1. Arsip Kuliah Umum Tematik (KTM)

KTM78. 4 Hakikat Besar (Bag.1) – Tentang Allah dan Rasul-Nya

Kuliah Tafkir Islami – Kamis, 18 Dzulqa’dah 1444 H / 8 Juni 2023
Pemateri: Ustadz Muhsinin Fauzi, Lc. MSi.

‎بسم الله الرحمن الرحيم
‎أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
‎وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

# Kurikulum materi

Kaidah-kaidah dalam berpikir islami:

  1. Kaidah umum
  2. Kaidah yang bersumber dari fiqih
  3. Kaidah yang bersumber dari Saqafah Islamiyah (studi islam secara umum)

Kaidah-kaidah yang bersumber dari Saqafah Islamiyah:
3.1. Empat Hakikat Besar


4 HAKIKAT BESAR (BAGIAN 1)

Materi ini merupakan bahasan yang mempengaruhi lurus atau tidaknya cara berpikir seseorang. Jika keempatnya tidak clear, maka akan sangat berpengaruh ke bawah-bawahnya.

4 perkara yang termasuk hakikat besar:

  1. Masalah ketuhanan
  2. Masalah kerasulan/kenabian
  3. Masalah tentang manusia
  4. Masalah tentang kehidupan di dunia

Jika cara melihat seseorang kepada keempatnya bagus, maka hidupnya akan bagus.

# 1. Masalah Ketuhanan

Bagaimana seorang manusia menyikapi bab ini, misalkan dengan pertanyaan:

  • Apakah seseorang percaya kepada Tuhan?
  • Siapa Tuhanmu?
  • Bagaimana seseorang bersikap kepada Tuhan?
  • Apakah seseorang taat atau tidak?

Ini adalah titik yang paling dasar. Pertanyaan-pertanyaan ini adalah sebagai gambaran bagaimana mindset kita terhadap Tuhan.

Apakah hubungan antara berpikir dengan keyakinan?
Dasar berpikir adalah keyakinan.

Contoh:
Ketika ada keyakinan seseorang ketika rumahnya menghadap ke arah tertentu, maka ia akan percaya bahwa uang yang didapatnya akan sedikit. Ketika rumahnya ternyata betul menghadap ke arah tersebut dan uangnya juga sedikit, maka ia akan percaya bahwa situasinya saat itu adalah betul-betul karena arah rumahnya menghadap tadi.

Jika seseorang tidak yakin akan adanya Tuhan, maka hidupnya akan rumit karena semuanya digantungkan hanya kepada kinerja dirinya.

Tugas kita saat ini adalah apakah semua keyakinan kita sudah didasarkan kepada konsep ketuhanan yang benar atau belum. Kita perlu mendalami konsep asma wa sifat-nya Allah. Seorang muslim yang imannya bagus akan memiliki hasil berpikir yang bagus juga.

Apakah imannya sudah bersih dari kesyirikan?
Apakah imannya bisa menghidupkan ataukah imannya justru mati?

Kestabilan berpikir akan bisa berdampak kepada kestabilan bertindak dan pada kestabilan bersikap. Jika keyakinan tidak clear, maka kita akan kacau dalam bersikap.

Seluruh keyakinan terhadap masalah ilahiyah ini sangat berpengaruh terhadap cara berpikir. Jika ada keyakinan yang keliru, maka cara berpikir akan keliru.

# 2. Masalah kenabian

Apakah seorang manusia harus percaya akan Nabi dan hidup dibimbing oleh Nabi? Apakah hidup bisa dijalani tanpa bimbingan Nabi? Kalau orang mempercayai Nabinya, maka semua tindakannya akan mengikuti Nabinya. Kalau seseorang tidak percaya akan Nabi, maka seluruh rumusan hidupnya akan dibangun sendiri. Ini adalah kekacauan.

Kalau seseorang percaya kepada Nabi, maka cara berpikir, cara bertindak dan cara hidup terbaik adalah dengan mengikuti Nabi karena Nabi adalah utusan pencipta alam. Tidak ada yang mengetahui tentang alam kecuali Sang pencipta alam. Pencipta alam memberitahu kepada para utusannya untuk mengajari manusia untuk hidup di alam ini.

Kalau seseorang menggunakan Nabi sebagai rujukan setelah Tuhannya dalam bab mengelola hidup ini maka dia akan mendapatkan kebaikannya. Dengan mindset seperti ini, ia akan mengikuti jalan Nabi.

Sebaliknya, jika mindsetnya adalah bahwa seseorang tidak perlu mempercayai Nabi, tidak perlu mencontoh ajarannya dan berpikir bahwa Nabi hanya berupa rentetan sejarah dalam hidup ini, maka tindakannya tentu tidak akan merujuk kepada yang dicontohkan Nabi.

Yang saat ini menjadi masalah adalah ketika ada seseorang yang beriman kepada Nabi namun mindset-nya tidak seperti nabinya. Dengan demikian, keimanannya hanyalah sebuah formalitas. Contoh, ketika ada seorang mandor yang sudah mengetahui dan percaya satu gambar kerja dari arsitek A dan sipil B, maka ia akan selalu merujuk kepada sang arsitek dan sipil.

Cara berpikir kita seharusnya menempatkan Nabi sebagai referensi utama dalam kehidupan kita. Ini adalah satu tugas yang perlu dikerjakan yakni mengokohkan keyakinan kita kepada Nabi agar semakin dalam sehingga akan menumbuhkan cara berpikir yang baik dan perilaku yang baik.

Kita perlu menyelami Nabi lebih dalam dan lebih leluasa sehingga semakin mengenal Nabi dan menjadikannya sebagai sumber berpikir. Hal ini adalah dahsyat sekali. Kita sangat bersyukur kepada Allah karena dibimbing oleh Rasulullah SAW. Ketika kita mengetahui tentang semua cara berpikir Nabi, maka kita akan mudah dalam menjalani hidup.

Ketika mindset kita tentang Nabi itu kokoh, maka sedikit-sedikit kita akan merujuk kepada Nabi. Sebaliknya ketika mindset kita itu tidak kokoh, maka tentunya kita tidak akan menggunakan Nabi sebagai rujukan.

Salah satu hal yang kita nantikan adalah dapat bertemu dengan Rasulullah SAW karena kita percaya kepadanya dan merindukannya. Profil Nabi yang cukup menarik adalah simpel dan cepat. Seluruh sisi hidup Nabi itu pas dan tidak kelebihan. Jika lebih di salah satu bab maka akan lebih di bab yang lain. Hampir semua sisi Nabi itu tersentuh karena Nabi adalah simpel sehingga segala sesuatunya tidak panjang dan fokus kepada hasil.

Ketika kita sudah memiliki mindset bahwa hidup ini dikelola dengan cara Nabi, maka kita akan selalu merujuk kepada Nabi.


TANYA JAWAB

Mengapa seseorang bisa kesurupan?
Bisa jadi orang tersebut sedang kosong, yakni jiwanya kosong dari dzikrullah, kosong dari pikiran positif. Bisa juga jiwa orang tersebut sedang lemah. Jin yang masuk bisa jin yang baik atau buruk. Cara menyelesaikannya dengan ta’awudz dan doa. Yang memutuskan jin itu keluar atau tidak adalah Allah. Rasul mengajarkan untuk berdoa disituasi seperti ini.

wallahu a’lam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (AA)

Comments to: KTM78. 4 Hakikat Besar (Bag.1) – Tentang Allah dan Rasul-Nya

Your email address will not be published. Required fields are marked *