Kuliah Tafkir Islami – Kamis, 5 Jumadil Akhir 1444 H / 29 Desember 2022
بسم الله الرحمن الرحيم
أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
# Pengantar
Kaidah-kaidah dalam berpikir islami:
- Kaidah umum
- Kaidah yang bersumber dari fiqih
- Kaidah yang bersumber dari Tsaqafah Islamiyah
Kaidah-kaidah umum berpikir Islami:
1.1. Kebenaran sesuai agama Islam; benar dan salah kembali ke syariah
1.2. Berpikir Islami harus sesuai dengan karakter Islam
1.3. Pemahaman Qada dan Qadar dan hubungannya dengan sebab haruslah sesuai dengan ajaran Islam yang benar
1.4. Memahami Istilah-Istilah Syariah
1.5. Hubungan Hukum Allah di Alam Semesta
1.6. Hubungan Hasil, Proses dan Waktu
# KAIDAH UMUM KEENAM: HUBUNGAN HASIL, PROSES DAN WAKTU
Di dalam keseharian, kita menjalani keseharian yang berhubungan dengan proses dan hasil. Yang menarik, ada juga dimensi waktu yang turut mengendalikan keduanya. Allah SWT menyuruh kita untuk berproses (berbuat, bekerja, mengambil sebab). Allah menyuruh kita untuk mengubah diri kita. Ada sebab untuk segala sesuatu. Allah SWT akan memberikan hasil secara adil seperti yang dikerjakan oleh kita. Di konteks hasil yang di akhirat, Allah tegaskan bahwa manusia tidak mendapatkan hasil di akhirat berupa pahala kecuali seperti yang ia kerjakan. Seseorang tidak bisa berdosa dari dosanya orang lain.
Dimensi waktu
Di konteks secara umum, laki-laki mendapatkan bagian dari apa yang ia kerjakan. Adanya dimensi waktu yang terkait dengan hubungan ini. Allah menetapkan waktu dan waktu itu telah ditetapkan disisi-Nya. Allah menyuruh kita untuk berbuat, Allah akan berikan hasil dan Allah telah tentukan waktunya.
Berbuat = berproses, mengambil hasil, beramal.
Contoh: proses thalabul ilmu dan proses menuju pernikahan
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿ ١٠٥﴾
Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. [QS At-Taubah (9):105]
Kerangka (frame) berpikir terkait kaidah umum keenam
- Menjalani proses (menjalani sebab) adalah perintah Allah
- Mengambil sebab adalah konsekuensi dari ketaatan terhadap hukum Allah di alam semesta
- Ketika seseorang sudah mengambil sebab namun belum mendapatkan hasil, sesungguhnya ia tidak gagal karena sudah mendapatkan pahala dari Allah.
- Hasil merupakan pemberian Allah kepada hamba-Nya.
- Hasil pemberian Allah kepada hamba-Nya itu memenuhi unsur keadilan dan rahmah-nya Allah.
- 2 macam sebab: yang bersifat syar’i (contoh: ibadah) dan yang bersifat kauniyah/alam semesta (contoh: menjaga kesehatan)
- Hasil terbaik bagi mukmin adalah akhirat.
- Ketika Allah menentukan hasil, maka Allah juga sudah menentukan kapan hasil itu akan diberikan.
- Kita perlu mendekat kepada Allah agar Allah memberikan hasil yang baik di waktu yang tepat.
- Kalau ada hasil yang baik, maka bersyukurlah kepada Allah karena ini pemberian Allah. Kalau ada hasil yang buruk, maka janganlah berputus asa kepada Allah karena ini ujian dari Allah.
- Jika kita sudah bisa memiliki keseluruhan frame di atas dan menjalankan keseluruhan prosesnya, maka sejatinya kita sudah mendapatkan kebahagiaan.
1. Menjalani proses (menjalani sebab) adalah perintah Allah dan hubungannya sesuai dengan kadar perintah-Nya, yakni wajib atau sunnah.
Posisi seseorang dalam mengambil sebab bisa dikatakan sebagai amal shaleh. Para ulama mengatakan, berniat saja untuk berbuat baik yakni menjalankan perintah Allah.
2. Mengambil sebab adalah konsekuensi dari ketaatan terhadap hukum Allah di alam semesta.
Di alam semesta, Allah telah menetapkan bahwa hasil itu ada sebabnya. Se-sholeh apapun seseorang namun tidak mengambil sebab, maka ia tidak akan mendapatkan hasilnya. Sebagai hamba Allah, kita mengikuti apa yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT.
3. Ketika seseorang sudah mengambil sebab namun belum mendapatkan hasil, sesungguhnya ia tidak gagal karena sudah mendapatkan pahala dari Allah.
Inilah salah satu kebaikan yang didapatkan kaum muslimin karena semua amal perbuatannya tidak ada yang rugi. Hal ini meliputi juga dalam kegiatan dakwah. Ada Nabi yang umatnya hanya sedikit ada pula Nabi yang umatnya banyak. Umat Nabi Isa hanyalah 12. Allah ridha kepada semuanya. Sekiranya tidak mendapatkan hasil di dunia, niscaya Allah akan memberikan hasil di akhirat.
4. Hasil merupakan pemberian Allah kepada hamba-Nya.
Allah tidak dzalim terhadap hamba-Nya dan bahkan Allah bisa saja memberikan lebih kepada hamba-Nya.
5. Hasil pemberian Allah kepada hamba-Nya itu memenuhi unsur keadilan dan rahmah-nya Allah.
Allah akan berikan hasil seperti yang diusahakan oleh manusia. Inilah yang disebut oleh orang-orang bahwa suatu hasil itu tidak akan mengkhianati sebab.
6. Dua macam sebab yang dikerjakan seseorang adalah sebab yang bersifat syar’i dan sebab yang bersifat kauniyah/alam semesta.
Orang yang taat secara syariah, insya Allah dunianya barakah. Hukum alam semesta juga perlu dipahami. Kalau mau pintar, perlu belajar. Kalau mau sehat, perlu menjaga kesehatan. Ini adalah sunnatullah di alam semesta. Kalau kita mendapati bahwa hasil kita kurang bagus, maka kita perlu mencari tahu sebab mana yang kita belum kerjakan secara maksimal. Misal, ketika kondisi keluarga kita belum akur, maka kita perlu mencari tahu apa saja yang menyebabkannya. Di dalam memahami hasil, kita harus mengetahui bahwa selalu ada dua faktor yang mempengaruhi, yakni hukum syariat dan hukum alam semesta.
7. Hasil terbaik bagi mukmin adalah akhirat.
Selama yang kita perbuat itu berujung kepada pahala di akhirat, maka ini adalah hal baik yang dikerjakan oleh kaum mukmin. Dalil dalam al-Qur’an:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴿ ١٨٥﴾
[QS Ali Imran (3):185] Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
8. Ketika Allah menentukan hasil, maka Allah juga sudah menentukan kapan hasil itu akan diberikan.
Hasil adalah variabel penting dari proses dan waktu juga merupakan variabel penting dari proses. Di konteks dakwah, Allah sudah menentukan kapan suatu proses itu akan mendatangkan hasil. Misal, kapan satu pondok yang sedang dirintis itu berdiri. Kuliah adalah sebab menuju kerja. Kerja menghasilkan gaji dan seterusnya. Semua sudah Allah tentukan.
9. Kita perlu mendekat kepada Allah agar Allah memberikan hasil yang baik di waktu yang tepat.
Karena Allah sudah menentukan waktu di sebab dan waktu di hasil, maka kita perlu mendekat kepada Allah dan berdoa kepada Allah.
10. Kalau ada hasil yang baik, maka bersyukurlah kepada Allah karena ini pemberian Allah. Kalau ada hasil yang buruk, maka janganlah berputus asa kepada Allah karena ini ujian dari Allah.
Kalau kita bertawakkal, maka Allah akan membimbing kita.
11. Jika kita sudah bisa memiliki keseluruhan frame di atas dan menjalankan keseluruhan prosesnya, maka sejatinya kita sudah mendapatkan kebahagiaan.
Berniat, beramal, mendapatkan hasilnya. Sterusnya, kembali erniat, beramal, mendapatkan hasilnya. Kalau orang mengambil proses namun tidak bertawakkal, maka ia bisa stres. Kalau ia bekerja namun tidak dibimbing oleh Allah, maka ia bisa kecewa. Jika frame berpikir ini sudah digunakan, maka seseorang akan tenang dalam berniat, tenang dalam berproses dan tenang dalam menerima hasil. Ketika seseorang menikmati semua dinamika proses dan hasil, maka ia akan lebih tenang dan bahagia menjalaninya.
Kualifikasi proses untuk mendapatkan hasi yang optimal
- Berproses sepanjang hayat dan jangan berhenti berproses karena kita tidak mengetahui kapan hasil akan diturunkan.
- Menggunakan kemampuan maksimalnya.
- Mencari semua kemungkinan. Bisa jadi seseorang sudah merasa maksimal, namun tetangga atau orang lain itu masih ada kemungkinan.
- Di level tertentu, pekerjaan dilakukan secara berjamaah. Kita perlu menambah mitra.
- Adanya karunia Allah. Allah bisa saja memberikan hasil yang lebih melalui do’a dan taqarrub (mencari kedekatan) kepada Allah.
PERTANYAAN
1. Ketika seseorang tidak melihat hasil di akhirat, maka sering kali ibadah kita tidak konsisten. Bagaimana caranya agar kita bisa konsisten berorientasi kepada hasil di akhirat?
Kita perlu menguatkan visi akhirat. Yang bisa dilakukan:
- Sering membaca ayat dan hadits yang terkait dengan akhirat sehingga akhirat itu akan tampak di depan kita. Kita perlu sering mengaji.
- Banyak mencari ilmu terkait dengan akhirat. Misal, kalau yang sakit adalah jasmani, maka berobatlah. Namun kalau yang sakit adalah rohani, maka ia perlu dibantu.
2. Manakah yang lebih penting, proses atau hasil?
Bagi muslim, ketiganya dilalui: niat, proses dan hasil. Ketika seseorang menyebutkan yang penting hasil, maka bisa jadi proses yang dilaluinya tidak sesuai bahkan menghalalkan segala cara. Ketika seseorang menyebutkan yang penting proses, maka sayang jika hasilnya tidak baik dan bahkan bisa malas mengejar hasil. Keduanya jangan dibenturkan.
3. Apakah ungkapan sebagian motivator yang mengatakan bahwa proses tidak mengkhianati hasil itu kurang tepat?
Sampai level tertentu, hal ini masih tepat. Namun, hal ini jangan dipahami seperti orang yang tidak beriman, bahwa sesuatu itu pasti kita dapatkan kalau kita berusaha. Allah-lah yang menentukan hasilnya.
4. Bagaimana cara meningkatkan daya juang seseorang untuk berproses?
Segera bertaubat dan moderasi karakter, misal dengan pengembangan diri.
wallahu a’lam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (AA)
No Comments
Leave a comment Cancel