1. Arsip Kajian Tafsir QS Al-Furqan (R43P)

R43P13. Kajian Tafsir QS Al-Furqan ayat 61-64

Kajian Ramadhan 1443H/2022 MFH – Rabu pagi, 18 Ramadhan 1443 H / 20 April 2022

بسم الله الرحمن الرحيم
‎أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
‎وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

TAFSIR AL-QUR’AN SURAT AL-FURQAN 61-64

Ayat 61 keatas mulai berbicara tentang ubudiyah, ibadah dan akhlak.

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا ﴿ ٦١﴾
[25:61] Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا ﴿ ٦٢﴾
[25:62] Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ﴿ ٦٣﴾
[25:63] Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا ﴿ ٦٤﴾
[25:64] Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.

Tabarakka = Maha Suci, Maha Agung, Maha Besar.
Buruj = Bintang-bintang.
BUrujan = kumpulan bintang-bintang besar.
Sinar = sumber pertama kali
Cahaya = pantulan sinar

Allah menciptakan gugusan bintang-bintang di langit yang semakin kesini seharusnya orang semakin beriman kepada Allah karena pengetahuan manusia sudah semakin membuka tabir rahasia langit. Allah menyebutkan makhluk-Nya sebagai tabarakka karena gugusan bintang-bintang ini sangat berpengaruh kepada kehidupan manusia.

Bintang-bintang adalah penjaga dari serobotan setan yang mencari suara keputusan. Salah satu tanda Lailatul Qadar dari hadits yang hasan adalah tidak adanya bintang yang sedang melempar setan. Malam itu tenang karena tidak ada setan yang naik ke atas. Bintang adalah penjaga agar setan tidak berkesempatan mendengar keputusan Allah. Setan masih diberi kesempatan untuk sedikit mendengarkan salah satunya sebagai ujian bagi manusia.

Allah menjadikan malam dan siang itu berbeda dan bergantian. Siang punya karakternya sendiri dan juga malam punya karakternya sendiri. Di waktu siang, ada sejumlah besar makhluk Allah yang bergerak dengan ritme yang saling mendukung. Di waktu malam, ada sejumlah besar makhluk Allah yang juga bergerak dengan ritme yang lain. Di waktu siang, matahari berada di timur paling selatan dan timur paling utara, dan inilah yang menyebabkan musim panas dan musim dingin.

Di waktu malam kita diperintahkan untuk beristirahat karena organ-organ tubuh kita juga beristirahat di waktu tersebut. Yang paling baik memang hidup sesuai dengan ajaran Allah. Stres itu bisa menyebabkan kanker. Bukankah sedari dulu kita disuruh untuk percaya Qada Qadar, bersyukur dan qanaah? Ini yang sebenarnya bisa menjauhi stres. Keadaan yang paling sulit disabari untuk menjadi normal, keadaan yang paling baik disyukuri untuk menjadi indah.

Gugusan bintang ada di malam hari. Adanya bulan yang juga berperan vital dalam perhitungan hari. Kemudian Allah juga sebutkan bahwa malam dan siang itu dipergantikan. Kalau malam pergi, siang datang. Kalau siang pergi, malam datang. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa salah satu hikmah pergantian malam dan siang ini adalah agar barangsiapa yang ketinggalan amal di siang hari maka ia susul di malam hari, dan sebaliknya. Barang siapa yang melakukan dosa di malam hari, maka bertaubatlah di siang harinya, dan sebaliknya.

Siang dan malam punya karakternya. Ada yang tertidur di malam hari atau yang terlalu sibuk di siang hari, maka ia menyempurnakannya di siang atau malam yang mengikutinya. Allah jadikan pergantian siang dan malam itu bagi mereka yang mau mengingat dan bersyukur. Malam itu memiliki peluang untuk lebih bersyukur dan mengingat Allah. Siang hari itu memiliki peluang untuk memperbaiki kehidupannya.

Untuk bisa bangkit, ada ratusan sendi yang terlibat. Satu sendi tidak terlibat, maka kita tidak akan bisa bangkit. Agama mengatakan bahwa kotoran dalam tubuh itu adalah penyakit sehingga harus dikeluarkan lewat BAK atau BAB. Proses detoksisasi itu dilakukan di ujung malam atau di awal siang (pagi hari). Kita mengawali dan mengakhiri kehidupan dengan bersih dan baik. Untuk mengeluarkan kotoran dari badan supaya jadi itu butuh pergerakan dari banyak anggota tubuh.

Kalau kita detailkan, di siang hari itu ada sekian banyak makhluk Allah yang bergerak di awal siang. Ketika mereka mengalami ketidakadilan, maka akan bisa terjadi guncangan di kehidupannya. Tidur terlalu larut akan menimbulkan keburukan ada badannya. Oleh karena itu, kita perlu hidup sesuai syariat untuk bisa memiliki hidup yang baik.

Bagi yang tidak mau mengingat dan bersyukur, maka baginya tidak ada istimewanya gugusan bintang, bulan dan matahari. Satu ayat bagi hati yang mau menangkap itu bisa menjadikan dirinya bisa mengingat dan bersyukur. Ribuan ayat bagi hati yang tidak mau menangkap itu tidak mendatangkan apa pun. Kalau tidak bersyukur, maka manusia betul-betul tidak tahu diri. Inilah yang disebut kufur.

Seseorang yang rendah hati itu berjalan tenang dan penuh wibawa. Rasul berjalan tenang namun agak cepat seperti saat menuruni bukit. Tapi tidak pula berjalan dengan sombong, congkak atau riya. Profilnya tenang. Allah sebutkan profil hamba-Nya yang mulia ini dari hal yang sederhana. Pada saat itu, jalannya orang kafir adalah congkak dan begitu pula dengan ucapannya. Salah satu profilnya adalah mengangkat kepala dan geleng-geleng kepala.

Salama mengandung arti damai sejahtera. Variabel yang membuat kita tidak terpovokasi adalah level mental kita. Kalau kita level mental penonton, maka gampang terprovokasi. Tugas kaum muslimin adalah memenangkan agenda kita dan jangan sampai terprovokasi dan ikut agenda orang lain.

Sifat Ibadurrahan:

  1. Rendah hati
  2. Tidak mudah terprovokasi dan membalas keburukan dengan kebaikan
  3. Suka sujud di malam hari dan memiliki waktu sendrian dengan Allah
  4. Visi hidup akhirat

Ulama membagi waktu menjadi:

  1. waktu sendiri dengan Rabb (sepertiga malam)
  2. waktu bersama orang sholeh (sore)
  3. waktu mencari penghidupan (dhuha)
  4. waktu mengistirahatkan badan (awal malam)

wallahu Alam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (AA/RR)

Comments to: R43P13. Kajian Tafsir QS Al-Furqan ayat 61-64

Your email address will not be published. Required fields are marked *