Kuliah Tazkiyatun Nafs – Selasa, 16 Syawal 1443H / 17 Mei 2022
بسم الله الرحمن الرحيم
أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
𝐀𝐋-𝐌𝐔𝐇𝐀𝐈𝐌𝐈𝐍
Sifat asmaul husna ini disebutkan dalam surah Al-hasr ayat 23
هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ
الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ – ٢٣
𝑫𝒊𝒂𝒍𝒂𝒉 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒂𝒅𝒂 𝑻𝒖𝒉𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒊𝒏 𝑫𝒊𝒂, (𝑫𝒊𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌𝒊 𝒔𝒊𝒇𝒂𝒕) 𝒂𝒍-𝑴𝒂𝒍𝒊𝒌, 𝒂𝒍-𝑸𝒖𝒅𝒅𝒖𝒔, 𝒂𝒔-𝑺𝒂𝒍𝒂𝒎, 𝒂𝒍-𝑴𝒖’𝒎𝒊𝒏, 𝒂𝒍-𝑴𝒖𝒉𝒂𝒊𝒎𝒊𝒏, 𝒂𝒍-𝑨𝒛𝒊𝒛, 𝒂𝒍-𝑱𝒂𝒃𝒃𝒂𝒓, 𝒂𝒍-𝑴𝒖𝒕𝒂𝒌𝒂𝒃𝒃𝒊𝒓; 𝑴𝒂𝒉𝒂 𝑺𝒖𝒄𝒊 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒔𝒆𝒈𝒂𝒍𝒂 𝒂𝒑𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒔𝒆𝒌𝒖𝒕𝒖𝒌𝒂𝒏” (𝑸𝒔 𝒂𝒍-𝑯𝒂𝒔𝒉𝒓: 23).
Al-Muhaimin berasal dari kata haimana yang berarti maha mengendalikan , mengandung 3 (tiga) hal yaitu:
- 𝘋𝘪𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯
- 𝘋𝘪𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘶𝘩𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘯𝘺𝘢
- 𝘋𝘪𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘶𝘩𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘶𝘴
Hasil dari kandungan 3 makna diatas maka haimana diartikan sebagai Maha Mengendalikan
Pelajaran dari sifat Al-Muhaimin:
- Karena Allah yang maha mengendalikan, maka setiap hamba harus baik, tenang, taat, ridho karena semuanya sudah dikendalikan atas kuasa Allah sehingga pilihannya menerima atas semua ketetapan Allah
𝑫𝒂𝒍𝒂𝒎 𝑯𝒂𝒅𝒊𝒔𝒕 𝑸𝒖𝒅𝒔𝒊 𝒅𝒊𝒔𝒆𝒃𝒖𝒕𝒌𝒂𝒏 : “𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒖𝒏𝒚𝒂𝒊 𝒌𝒆𝒉𝒆𝒏𝒅𝒂𝒌 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒉𝒂𝒎𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒎𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒋𝒖𝒈𝒂 𝒑𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒆𝒎𝒂𝒖𝒂𝒏, 𝒌𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒉𝒂𝒎𝒃𝒂 𝒓𝒊𝒅𝒉𝒐 𝒂𝒕𝒂𝒔 𝒌𝒆𝒉𝒆𝒏𝒅𝒂𝒌 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒂𝒌𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒄𝒖𝒌𝒖𝒑𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒏𝒖𝒉𝒊 𝒂𝒑𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒉𝒂𝒎𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒂𝒖, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒋𝒊𝒌𝒂 𝒉𝒂𝒎𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒓𝒊𝒅𝒉𝒐 𝒎𝒂𝒌𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒄𝒂𝒑𝒆𝒌𝒌𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒎𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒋𝒂𝒓 𝒂𝒑𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒌𝒆𝒉𝒆𝒏𝒅𝒂𝒌𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝒕𝒆𝒏𝒕𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂”
Dari hadist diatas disimpulkan karena Allah yang maha mengendalikan kita maka seorang hamba seharusnya mempunyai sifat tafwidh, taslim, tawakkal, qonaah, syukur, sabar dan ridho atas semua ketetapan yang diberikan.
- Seorang muslim harus memenangkan kebenaran dengan cara bisa mengendalikan apa yang harus dikendalikan, seorang mukmin tidak boleh banyak yang diluar control, karena kebenaran ini tidak akan tegak kepada orang yang tidak mampu mengendalikan dan kebeneran ini hanya akan tegak ditangan orang yang kuat sebagaimana Rasulullah mengajarkan tentang kekuatan-kekuatan dimana Nabi mengendalikan banyak hal walaupun ada sebagian yang tidak dikendalikan tapi itu ada dibawah naungan Allah, tentu dalam hal ini kita bukan berkuasa tetapi kita mengambil peran atas apa yang Allah izinkan itulah yang disebut sebagai “LEADERSHIP (Kepemimpinan)”
Dalam konteks sifat Al-Muhaimin maka untuk mengendalikan diperlukan hal berikut :
- Kenali kebutuhannya (bisa dalam konteks apapun baik itu masyarakat, keluarga, politik, bisnis dll) dengan menggunakan data akurat baik itu melalui observasi, survei atau data sekunder.
- Punya cara yang baik agar apa yang dibutuhkan sampai kepada yang membutuhkan
- Memenuhinya dalam waktu lama dan dalam keadaan cukup
Oleh karena itu kita wajib sadar sebagai hamba yang tahu diri tidak punya kuasa atas segala sesuatu sehingga harus bersifat qanaah, syukur, sabar, takwa.
𝐏𝐄𝐑𝐓𝐀𝐍𝐘𝐀𝐀𝐍
Berkaitan dengan sifat Allah Al-Muhaimin kaitannya dengan leadership, apakah dengan kita mengetahui kebutuhan dan kehendak anak buah/bawahan apakah sifat muhaimin bisa dikatakan seperti itu?
Pertama, harus disadari untuk menghindari kata seperti Allah, tapi selalu menggunakan belajar dari Rabb kita. Jadi aplikasi untuk pendekatan terhadap sifat Allah. Dalam leadership, kita bisa mencontoh Rasulullah ataupun sahabat Nabi seperti Abu bakar, Umar bin Khatab dan sahabat yang lainnya karena mereka memang disebutkan sebagai ahli Jannah karena leadership itu adalah tanggung jawab maka untuk menjadi leader itu harus mampu mengendalikan dengan cara tahu kebutuhannya, punya cara menyampaikan kebutuhan tersebut dan memenuhi kebutuhan tersebut secara terus menerus.
Kita punya takdir yang sudah tertulis di lauh mahfudz, bisa tidak kita mengubah takdir dengan berdoa dengan nama Al-Muhaimin?
Memang benar semua takdir sudah tercatat, dan Allah juga menjanjikan perubahan takdir sesuai dengan kehendaknya, maka kewajiban kita berusaha baik agar mendapatkan hasil yang baik, pasrah kepada Allah, ridho terhadap ketetapan Allah, kita mencoba belajar, syukur, sebagaimana Rasulullah mempelajari dan meniru sifat-sifat Allah
Bagaimana cara menghindari mengkonsumsi dari uang haram yg dimiliki keluarga dekat misalnya, jika kita bersilaturahim kerumahnya dan disuguhi makanan?
Kalau kita memang tahu itu makanannya berasal dari uang haram, maka kita wajib menghindarinya bisa dengan silaturahim kerumahnya ketika kita lagi berpuasa sehingga kita tidak makan dan minum apa yang disuguhkan, tetapi kalau kita tidak tahu detail sumber makanannya dari uang halal atau haram maka tidak perlu ada keraguan untuk memakannya karena hukum asalnya adalah halal sampai ada kriteria yang mengharamkannya.
Bagaimana hukumnya ustadz, kita niat berbuat baik untuk orang dengan memberikan sesuatu untuk dipergunakan untuk hal2 yang baik, tetapi dalam perjalanan, kenyataannya apa yang kita berikan tersebut tidak dipergunakan seluruhnya untuk hal yang baik tetapi digunakan juga sesuatu hal yang mungkar. apakah kita termasuk mendapatkan dosa juga ?
Kalau kita sudah tahu dari awal maka berarti kita menanggung dosanya karena sudah dianggap mendukung kemungkaran maka dalam konteks ini boleh kita membatalkan tetapi kalau diawal kita tidak tahu maka kita tidak berdosa
Wallahu a’lam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (MS)
No Comments
Leave a comment Cancel