1. Arsip Kajian Tafsir QS Al-Furqan (R43P)

R43P07. Kajian Tafsir QS Al-Furqan ayat 17-19

Kajian Ramadhan 1443H/2022 MFH – Selasa pagi, 10 Ramadhan 1443 H / 12 April 2022

‎بسم الله الرحمن الرحيم
‎أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
‎وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

𝐓𝐀𝐅𝐒𝐈𝐑 𝐀𝐥-𝐅𝐔𝐑𝐐𝐀𝐍 𝐀𝐘𝐀𝐓 𝟏𝟕, 𝟏𝟖 𝐝𝐚𝐧 𝟏𝟗

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ وَمَا يَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَقُوْلُ ءَاَنْتُمْ اَضْلَلْتُمْ عِبَادِيْ هٰٓؤُلَاۤءِ اَمْ هُمْ ضَلُّوا السَّبِيْلَ ۗ – ١٧
𝙳𝚊𝚗 (𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝𝚕𝚊𝚑) 𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚑𝚊𝚛𝚒 (𝚔𝚎𝚝𝚒𝚔𝚊) 𝙰𝚕𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚞𝚖𝚙𝚞𝚕𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚊 𝚊𝚙𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚜𝚎𝚖𝚋𝚊𝚑 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚒𝚗 𝙰𝚕𝚕𝚊𝚑, 𝚕𝚊𝚕𝚞 𝙳𝚒𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚏𝚒𝚛𝚖𝚊𝚗 (𝚔𝚎𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚒𝚜𝚎𝚖𝚋𝚊𝚑), “𝙰𝚙𝚊𝚔𝚊𝚑 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚜𝚊𝚝𝚔𝚊𝚗 𝚑𝚊𝚖𝚋𝚊-𝚑𝚊𝚖𝚋𝚊-𝙺𝚞 𝚒𝚝𝚞, 𝚊𝚝𝚊𝚞 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚜𝚎𝚗𝚍𝚒𝚛𝚒𝚔𝚊𝚑 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚜𝚎𝚜𝚊𝚝 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚓𝚊𝚕𝚊𝚗 (𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚎𝚗𝚊𝚛)?

قَالُوْا سُبْحٰنَكَ مَا كَانَ يَنْۢبَغِيْ لَنَآ اَنْ نَّتَّخِذَ مِنْ دُوْنِكَ مِنْ اَوْلِيَاۤءَ وَلٰكِنْ مَّتَّعْتَهُمْ وَاٰبَاۤءَهُمْ حَتّٰى نَسُوا الذِّكْرَۚ وَكَانُوْا قَوْمًاۢ بُوْرًا – ١٨
𝙼𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 (𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚒𝚜𝚎𝚖𝚋𝚊𝚑 𝚒𝚝𝚞) 𝚖𝚎𝚗𝚓𝚊𝚠𝚊𝚋, “𝙼𝚊𝚑𝚊𝚜𝚞𝚌𝚒 𝙴𝚗𝚐𝚔𝚊𝚞, 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔𝚕𝚊𝚑 𝚙𝚊𝚗𝚝𝚊𝚜 𝚋𝚊𝚐𝚒 𝚔𝚊𝚖𝚒 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚊𝚖𝚋𝚒𝚕 𝚙𝚎𝚕𝚒𝚗𝚍𝚞𝚗𝚐 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚒𝚗 𝙴𝚗𝚐𝚔𝚊𝚞, 𝚝𝚎𝚝𝚊𝚙𝚒 𝙴𝚗𝚐𝚔𝚊𝚞 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛𝚒 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚍𝚊𝚗 𝚗𝚎𝚗𝚎𝚔 𝚖𝚘𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚔𝚎𝚗𝚒𝚔𝚖𝚊𝚝𝚊𝚗 𝚑𝚒𝚍𝚞𝚙, 𝚜𝚎𝚑𝚒𝚗𝚐𝚐𝚊 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚖𝚎𝚕𝚞𝚙𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚙𝚎𝚛𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝𝚊𝚗; 𝚍𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚔𝚊𝚞𝚖 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚒𝚗𝚊𝚜𝚊.”

فَقَدْ كَذَّبُوْكُمْ بِمَا تَقُوْلُوْنَۙ فَمَا تَسْتَطِيْعُوْنَ صَرْفًا وَّلَا نَصْرًاۚ وَمَنْ يَّظْلِمْ مِّنْكُمْ نُذِقْهُ عَذَابًا كَبِيْرًا – ١٩
𝙼𝚊𝚔𝚊 𝚜𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞𝚑, 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 (𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚒𝚜𝚎𝚖𝚋𝚊𝚑 𝚒𝚝𝚞) 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚒𝚗𝚐𝚔𝚊𝚛𝚒 𝚊𝚙𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚔𝚊𝚗, 𝚖𝚊𝚔𝚊 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚙𝚊𝚝 𝚖𝚎𝚗𝚘𝚕𝚊𝚔 (𝚊𝚣𝚊𝚋) 𝚍𝚊𝚗 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚍𝚊𝚙𝚊𝚝 (𝚙𝚞𝚕𝚊) 𝚖𝚎𝚗𝚘𝚕𝚘𝚗𝚐 (𝚍𝚒𝚛𝚒𝚖𝚞), 𝚍𝚊𝚗 𝚋𝚊𝚛𝚊𝚗𝚐𝚜𝚒𝚊𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚊𝚗𝚝𝚊𝚛𝚊 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚋𝚎𝚛𝚋𝚞𝚊𝚝 𝚣𝚊𝚕𝚒𝚖, 𝚗𝚒𝚜𝚌𝚊𝚢𝚊 𝙺𝚊𝚖𝚒 𝚝𝚒𝚖𝚙𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚙𝚊𝚍𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚛𝚊𝚜𝚊 𝚊𝚣𝚊𝚋 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚎𝚜𝚊𝚛.

Allah dalam hal ini menceritakan peristiwa yang terjadi di hari kiamat menyangkut kecaman yang ditujukan terhadap orang-orang kafir karena mereka menyembah selain Allah, seperti pohon, syaitan, patung-patung berhala dan lain-lainnya, dimana mereka yang menyembah dan yang disembah akan cuci tangan dan mengingkari apa yang mereka saling tuduhkan.

Makna wali dalam ayat tersebut diatas yaitu yang dekat penuh cinta, yang ditaati atau yang dihormati, sehingga walinya orang mukmin yaitu Allah, Rasul dan kita wala terhadap orang mukmin itu sendiri. Yang dimaksud dengan wala’ di sini adalah dekat kepada kaum muslimin dengan mencintai mereka, membantu dan menolong mereka dimana ada ta’awun disitu yakni saling tolong menolong dalam hal kebaikan, sebagaimana ada dalam surah Al-maidah ayat:2

𝑨𝒓𝒕𝒊𝒏𝒚𝒂: 𝑫𝒂𝒏 𝒕𝒐𝒍𝒐𝒏𝒈-𝒎𝒆𝒏𝒐𝒍𝒐𝒏𝒈𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 (𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒓𝒋𝒂𝒌𝒂𝒏) 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒋𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒕𝒂𝒌𝒘𝒂, 𝒅𝒂𝒏 𝒋𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒕𝒐𝒍𝒐𝒏𝒈-𝒎𝒆𝒏𝒐𝒍𝒐𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒃𝒆𝒓𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒅𝒐𝒔𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒍𝒂𝒏𝒈𝒈𝒂𝒓𝒂𝒏. 𝑫𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒂𝒌𝒘𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉, 𝒔𝒆𝒔𝒖𝒏𝒈𝒈𝒖𝒉𝒏𝒚𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒎𝒂𝒕 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒕 𝒔𝒊𝒌𝒔𝒂-𝑵𝒚𝒂.” (𝑨𝒍 𝑸𝒖𝒓𝒂𝒏 𝒔𝒖𝒓𝒂𝒉 𝑨𝒍-𝑴𝒂𝒊𝒅𝒂𝒉 𝒂𝒚𝒂𝒕 2)

Dalam konsep punya koneksi kepada kita diluar kerabat ada 3 yaitu sahabat dekat, teman (Zamil) dan kenalan. Yang wajib kita jadikan wala adalah sahabat dekat yang saleh. Sedangkan yang lain teman atau kenalan yang non muslim atau kafir kita bisa sebut Al-Bara yaitu melepas diri tidak ada ikatan untuk dijadikan sahabat dekat dengan orang kafir tapi tetap bisa melakukan muamalah yang lain.

Kebenaran dan kebathilan itu nyata adanya tetapi orang yang tidak menerima kebenaran karena hatinya sudah tertutup. Cara menerima kebenaran agar hati tidak tertutup yaitu

  1. Butuh informasi atau ilmu yang akurat
  2. Berfikir yang baik
  3. Punya hati yang bersih
    Ketika orang percaya selain Allah, dan mulai menggunakan metode menerima kebenaran maka akan menyesal karena dia bukan siapa-siapa sesungguhnya, Sehingga Ketika Nabi turun untuk menolong orang lemah dari kezaliman. Orang lemah tersebut merasa mendapatkan kebahagiaan karena mereka mendapatkan perlindungan dan mendapatkan bimbingan yang baik dan benar. Pada saat ini dengan tidak adanya Nabi lagi, Allah telah menjamin Al-Qur’an sebagai pedoman atau petunjuk agar tidak keluar dari koridor kebenaran dan jauh dari kbathilan dan juga ada hadis Nabi yang menebutkan bahwa
    “𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪, 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘳𝘶𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘢𝘨𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢” (𝘏𝘙 𝘈𝘣𝘶 𝘋𝘢𝘸𝘶𝘥)”
    Selanjutnya kata zalim dalam ayat diatas secara bahasa adalah rusak, secara istilah menempatkan sesuatu diluar tempatnya, sehingga tidak zalim artinya tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Konsep agama itu pas dibatas, kata zalim mencakup semua yang diluar batas. yaitu kufur atau mempersekutukan Allah
𝗣𝗘𝗟𝗔𝗝𝗔𝗥𝗔𝗡
  1. 𝑵𝒂𝒏𝒕𝒊 𝒅𝒊𝒂𝒌𝒉𝒊𝒓𝒂𝒕 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒔𝒆𝒎𝒃𝒂𝒉 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒉𝒂𝒅𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒎𝒃𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒔𝒂𝒍𝒊𝒏𝒈 𝒄𝒖𝒄𝒊 𝒕𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒌𝒖𝒊 𝒔𝒂𝒕𝒖 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒍𝒂𝒊𝒏, 𝒔𝒆𝒉𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒏𝒈-𝒎𝒂𝒔𝒊𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒛𝒂𝒃 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒃𝒂𝒍𝒂𝒔𝒂𝒏
  2. 𝒀𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒔𝒆𝒎𝒃𝒂𝒉 𝒊𝒕𝒖 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒆𝒓𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒏𝒋𝒆𝒍𝒂𝒔𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒏𝒂𝒑𝒂 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒎𝒃𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒓𝒑𝒂𝒍𝒊𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒌𝒊𝒏𝒈 𝒍𝒂𝒎𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒘𝒂𝒌𝒕𝒖 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒋𝒆𝒅𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒑𝒂𝒓𝒂 𝑵𝒂𝒃𝒊 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎𝒏𝒚𝒂, 𝒔𝒆𝒉𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒑𝒆𝒍𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓𝒂𝒏 𝒊𝒕𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒈𝒆𝒔𝒆𝒓 𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒑𝒆𝒏𝒈𝒆𝒄𝒖𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒌𝒂𝒖𝒎 𝒎𝒖𝒔𝒍𝒊𝒎𝒊𝒏 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒌𝒊𝒕𝒂𝒃 𝑨𝒍-𝑸𝒖𝒓’𝒂𝒏 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒅𝒊𝒋𝒂𝒎𝒊𝒏 𝒐𝒍𝒆𝒉 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒏 𝒂𝒕𝒂𝒔 𝒑𝒆𝒓𝒕𝒐𝒍𝒐𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉, 𝒅𝒂𝒏 𝒂𝒍𝒂𝒔𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒏𝒋𝒖𝒕𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒅𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒆𝒔𝒆𝒏𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒌𝒆𝒔𝒆𝒏𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒊𝒕𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒖𝒉𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒎𝒆𝒍𝒂𝒍𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓
  3. 𝑶𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒖𝒌𝒎𝒊𝒏 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒖𝒏𝒚𝒂𝒊 𝒘𝒂𝒍𝒊 𝒚𝒂𝒊𝒕𝒖 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉, 𝑹𝒂𝒔𝒖𝒍 𝒅𝒂𝒏 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒖𝒌𝒎𝒊𝒏 𝒊𝒕𝒖 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊 𝒂𝒈𝒂𝒓 𝒕𝒆𝒓𝒉𝒊𝒏𝒅𝒂𝒓 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒆𝒌𝒖𝒇𝒖𝒓𝒂𝒏 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒌𝒖𝒕𝒖𝒌𝒂𝒏 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉
  4. 𝑩𝒆𝒓𝒕𝒆𝒎𝒂𝒏 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒔𝒊𝒂𝒑𝒂𝒑𝒖𝒏 𝒃𝒐𝒍𝒆𝒉 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒉𝒂𝒃𝒂𝒕 𝒅𝒆𝒌𝒂𝒕 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒎𝒆𝒎𝒊𝒍𝒊𝒉 𝒚𝒂𝒊𝒕𝒖 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒂𝒍𝒆𝒉 𝒅𝒆𝒌𝒂𝒕 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒈𝒂𝒓 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒕𝒆𝒓𝒉𝒊𝒏𝒅𝒂𝒓 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒆𝒌𝒖𝒇𝒖𝒓𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒊𝒏𝒈𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒌𝒆𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓
  5. 𝑲𝒖𝒇𝒖𝒓 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒑𝒖𝒏𝒄𝒂𝒌 𝒛𝒂𝒍𝒊𝒎 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒑𝒂𝒍𝒊𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒔𝒂𝒓 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒌𝒖𝒕𝒖𝒌𝒂𝒏 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒘𝒂𝒍𝒂𝒖𝒑𝒖𝒏 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂 𝒃𝒆𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒌𝒆𝒛𝒂𝒍𝒊𝒎𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒂𝒊𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒉𝒂𝒑𝒖𝒔𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒉𝒊𝒏𝒅𝒂𝒓𝒊
𝗣𝗘𝗥𝗧𝗔𝗡𝗬𝗔𝗔𝗡

Lingkungan tinggal banyak non muslim, bagaimana bermuamalah dengan non muslim dimana ada group chat ibu-ibu dalam keseharian yang membahas makanan sehingga terkadang ada timbul rasa kesal?
Seharusnya keduanya saling menghormati walaupun secara teknis tidak ada, dilakukan pandai berdialog, bersikap biasa saja kalau memang disitu mayoritas non muslim, bijaksana dalam membuka group chat

Perbedaan hati yang tenang dan hati yang kosong?
Istilah saja dalam Bahasa, tidak ada istilah yang kosong yang benar adalah istilah yang lalai atau lupa dari Allah, biasanya tidak zikir karena memikirkan yang lain diluar konteks

Mengapa ” orang indonesia” yang lulusan dari univ madinah ada yg tetap bermadzhab syafii dan ada jg yg bermadzhab hambali/ Salafy?
Kembali kepada masing-masing orang sepanjang masih dalam koridor Qur’an dan Sunnah dan seharusnya menjadi khasanah wawasan ilmu yang menjadi bijaksana. Tetapi kalau punya visi untuk persatuan seharusnya tidak akan menjadi suatu masalah yang besar

Tadi disebut zalim adalah membuat aturan di luar batas? Ada pekerjaan yg aturannya sangat memberatkan, sudah pakai sistem lalu tetap manual dan aturan berganti2. Semua yg terkait kerja sama, tidak nyaman tetapi tidak bisa menolak. Memang yg membuat aturan orang yg bukan bidangnya. Apakah itu dholim atau bagaimana?
Dilihat aturan baku yang disepakati baru bisa dikatakan zalim kalau ada yang dikerjakan diluar aturan baku yang telah disepakati tadi. Kalau ada peraturan yang berganti-ganti karena menyesuaikan perkembangan maka itu tidak bisa dikatakan zalim

Ada yang mix 4 mahzab itu bagaimana penjelasannya ustadz?
Campur karena proses tarjih (“Menguatkan salah satu dalil atas lainnya agar dapat diketahui mana dalil yang lebih kuat untuk diamalkan dan menggugurkan dalil lainnya) maka ini dibolehkan. Paling aman bagi orang awam adalah pegang satu mazhab yang diyakini agar lebih aman dan nyaman dalam beragama.

Bagaimana cara menghadapi pemimpin yang zalim? apakah boleh mendoakan keburukan? dan bagaimana cara bersabar menhadapinya
Nasihat Rasulullah, tunaikan hak dan kewajiban yang dilakukan, ambil peran untuk perubahan dengan langsung ketemu dengan pemipin utamanya agar bisa berdialog dan tentunya dengan mengukur diri, atau bisa juga melalui dari bawah atau levelling, memberikan solusi dengan doa agar mendapatkan hidayah, pilihan terakhir adalah mendoakan kehancuran.

Kita ini kan manusia kadang tidak tahu, yang zalim itu seperti apa karena terkadang kita menilai sesuatu menurut sudut pandang kita sendiri?
Ilmu menjadi penting agar kita mendapatkan informasi yang benar tentang zalim itu sendiri, melihat faktanya diukur dengan ilmu, intinya kezaliman harus dihilangkan atau menyingkir dari kezaliman seperti kisah ashabul kahfi, berdoa agar kita terhindar dari kezaliman.

wallahu Alam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (MS)

Comments to: R43P07. Kajian Tafsir QS Al-Furqan ayat 17-19

Your email address will not be published. Required fields are marked *