1. Arsip Kuliah Umum Tematik (KTM)

KTM48. Pengantar Kuliah Tafkir Islami (2)

Kamis, 1 September 1444 H / 5 Safar 2022

‎بسم الله الرحمن الرحيم
‎أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
‎وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Pengantar

Tafkir islami adalah berpikir Islami. Hubungan tafkir islami dengan mata pelajaran yang lain adalah terletak pada pemenuhan kualifikasi sebagai seorang muslim.

Qualifikasi seorang muslim terdiri dari:

  1. Memiliki aqidah yang islami (aqidah yang lurus & benar)
  2. Beribadah & bermualamah dengan benar (fiqih)
  3. Akhlaknya mulia (tazkiyatun nafs)
  4. Berpikir dengan baik (tafkir islami)
  5. Mempunyai badan yang sehat

Yang terkait dengan Tafkir Islami (berpikir islami):

  1. Kalau ada perbedaan hukum dalam islam, maka kita harus mempunyai sudut pandang yang baik dan disinilah perlunya tafkir islami (berpikir islami). Bab ini membahas masalah berpikir.
  2. Tafkir islami banyak mengambil dari studi-studi Islam, yakni dari Aqidah, Ushul Fiqih, Tazkiyatun Nafs, Ummul Quran, Ilmu Quran & Hadits dan lain sebagainya. Dengan demikian, dalam tafkir islami perlu kekayaan ilmu yang luar biasa sehingga bisa kokoh (kuat) cara pandang islaminya serta tepat dalam mengambil keputusan. Selain dari Tafkir Islami, materi diambil juga dari materi SDM seperti strategic thinking, planning, psikologi, dsb.
  3. Referensi tafkir islami ini diambil secara khusus yang membahas cara berpikir islami. Sebagai pembanding, ilmu fiqih yang berkembang dengan pesat diambil dari berbagai macam referensi juga sehingga disini diperlukan usaha penyusunan materi dengan baik juga.
  4. Apa yang diputuskan seseorang itu diambil dari cara berpikirnya. Berpikir atas sesuatu itu mempunyai sudut pandang yang luas. Contoh: ketika menemukan masalah, kita (terkadang) memaksakan sudut pandang kita.

Hal-hal yang mempengaruhi Tafkir Islami:

  1. Berdasarkan hukum islam, ada yang menerima qiyas dan ada yang tidak menerima qiyas.
  2. Ketika memahami Tafsir Quran, setiap orang berbeda dalam menafsirkan Al-Quran.
  3. Ketika memahami hadits, seluruh hadits harus dihadirkan dalam memahami bab yang dikaji. Contoh: ketika memahami hadist tentang sholat, ketika disimpulkan dengan tidak melihat hadits yang lain maka akan bisa fatal dalam memahaminya. Untuk itu, kita harus menghadirkan hadits lain di bab yang sama.

Semua cara berpikir masing-masing orang akan membentuk keputusannya, dan ini tergantung pada beberapa faktor, yaitu:

1. Latar belakang kehidupan.
Contoh: Mazhab Abu Hanifa dan Mazhab Imam Maliki, keduanya sama-sama orang taat tetapi berbeda dalam cara berpikir. Hal ini dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya.

Imam Abu Hanifa tinggal di Kuffah harus sangat berhati-hati dalam mengeluarkan pendapat sehingga kalau tidak menemukan hadits shahih akan cenderung membutuhkan qiyas. Sedangkan Imam Malik yang juga seseorang yang taat dan memgumpulkan hukum islam berdasarkan hadits shahih dilatarbelakangi posisi beliau sebagai orang Madinah. Beliau lahir di Madinah dan besar di Madinah. Pendapat keduanya bisa diterima.

2. Ilmu dan luasnya ilmu yang diterima
Seorang Ustadz yang latar belakang pendidikannya di pasantren dengan seorang ustadz yang latar belakangnya bukan pasantren akan berbeda cara pandangnya. Orang yang latar belakang pendidikannya tehnik dan orang yang berlatar belakang sosial akan berbeda cara pandang atau berpikirnya.

Orang yang paling cerdas seharus belajar ilmu filsafat yang mengatur kehidupan, belajar ilmu politik yang mengatur tentang negara dan belajar ilmu ekonomi yang mengatur keuangan masyarakat dalam suatu negara. Ilmu yang diterima seseorang akan mempengaruhi cara berpikir seseorang. Itulah mengapa belajar agama memerlukan cabang-cabang ilmu.

3. Dipengaruhi oleh karakter atau kepribadian
Cara berpikir seseorang dipengaruhi oleh karakternya. contoh: orang dengan karakter melankolis akan berbeda mereka dengan berkarakter melankolis. Orang melankolis biasanya adalah orang-orang introvert sedangkan orang sanguinis itu identik dengan sifat yang ekstrovert.

4. Pengalaman hidup dan pengalaman kerja.
Pengalaman hidup ini dipengaruhi oleh cara berpikir. contoh: orang yang lapang hidupnya dimasa kecil akan berbeda cara pikirnya dengan orang yang di masa kecilnya hidup susah.

Dengan demikian, dalam mempelajari tafkir islami ini memerlukan cara pandang yang luas berdasarkan islam untuk bisa memutuskan sesuatu dengan keputusan yang baik. Ketika kita belajar tafkir islami, kita bisa memutuskan keputusan yang baik dan tepat serta tetap dalam koridor islami.

Di Bab ini, kita bukan belajar tentang salah atau benar, tepat atau tidak tepat. Kita belajar bagaimana bisa mengambil keputusan yang benar dari sudut pandang yang luas & islami.

Isi otak seorang muslim ada 2, yaitu:

  1. Ilmu Agama (harus mengetahui agama)
  2. Ilmu pengetahuan (ilmu umum)

Bagaimana meluruskan cara berpikir yang salah dan bagaimana seharusnya berpikir yang benar?
Cara mengukur berpikir benar yaitu harus berdasarkan alat atau kalibrasi. Alat untuk mengukur cara berpikir masing-masing adalah apa yang ada di otak yaitu dengan kerendahan & kelapangan hati. Cara berpikir itu mempunyai timbangan sehingga perlu dikalibrasi (dengan mempunyai alat).

Misal, pendapat Imam Khasim: Nikahlah wanita yang kamu cintai 2 atau 3 atau 4. Maknanya kata “wa” ini “dan” atau “atau”, dan akan menjadi perdebatan karena adanya tekstual dan kontekstual.

Untuk itulah perlu alat timbangan (kalibrasi) yang salah satunya adalah Tafkir Islami. Alat yang disepakati oleh ulama yaitu ”Al Quran dan Hadits”. Contoh: Cara untuk menyelesaikan kasus baru yaitu ada di Ushul Fiqih, dan sebagainya.

wallahu a’lam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (UZ)

Comments to: KTM48. Pengantar Kuliah Tafkir Islami (2)

Your email address will not be published. Required fields are marked *