Kuliah Al-Hikam – Selasa, 19 Jumadil Awal 1444 H / 13 Desember 2022
بسم الله الرحمن الرحيم
أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
# Al-Hikam, Hikmah ke-17
“Tidaklah meninggalkan sedikitpun kebodohan yang menghendaki terjadi di dalam waktu apa selain yang Allah SWT tampakkan di dalam waktu itu”
Siapa yang hendak atau yang ingin di perjalanan (waktu ini) yang terjadi adalah selain yang Allah SWT tampakkan dan perjalankan, maka ia mengambil seluruh kebodohan dan tidak menyisakan satu pun dari kebodohan tersebut.
Hikmah dari kalimat tersebut:
- Setiap hamba Allah akan diperjalankan sebagaimana kehendakNYA. Manusia hendaknya bisa menerima keadaan di dalam alam semesta ini sebagaimana Allah SWT juga takdirkan kepada hambaNYA.
- Hal ini juga sesuai dengan ajaran (beberapa ayat) di dalam Al Quran yang mengajarkan menghadapi pluralitas atau heterogenitas di dalam ciptaan Allah SWT. Allah SWT yang menciptakan orang berbangsa-bangsa dan berbeda-beda, dan Allah SWT menyuruh manusia untuk ta’aruf, menerima bukan melakukan penolakan, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan mengajak ke jalan kebaikan.
- Hikmah ke 17 ini juga memberikan peringatan kepada manusia agar ridha dan ikhlas dengan segala keadaan yang ada di bumi ini, termasuk keadaan yang ditetapkan oleh Allah SWT kepadanya.
- Manusia hendaknya menjalankan apa yang telah Allah SWT takdirkan atas dirinya.
- Manusia hendaknya terus menerus memperbaiki diri menuju kebaikan sesuai dengan perintah Allah SWT.
- Manusia hendaknya tidak putus berdoa agar senantiasa berada dalam kebaikan.
- Manusia hendaknya dapat menerima perbedaan dan kondisi-kondisi yang perjalankan oleh Allah SWT kepada hambaNYA.
- Manusia hendaknya ridha kepada ketetapan Allah SWT pada orang lain yang berbeda-beda dan memberikan peluang kepada manusia untuk berlomba dalam kebaikan, tanpa menghilangkan niat dan semangat manusia untuk menebarkan kebaikan.
Diskusi dan tanya jawab:
1. Mohon penjelasan lebih lanjut tentang fastabikhul khoirot. Untuk kasus bilamana ada saudara yang memiliki cara berpikir yang belum tepat atau menyimpang. Maka sebaiknya sikap kita?
Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:
a. Lebih dulu berlomba menghadirkan kebaikan, terutama pada kebaikan yang dirasakan. Sehingga kita dapat menjadi contoh bagi saudara tersebut.
b. Mencoba mengajak saudara tersebut ke dalam ajaran Allah SWT dengan cara yang bijaksana dan baik.
c. Bersabar di dalam proses menuju hal tersebut.
d. Mendoakan agar Allah SWT memberikan hidayah kepada saudara tersebut.
2. Bagaimana sebaiknya bersikap kepada manusia yang berbeda agama?
Perbedaan agama adalah ketetapan Allah SWT. Dalam kehidupan sehari-hari manusia, sangat wajar bila terdapat suatu batasan dalam perbedaan tersebut. Perintah Allah SWT adalah terus dapat berbuat baik kepada umat agama lain, tidak menghina agama lain, tidak menghina Tuhan dari agama lain, berbuat adil dan boleh melakukan kerjasama dengan mereka. Semua itu dapat dilakukan selama tidak bertentangan dengan ajaran agama kita.
3. Apakah kitab Ruh yang ditulis Ibnul Qayyim dapat dijadikan rujukan?
Boleh, kitab tersebut dapat dijadikan rujukan.
4. Jika ada orang yang dalam setiap ibadahnya selalu dibarengi dengan riya, dan jika ada orang yang ibadahnya kurang namun ketika melakukan maksiat kemudian mengingat Allah SWT dan kemudian menyesali perbuatannya. Siapa diantara keduanya yang lebih baik?
Sebaiknya tidak dibandingkan antara keduanya. Kondisi yang kedua masih memiliki kebaikan. Kondisi yang ideal adalah tidak riya dalam beribadah, serta sering mengingat Allah SWT dan menyesali perbuatan jika melakukan maksiat dan kemudian beristighfar dan melakukan taubat. Jika engkau tidak dapat setaat orang yang taat, maka janganlah berbangga dengan dosa yang dilakukan, mintalah ampun jika berbuat maksiat dan kemudian bertaubatlah (berhenti melakukan maksiat tersebut).
Kesimpulan:
- Agar manusia menerima keadaan yang Allah SWT perjalankan kepada setiap hambaNYA. Tidak perlu berharap melebihi kondisi tersebut apalagi berharap dunia menjadi satu tipe atau homogen.
- Membiarkan keadaan larut dalam kemaksiatan tanpa menerima perintah Allah SWT juga merupakan kebodohan. Demikian juga memaksaan keadaan tanpa menerima perbedaan yang ada juga merupakan kebodohan. Maka jalankan perintah Allah SWT untuk mengajak orang taat kepada Allah SWT dan menjadikan dunia ini menjadi tempat orang-orang sholeh. Selebihnya Allah SWT akan menjalankan kehendakNYA sesuai dengan yang IA tetapkan.
Wallahu a’lam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (DA)
No Comments
Leave a comment Cancel