Kuliah Tafkir Islami – Kamis, 14 Jumadil Awal 1444 H / 8 Desember 2022
بسم الله الرحمن الرحيم
أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
# Pengantar
Kaidah-kaidah dalam berpikir islami:
- Kaidah umum
- Kaidah yang bersumber dari fiqih
- Kaidah yang bersumber dari Tsaqafah Islamiyah
Kaidah-kaidah umum berpikir Islami:
1.1. Kebenaran sesuai agama Islam; benar dan salah kembali ke syariah
1.2. Berpikir Islami harus sesuai dengan karakter Islam
1.3. Pemahaman Qada dan Qadar dan hubungannya dengan sebab haruslah sesuai dengan ajaran Islam yang benar
# KAIDAH UMUM KETIGA: PEMAHAMAN QADA DAN QADAR DAN HUBUNGANNYA DENGAN SEBAB HARUSLAH SESUAI DENGAN AJARAN ISLAM YANG BENAR
Pemahaman Qada dan Qadar dan hubungannya dengan sebab harus dipastikan sudah benar. Jika pemahamannya tidak tepat, maka akan sangat berpengaruh kepada cara berpikir seseorang. Kalau pemahaman Qada dan Qadar ini tidak tepat, misalkan:
- Jika terjebak pada paham jabariyah yang memahami bahwa manusia ini terbelenggu bagai terlilit dan dijatuhkan ke laut, maka sehari-harinya ia akan menjadi seseorang yang lemah dan tidak berdaya sehingga tidak berusaha, tidak berpikir dan tidak mencari solusi.
- Jika terjebak pada paham qadariyah, yakni ketika seseorang yang menentukan takdirnya, berpikir bahwa dirinya yang menentukan segalanya, maka hal ini akan membuat seseorang menjadi arogan, stres dan seterusnya.
Kaidah umum ketiga ini membingkai seluruh pemahaman ini dalam konteks as-Sunnah wal-Jamaah.
# Arsip-arsip materi terkait:
Materi ini sudah dijelaskan lebih jelas di materi Qada Qadar dan Tawakkal yang lalu sebagai berikut:
- Kajian Cabang Iman. bab Iman kepada Qada dan Qadar
- Kajian Cabang Iman, bab Tawakkal
- Kuliah Tazkiyatun Nafs, bab Tawakkal
1. Kajian Cabang Iman ke 5 – Iman Kepada Qadha dan Qadar
- Bagian 1 (20 Aug 2021):
https://youtu.be/twB7lfwPyYc - Bagian 2 (27 Aug 2021):
https://youtu.be/nuqtHRm2G1Q - Bagian 3 (03 Sep 2021):
https://youtu.be/ZgjDdXjiET0
2. Kajian Cabang Iman ke 13 – Iman Terhadap Kewajiban Tawakal Kepada Allah
- Bagian 1 (31 Dec 2021):
https://youtu.be/ya-KiLf7JJs - Bagian 2 (07 Jan 2022):
https://youtu.be/qnSLkYaNcUc
3. Kuliah Tazkiyatun Nafs – Tawakkal Kepada Allah
- Bagian 1 (09 Feb 2021):
https://youtu.be/UMZpommr9Y4 - Bagian 2 (16 Feb 2021):
https://youtu.be/6SmCDRkcp_g
# Pengambilan keputusan dalam keseharian
Setiap hari, setiap orang rata-rata mengambil sebanyak 2000 keputusan. Keputusan ini sangat terpengaruh terhadap pemahaman kita terhadap Qada Qadar dan hubungannya dengan pengambilan sebab. Dalam menjalani hidupnya, seseorang bisa memutuskan untuk stres dan tegang, namun bisa juga memutuskan untuk terus menjalani hidupnya. Ketika pemahaman Qada dan Qadar itu benar, maka hari-hari seseorang akan dijalankan dengan semangat dan penuh ketenangan.
# Hasil dari pemahaman terhadap Qada dan Qadar yang tepat dan hubungannya dengan sebab (usaha):
- Akan membentuk tindakan yang tepat
- Akan membentuk kejelian dalam memilih-milih tindakan
- Akan membentuk ketenangan jiwa dan keaktifan berpikir
1. Pemahaman yang tepat akan membentuk tindakan yang tepat
Tidak jatuh kepada ekstrimitas di kedua belah pihak, yakni ekstrimitas pemikiran lemah dan menyerah, ataupun ekstrimitas berlebihan dalam berusaha yang sampai melupakan kepasrahan kepada Allah.
2. Pemahaman yang tepat akan membentuk kejelian dalam memilih-milih tindakan
Karena adanya ketenangan kepada iman terhadap Qada dan Qadar, dan pada saat yang sama memiliki kenikmatan dalam berusaha, maka seseorang akan jeli dalam memilih-milih tindakan sehingga tidak sembarangan ataupun berlebihan. Kalau pemahaman tidak tepat, maka pilihan usahanya bisa sekenanya.
3. Pemahaman yang tepat akan membentuk ketenangan jiwa dan keaktifan berpikir
Janganlah aktif berpikir namun jiwanya kosong dan penuh tekanan. Atau sebaliknya, janganlah jiwanya penuh ketenangan namun kosong atau tidak mau berpikir. Jika terjebak di salah satunya, akan berbahaya dalam kehidupan sehari-harinya. Jiwa yang tenang namun tidak berpikir, atau sebaliknya, akan menghasilkan keputusan yang salah.
# Tiga poin dalam memahami Qada dan Qadar:
- Allah kuasa atas segala sesuatu dan segala sesuatu di alam semesta hanya terjadi atas keputusan Allah SWT.
- Allah telah menentukan dengan takdir-Nya bahwa di alam semesta ini berlaku hukum sebab akibat.
- Manusia harus benar-benar ridha dan tawakkal kepada Allah dengan cara mengambil sebab sebaik-baiknya dan sesempurna-sempurnanya.
1. Allah kuasa atas segala sesuatu dan segala sesuatu di alam semesta hanya terjadi atas keputusan Allah SWT.
Jatuhnya orang jatuh, naiknya orang naik, berkumpulnya orang yang berkumpul, jatuhnya dedaunan di malam hari, ini semua atas kuasa Allah. Pemahaman atas bab ini sangat membedakan antara orang mukmin dan orang non mukmin. Ketika seseorang paham atas hal ini, maka ia akan tetap bisa aktif sekalipun dalam situasi yang berat.
Dalilnya:
- Rahmat Allah tidak lepas atas manusia dan manusia tidak bisa lepas dari rahmat Allah
- (QS Ali Imran (3):26) Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
2. Allah telah menentukan dengan takdir-Nya bahwa di alam semesta ini berlaku hukum sebab akibat.
Dalilnya:
(QS Ar-Ra’d (13):11) Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Dengan takdirnya, Allah menetapkan dengan hukum sebab akibat di alam semesta bahwa manusia punya kendali atas hidup mereka sendiri.
_3. Manusia harus benar-benar ridha dan tawakkal kepada Allah dengan cara mengambil sebab sebaik-baiknya dan sesempurna-sempurnanya.
Kita ridha atas keputusan Allah dan bertawakkal kepada Allah. Pada saat yang sama, kita juga mengambil sebab (berusaha) sesempurna-sempurnanya. tawakkal terletak di hati dan usaha terletak di anggota tubuh yang lain seperti tangan dan kaki. Manusia berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan yang tersedia baginya.
Tawakkal bermakna menyerahkan urusan kepada Allah dan berusaha semaksimal mungkin. Ada kesungguhan bersamaan dengan kepasrahan dan keridhaan.
Syarat disebut tawakkal:
- Taqwid, menyerahkan urusan kepada Allah
- Tasabbub, mengambil sebab
Kesalahan berpikir yang sangat fatal adalah mengambil wilayah yang bukan wilayah seseorang. Allah memberikan ruang berusaha yang jelas dan usaha seseorang ini akan sangat dihargai oleh Allah.
Dalil:
(QS An-Nisaa (4):32) Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Allah memberikan penghargaan yang tinggi atas yang sudah manusia usahakan. Penghargaan ini terletak di level hasil (di dunia) dan juga di level pahala (di akhirat). Di konteks ini, seseorang akan menikmati setiap usaha karena akan mendapatkan hasil di dunia dan juga mendapatkan pahala di akhirat.
# Pertanyaan umum dalam memahami Qada dan Qadar:
- Bagaimana hubungan antara sebab dan hasil?
- Kapan seseorang harus berusaha dan kapan harus ridha?
- Kapan harus bertawakkal?
- Dimanakah letaknya doa?
- Kalau usaha-usaha ini tidak mendatangkan hasil, bagaimana sikap kita?
1. Hubungan sebab dengan hasil
Sebab (berusaha) itu tidak menentukan hasil, namun sebab itu insya Allah akan dihargai dengan hasil. Yang menentukan hasil itu adalah Allah. Kita sering menemui suatu usaha yang sama bisa mendatangkan hasil yang berbeda. Allah tidak mendzalimi hamba-Nya dan Allah tidak menciderai janji-Nya. Oleh karena itu, letakkanlah usaha sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Sebagaimana kita taat mengikuti perintah shalat, maka kita juga taat atas perintah untuk mengambil sebab.
2. Bilamana seseorang harus ridha?
Kita harus ridha sejak awal, termasuk terhadap usaha yang baru bisa kita kerjakan. Contoh, seseorang yang baru menikah dan baru mendapatkan pekerjaan setahun yang lalu, maka ia ridha atas hasil yang sudah ia dapat sejauh ini. Ridha pada proses, terus memperbaiki proses dan ridha pada hasil akan mendatangkan ketenangan kepada seseorang.
3. Bilamana seseorang harus tawakkal?
Kita harus bertawakkal sepanjang saat.
4. Dimanakah letaknya doa?
Doa adalah bagian dari usaha. Yang ada adalah usaha dan hasil. Usaha yang paling baik adalah berdoa maka perbanyaklah berdoa. Setiap mukmin itu memiliki usaha dalam bentuk doa. Sedikit-dikit kita berdoa karena doa adalah kunci.
5. Kalau usaha-usaha ini tidak mendatangkan hasil, bagaimana sikap kita?
Ridhalah dan perbaikilah. Jangan jatuh ke sisi ekstrim, yakni tidak ridha dan pasrah. Kita ridha atas yang sudah terjadi. Hal ini akan membentuk pribadi yang luar biasa sampai mendatangkan ketenangan.
Jenis kesedihan:
- Kesedihan basyari (manusiawi); misal saat ditinggal anggota keluarga, maka hal ini diperkenankan karena kesedihan jenis ini adalah bagian dari sisi kemanusiaan kita
- Kesedihan di level aqidah;
Jenis-jenis usaha:
- Usaha yang bersifat langit/transenden; misal berdoa, berdzikir
- Usaha yang bersifat aqli/akal/logika; misal belajar, bekerja, mencari jodoh, berhemat; setiap saat menambah usaha, meningkatkan kualitas usaha, terus memperbaiki
wallahu a’lam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (AA)
No Comments
Leave a comment Cancel