila kita mampu untuk mengambil sebagian ketimbang meninggalkan keseluruhannya yakni menerima keadaan yang tidak ideal, maka sesungguhnya kita mampu mencapai satu posisi keberhasilan di level tertentu. Hal ini akan lebih mudah mendorong kita untuk menuju keberhasilan di level berikutnya. Kita akan mampu untuk terus bergerak menuju
Hal-hal yang harus dihindari dalam menyikapi kaidah ini:
- Jika tidak diberikan koridor yang baik, kita tidak akan berusaha untuk menjadi yang terbaik.
Seseorang bisa menjadi orang yang medioker atau biasa-biasa saja. Sebaliknya, kita menerima yang ada sambil menuju keadaan yang lebih baik. - Membentuk mindset untuk selalu tidak mau ideal atau pragmatis.
Realistis dan pragmatis itu beda tipis. Cara pandang kita harus tetap memiliki idealisme untuk menuju yang terbaik.
Ada orang yang ketika tidak mampu mendapatkan semuanya, maka ia akan meninggalkan sebagian yang ada. Orang-orang ini disebut nihilis dan keadaan ini menyusahkan.
Mengapa ada orang-orang yang bisa nihilis?
- Over-thinking
Seseorang yang over-thinking itu sering kali idealis dan cenderung menjadi nihil - Adanya karakter dasar seseorang, seperti melankolis sempurna dan koleris sempurna
- Model atau figuritas yang dicontohnya. Misal, didikan ayah ibunya yang tidak memiliki tujuan sehingga menjadi fatalis
Membentuk pola berpikir itu perlu ada penanaman sehingga menjadi cara berpikir.
Bagaimana caranya agar cara berpikir islami ini bisa diterima?
- Dipahami secara bagus (menyeluruh), jangan setengah paham.
- Pemahamannya melibatkan hati, supaya tertarik. Supaya menjadi mindset, kaidahnya harus masuk alam bawah sadar.
- Perlu pengulangan.
Bagaimana agar materi berpikir islami ini menjadi populer?
- Menyederhanakan bahasa. Membuat materi yang berat menjadi mudah diterima.
- Perlu ada kerja media. Mempopulerkan dengan media dakwah.
Mengapa seseorang itu pragmatis?
- Cara berpikirnya lemah
- Karakternya lemah, tidak memiliki komitmen tinggi terhadap pencapaian
Bagaimana dengan anjuran konsep pertengahan sedangkan kita didorong untuk mencapai situasi yang ideal?
Yang ideal itu sebenarnya adalah yang berada di tengah itu.
TANYA JAWAB
Dalam praktek, terkadang kita merasa target pekerjaan itu terasa berat karena melihat situasa lapangan yang sedang banyak kendala. Tetapi dalam kesulitan itu, kita tetap melakukan langkah-langkah dan proses-proses untuk mencapai goal. Apakah ini diperbolehkan?
Ini sudah benar. Supaya lebih kuat, kita memperlu memperhatikan kiat-kiat kiat-kiat untuk menguatkan usaha dalam situasi yang berat:
- Perlu melihat besarnya rahmat Allah. Perasaan terasa berat itu perlu digeser mindset-nya. Jangan melihat kepada diri kita, namun lihatlah besarnya rahmat Allah. Jika ingin melihat sesuatu, seorang mukmin itu jangan melihat kekuatan diri kita sendiri namun lihatlah besarnya kuasa dan pertolongan Allah.
- Bersyukur atas semua proses. Kalau menjalani sesuatu tanpa ada rasa syukur, maka prosesnya akan menjadi lemah.
- Memperhatikan niat dari setiap proses yang kita kerjakan di dunia ini supaya terus mendapat pahala.
Bagaimana cara memadukan tim kerja yang berpikir pragmatis, idealis dan moderat agar pencapaian target terpenuhi?
- Caranya harus didekatkan. Yang pragmatis harus dinaikkan dan yang idealis harus diturunkan. Perlu pelatihan.
- Menggunakan keputusan.
- Perlu kesabaran dan waktu.
wallahu a’lam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (AA)
No Comments
Leave a comment Cancel