Kuliah Tafkir Islami – Kamis, 8 September 1444 H / 12 Safar 2022
بسم الله الرحمن الرحيم
أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Kaidah-kaidah Tafkir Islami:
Konsep kebenaran
Kebenaran banyak versinya, yaitu:
a. Kebenaran logika
b. Kebenaran dari kebatilan
c. Kebenaran syariah
Di dunia ini ada macam-macam kebenaran, yaitu:
- Kebenaran seni
- Kebenaran pengetahuan
- Kebenaran Filsafat
- Kebenaran agama.
Kebenaran seni
Dasarnya adalah rasa. Contohnya lukisan.
Kebenaran pengetahuan
Dasarnya adalah bukti atau kumpulan dari data-data. Kalau semua itu terbukti, maka hal tersebut akan diterima dan diakui.
Kebenaran Filsafat
Dasarnya adalah akal & logika. Kalau (masuk) logika adalah benar, dan kalau tidak (masuk) logika adalah tidak benar. Hal ini yang dekat dengan agama. Kesenangan terjadi adalah apabila mau menahan atau menunda kesenangan itu. contoh seperti makan, pertemuan, dsb.
Kebenaran agama
Dasarnya adalah keyakinan, yakni hal yang dibahas oleh agama. Dasarnya orang beragama adalah keyakinan masing-masing. Khusus agama islam, agama ini dapat dirasa, dapat dibuktikan oleh pengetahuan dan dapat dicerna oleh rasa. Contoh: sholat dan mengaji akan lebih terasa tenang saat berdzikir. Agama bisa dicerna oleh logika. Contoh: kenapa pemimpin dipimpin oleh seorang laki-laki, kenapa setelah perceraian ada masa iddah, dsb.
Bagi seorang muslim, apapun kategori kebenaran haruslah dinaungi oleh agama
- Secara rasa, kita tunduk terhadap syariah. Contohnya makan babi: walaupun misalnya enak tetapi hukumnya tetap haram.
- Secara seni, selera itu tunduk terhadap syariah. Contoh: melihat lukisan telanjang walaupun indah akan tetap tidak merasakan keindahan karena mengandung kemaksiatan yang hukumnya haram.
Apabila bukti-bukti dan konsep pengetahuan itu bertentangan dengan agama, maka:
- Penelitiannya tidak benar, sehingga teori harus diulang dan penarikan datanya juga diulang. Bisa jadi kalau salah dengan ilmu pengetahuan, berati keliru dalam pemahaman agamanya.
- Referensinya adalah syariah.
- Kebenaran agama bisa diterima logika, dan ini akan dipandu oleh syariat bukan syariat dipandu oleh logika.
- Referensi kebenaran adalah agama.
Begitu kita mengetahui kaidah-kaidah Islam, maka tugas besar kita adalah syariah. Apabila pemahaman syariahnya kurang, maka kita bisa kembali ke sistem kapitalisme. Di dalam syariah ini ada nash-nash yang tidak berlaku sudut pandang. Di dalam nash-nash itu ada ruang istihad.
Contoh:
Dikatakan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa (4) ayat 103, lafalnya “…aqimish-sholata innash-sholata kanat ‘alal-mu’mina kitabam mauquta…”, artinya “…tegakkanlah sholat (karena) sesungguhnya sholat itu atas orang yang beriman (kepada Alloh) adalah suatu ketetapan yang ditentukan waktu (nya)…”.
Ungkapan Nabi yang mengatakan, “Jangan sekali-kali mengerjakan shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah,” dipahami agar mereka bersegera menuju perkampungan Bani Quraizhah sehingga bisa melaksanakan shalat Ashar di tempat itu. Ketika hal itu diketahui oleh Rasulullah saw, beliau tidak mempermasalahkannya.
Karena pemahaman setiap orang akan berbeda-beda, karena masing-masing akan mempunyai sudut pandang yang berbeda. Ketika orang mengatakan bahwa islam itu tidak bisa berbuat apa-apa, maka ini adalah cara yang berpikir yang salah dan kalau tidak diluruskan akan melahirkan 100 kesalahan yang lain. Apabila kita dikatakan ‘sok alim’, maka kita sudah ada di level yang bisa mempengaruhi orang lain. Hal ini perlu lebih digali lagi untuk bisa mempunyai pengaruh besar kepada orang lain.
Kesalahan orang muslim adalah ketika seni di lawan dengan agama. seharusnya seni dilawan dengan seni, logika dilawan logika, dan pengetahuan dilawan dengan pengetahuan. Inilah urgensi mengapa kita harus perlu banyak berpikir karena agama adalah keyakinan dan dipandu oleh syariat.
wallahu a’lam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (UZ)
No Comments
Leave a comment Cancel