Kuliah Al-Hikam – Selasa, 23 Rajab 1444 H / 14 Februari 2023
بسم الله الرحمن الرحيم
أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
# Al-Hikam, Hikmah ke-25
- ما تَوَقَّفَ مَطْلَبٌ أنْتَ طالِبُهُ بِرَبِّكَ. وَلا تَيَسَّرَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طالِبُهُ بِنَفْسِكَ.
“Permintaan tidak akan tertahan, selama engkau memohon (hanya) kepada Allah. Namun, permintaan tidak akan mudah, apabila engkau bergantung pada dirimu sendiri.”
“Tidaklah akan berhenti (sulit) satu permintaan ketika engkau memintakan urusan itu kepada Rabb-mu, dan tidak akan mudah (untuk satu doa, harapan atau permintaan) yang engkau memintakannya kepada dirimu sendiri.”
Hikmah ke-25 ini membahas mengenai do’a. Jika seseorang meminta satu permintaan untuk urusan dunia ataupun akhirat hanya kepada Rabb-nya, maka hal ini tidak akan sulit untuk terwujud karena kita sudah berpegang teguh kepada yang paling kuat dan karena kita sudah meminta kepada zat yang paling memiliki segalanya.
Sebaliknya, jika seseorang meminta sesuatu dan bersandar hanya kepada dirinya sendiri, maka sesungguhnya hal ini akan sulit untuk terwujud.
Ketika seseorang menyandarkan dan menyerahkan permintaannya kepada Rabb-nya, maka hal ini akan mudah terwujud. Karena ia meminta kepada Yang Maha Kaya dan Yang memiliki alam semesta, maka cita-cita ini tidak akan berhenti sampai terwujudnya cita-cita tersebut. Zat yang Maha kaya ini telah mengatakan bahwa Dia akan mengabulkan doa-doa siapapun yang memintanya. Bertawakallah kepada Allah maka Dia akan mencukupi.
Sementara ketika seseorang menyerahkan urusannya kepada dirinya (sendiri) untuk mewujudkan harapan dan cita-citanya, maka justru hal yang diinginkan akan sulit terwujud karena ia bersandar kepada yang bukan siapa-siapa.
Poin penting dari hikmah ke-25:
- Doa kepada Allah itu merupakan sebab yang paling baik.
- Berharap dan bersandar kepada diri sendiri dalam segala hal itu merupakan cara yang paling tidak tepat untuk mewujudkan cita-cita.
- Oleh karena itu, kita perlu memperbaiki doa kita.
- Totalitas pemghambaan kepada Allah.
#1. Doa kepada Allah itu merupakan sebab yang paling baik
Dimanakah letaknya doa? Doa adalah sebab (usaha) yang paling baik. Dengan berdoa kepada Allah, seseorang sudah berpegang teguh kepada sebab yang paling kuat.
#2. Berharap dan bersandar kepada diri sendiri dalam segala hal itu merupakan cara yang paling tidak tepat untuk mewujudkan cita-cita dan harapan
Sesungguhnya berharap kepada diri sendiri adalah cara yang paling lemah karena seseorang bersandar kepada yang lemah. Di lapangan, yang terjadi adalah kebanyakan orang bersandar kepada diri sendiri atau orang lain yakni manusia dan tidak bersandar kepada Allah. Hal ini harus dibalik karena sesuatu permintaan akan lebih mudah terwujud jika kita hanya memintakannya kepada Allah.
#3. Kita perlu memperbaiki doa kita
Indahkanlah dalam meminta. Kita perlu memperindah permintaan kita yakni dengan memenuhi adab-adab dalam berdoa.
Adab-adab dalam berdoa:
- Ikhlas dalam berdoa
- Jujur dalam berdoa
- Menampakkan kesungguhan (ilhah)
- Jangan lalai dalam berdoa
- Menjaga diri dari kemaksiatan kepada Allah
- Berdoa pada waktu mustajab
- Berdoa dalam kondisi mustajab
- Berdoa di tempat mustajab
- Menggunakan doa yang matsur
- Berdoa didahului dengan hamdalah dan shalawat
Ikhlas dalam berdoa
Hal terindah dalam berdoa adalah bukan dikabulkannya keinginan kita, melainkan ketika kita bisa mengendalikan diri untuk menjadi hamba Allah yang selalu membutuhkan Allah. Doa adalah implementasi rasa butuh kita kepada Allah yang kita tidak mau ditinggal oleh Allah sedetik pun. Kita betul-betul mengetahui bahwa kita lemah dan tidak punya apa-apa yang ketika sedetik saja kita tidak dalam penjagaan Allah, maka kita akan jatuh.
Kita berdoa untuk memenuhi perintah Allah. Doa adalah ruh-nya ibadah dan memiliki dampak diwujudkannya keinginan kita. Betapa baiknya hal ini, karena kita mendapatkan pahala dan juga pengkabulan dari doa kita.
Jujur dalam berdoa. Kita perlu dengan jujur menunjukkan bahwa kita betul-betul membutuhkan doa tersebut.
Menampakkan kesungguhan. Kita betul-betul bersungguh-sungguh dalam menyampaikan doa.
Jangan lalai dalam berdoa
Yang termasuk lalai:
- Tidak khusyu’ dalam berdoa
- tidak paham atas doa yang dibaca
Menjaga diri dari kemaksiatan kepada Allah
Bagaimana bisa kita meminta kepada Allah namun kita masih melanggar larangannya? Bagaimana bisa kita meminta kepada Allah sementara kita masih menentangnya? Hal ini tidak masuk di akal.
Bahkan, akan lebih baik lagi ketika kita sudah berada dalam ketaatan yang tinggi. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an bahwa siapa saja yang bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya dan memberikannya solusi atas urusannya.
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ﴿ ٣﴾
Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. [QS At-Talaq (65):3]
Berdoa pada waktu mustajab, seperti:
- Antara adzan dan iqamah
- Ba’da shalat
- Pada waktu sujud
- Satu saat di hari jum’at
- Sepertiga malam terakhir
Berdoa dalam kondisi mustajab, seperti:
- Doanya seseorang kepada orang lain tanpa orang lain ini mengetahui bahwa ia sedang didoakan
- Doanya orang yang sedang safar
- Doanya orang yang didzalimi
- Doanya orang fakir miskin
- Doanya orang tua kepada anak
- Doanya orang-orang shaleh
- Doanya anak-anak yatim
Berdoa di tempat mustajab, seperti:
- Multazam (tempat di antara pintu ka’bah dan hijr ismail)
- Masjidil Haram
- Arafah
Ibadah haji dan umroh merupakan kondisi sangat spesial untuk berdoa karena waktunya, tempatnya, kondisinya, dan orang-orang yang melakukannya adalah kondisi yang lebih baik untuk terkabulnya doa.
#4. Totalitas pemghambaan kepada Allah
Kita perlu menata diri untuk memperbaiki konsep penghambaan kepada Allah secara utuh. Karena doa kepada Allah adalah hal terbaik yang memudahkan harapan dan kebutuhan kita terwujud sementara menyandarkan diri kepada diri sendiri adalah hal yang paling lemah, maka sudah saatnya bagi kita untuk menata diri dalam konsep penghambaan kepada Allah secara utuh. Hendaklah kita sadar betul bahwa kita ini adalah hamba Allah.
Janganlah pernah merasa untuk bisa mengerjakan dan memperbaiki sendiri. Semakin kita mengakui bahwa kita adalah ciptaan Allah, maka semakin kita baik. Baik dalam hal penghambaan kepada Allah dan baik dalam hal perwujudan yang diinginkan. Yang terbaik bagi seorang hamba adalah doa.
Wallahu a’lam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (AA)
No Comments
Leave a comment Cancel