Kajian Ramadhan 1443H/2022 MFH – Selasa pagi, 24 Ramadhan 1443 H / 26 April 2022
بسم الله الرحمن الرحيم
أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
𝐓𝐀𝐅𝐒𝐈𝐑 𝐒𝐔𝐑𝐀𝐇 𝐀𝐋-𝐅𝐔𝐑𝐐𝐀𝐍 𝐀𝐘𝐀𝐓 𝟕𝟑-𝟕𝟒
وَالَّذِيْنَ اِذَا ذُكِّرُوْا بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوْا عَلَيْهَا صُمًّا وَّعُمْيَانًا – ٧٣
𝗱𝗮𝗻 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗽𝗮𝗯𝗶𝗹𝗮 𝗱𝗶𝗯𝗲𝗿𝗶 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗮𝘆𝗮𝘁-𝗮𝘆𝗮𝘁 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮, 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗶𝗸𝗮𝗽 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝘂𝗹𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝘂𝘁𝗮,
Ayat ini merupakan salah satu dari sifat dan ciri khas orang-orang mukmin atau sifat ibadurrahman yaitu jika diberi peringatan dengan firman Allah mereka tidak bersikap tuli dan buta, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
“𝙈𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙥𝙖𝙗𝙞𝙡𝙖 𝙙𝙞𝙨𝙚𝙗𝙪𝙩 𝙣𝙖𝙢𝙖 𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝, 𝙜𝙚𝙢𝙚𝙩𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖; 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙥𝙖𝙗𝙞𝙡𝙖 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙘𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙖𝙮𝙖𝙩-𝙖𝙮𝙖𝙩-𝙉𝙮𝙖, 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙢𝙗𝙖𝙝𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙢𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 (𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖𝙣𝙮𝙖) 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙬𝙖𝙠𝙖𝙡. (𝘼𝙡-𝘼𝙣𝙛𝙖𝙡: 2)”
Berbeda dengan orang kafir, karena sesungguhnya apabila dia mendengar kalamullah, tiada pengaruh dalam dirinya dan tiada perubahan dari apa yang sebelumnya dia lakukan, bahkan dia tetap pada kekafiran, kesesatan, kejahilan, dan kelewat batasnya. Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain:
“𝘿𝙖𝙣 𝙖𝙥𝙖𝙗𝙞𝙡𝙖 𝙙𝙞𝙩𝙪𝙧𝙪𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙨𝙪𝙧𝙖𝙩, 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 (𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜-𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙪𝙣𝙖𝙛𝙞𝙠) 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙩𝙖, “𝙎𝙞𝙖𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙢𝙗𝙖𝙝 𝙞𝙢𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 (𝙩𝙪𝙧𝙪𝙣𝙣𝙮𝙖) 𝙨𝙪𝙧𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙞?𝘼𝙙𝙖𝙥𝙪𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜-𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖𝙣, 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙨𝙪𝙧𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙢𝙗𝙖𝙝 𝙞𝙢𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖, 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙜𝙚𝙢𝙗𝙞𝙧𝙖. 𝘿𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙖𝙥𝙪𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜-𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙮𝙖𝙠𝙞𝙩, 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙧𝙖𝙩 𝙞𝙩𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙢𝙗𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙠𝙖𝙛𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙙𝙞 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙞𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙠𝙖𝙛𝙞𝙧𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 (𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙙𝙖)”. (𝘼𝙩-𝙏𝙖𝙪𝙗𝙖𝙝:124-125)
Para Musafir menjelaskan ayat ini seperti
- Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: mereka tidak menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Bagi orang kafir maksudnya, mereka tidak mendengarkannya, tidak mau melihatnya, dan tidak mau mengerti akan sesuatu pun darinya.
- Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta, Bagi orang yang beriman yakni mereka tidak tuli terhadap perkara yang hak dan tidak buta terhadapnya; mereka demi Allah adalah kaum yang memikirkan perkara hak dan mendapatkan manfaat dari apa yang mereka dengar dari Kitab-Nya
𝘈𝘺𝘢𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 2 , 𝘢𝘺𝘢𝘵 𝘲𝘶𝘳𝘢𝘯𝘪𝘺𝘢𝘩 (𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘤𝘢) 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘺𝘢𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘲𝘢𝘶𝘯𝘪𝘺𝘢𝘩 ( 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵), 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮 𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘮𝘢𝘯𝘧𝘢𝘢𝘵. 𝘈𝘥𝘢 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘬𝘳𝘪𝘵𝘪𝘴 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘮𝘶𝘴𝘭𝘪𝘮 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪. 𝘚𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘧𝘪𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘩𝘢𝘮𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘮𝘢𝘯𝘧𝘢𝘢𝘵.
Agar memahami dan mengambil manfaat dari firman Allah, setiap muslim perlu
- 𝙈𝙚𝙣𝙜𝙪𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙧𝙤𝙨𝙚𝙨 𝙠𝙚𝙞𝙡𝙢𝙪𝙖𝙣
- 𝙏𝙞𝙡𝙖𝙬𝙖𝙩𝙞𝙡 𝙌𝙪𝙧’𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙙𝙖𝙗𝙗𝙪𝙧 (𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩, 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧, 𝙥𝙖𝙝𝙖𝙢 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙢𝙖𝙣𝙛𝙖𝙖𝙩)
- 𝙈𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙣𝙖𝙨𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙦𝙪𝙧’𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪𝙞 𝙗𝙖𝙘𝙖𝙖𝙣 𝙞𝙢𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙨𝙝𝙤𝙡𝙖𝙩
- 𝙈𝙚𝙢𝙖𝙝𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙖𝙘𝙖𝙖𝙣 𝙦𝙪𝙧’𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙙𝙞𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙨𝙚𝙝𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙤𝙧𝙤𝙣𝙜 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙖𝙢𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣
- 𝙈𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙝𝙖𝙙𝙞𝙧
𝐀𝐥-𝐅𝐮𝐫𝐪𝐚𝐧 𝐚𝐲𝐚𝐭 :𝟕𝟒
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا – ٧٤
𝐃𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠-𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐚𝐭𝐚, “𝐘𝐚 𝐓𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐢, 𝐚𝐧𝐮𝐠𝐞𝐫𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐚𝐦𝐢 𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐭𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐩𝐞𝐧𝐲𝐞𝐧𝐚𝐧𝐠 𝐡𝐚𝐭𝐢 (𝐤𝐚𝐦𝐢), 𝐝𝐚𝐧 𝐣𝐚𝐝𝐢𝐤𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐤𝐚𝐦𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐢𝐦𝐩𝐢𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠-𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤𝐰𝐚.”
Al-Hasan Al-Basri pernah ditanya tentang makna ayat ini. Ia menjawab, “𝑴𝒂𝒌𝒏𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒎𝒂𝒌𝒔𝒖𝒅 𝒊𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒊𝒍𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒆𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒉𝒂𝒎𝒃𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒖𝒔𝒍𝒊𝒎 𝒊𝒔𝒕𝒓𝒊, 𝒔𝒂𝒖𝒅𝒂𝒓𝒂, 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒓𝒂𝒃𝒂𝒕𝒏𝒚𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒂𝒂𝒕-𝒕𝒂𝒂𝒕 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉. 𝑫𝒆𝒎𝒊 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉, 𝒕𝒊𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒆𝒔𝒖𝒂𝒕𝒖 𝒑𝒖𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒋𝒖𝒌𝒌𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒕𝒊 𝒔𝒆𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒖𝒔𝒍𝒊𝒎 𝒅𝒂𝒓𝒊𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒃𝒊𝒍𝒂 𝒊𝒂 𝒎𝒆𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕 𝒂𝒏𝒂𝒌, 𝒄𝒖𝒄𝒖, 𝒔𝒂𝒖𝒅𝒂𝒓𝒂, 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒓𝒂𝒃𝒂𝒕𝒏𝒚𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒂𝒂𝒕-𝒕𝒂𝒂𝒕 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉
Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka ingin memperoleh keturunan yang selalu mengerjakan ketaatan kepada Allah sehingga hati mereka menjadi sejuk melihat keturunannya dalam keadaan demikian, baik di dunia maupun di akhirat. Ikrimah mengatakan, mereka tidak bermaksud agar beroleh keturunan yang tampan, tidak pula yang cantik, tetapi mereka menginginkan keturunan yang taat. Qurrota a’yun maksudnya ketaatan kepada Allah bukan fisik yang cantik atau tampan.
𝑭𝒊𝒓𝒎𝒂𝒏 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 : “𝒅𝒂𝒏 𝒋𝒂𝒅𝒊𝒌𝒂𝒏𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒂𝒎𝒊 𝒊𝒎𝒂𝒎 𝒃𝒂𝒈𝒊 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈-𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒂𝒌𝒘𝒂”. 𝑰𝒃𝒏𝒖 𝑨𝒃𝒃𝒂𝒔, 𝑨𝒍-𝑯𝒂𝒔𝒂𝒏 𝑨𝒔-𝑺𝒂𝒅𝒅𝒊, 𝑸𝒂𝒕𝒂𝒅𝒂𝒉, 𝒅𝒂𝒏 𝑨𝒓-𝑹𝒂𝒃𝒊’ 𝒊𝒃𝒏𝒖 𝑨𝒏𝒂𝒔 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒕𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒎𝒂𝒌𝒔𝒖𝒅 𝒊𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒑𝒂𝒓𝒂 𝒑𝒆𝒎𝒊𝒎𝒑𝒊𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒊𝒌𝒖𝒕𝒊 𝒌𝒂𝒎𝒊 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏. 𝑺𝒆𝒍𝒂𝒊𝒏 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒕𝒂𝒌𝒂𝒏, 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒎𝒂𝒌𝒔𝒖𝒅 𝒊𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒑𝒂𝒓𝒂 𝒑𝒆𝒎𝒃𝒆𝒓𝒊 𝒑𝒆𝒕𝒖𝒏𝒋𝒖𝒌 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒑𝒆𝒕𝒖𝒏𝒋𝒖𝒌 𝒅𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒓𝒂 𝒑𝒆𝒏𝒚𝒆𝒓𝒖 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏; 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒈𝒂𝒓 𝒊𝒃𝒂𝒅𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒉𝒖𝒃𝒖𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒊𝒃𝒂𝒅𝒂𝒉 𝒈𝒆𝒏𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊 𝒑𝒆𝒏𝒆𝒓𝒖𝒔 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂, 𝒚𝒂𝒊𝒕𝒖 𝒂𝒏𝒂𝒌 𝒄𝒖𝒄𝒖 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂. 𝑴𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒋𝒖𝒈𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒈𝒂𝒓 𝒉𝒊𝒅𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒐𝒍𝒆𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒖𝒓𝒖𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒊𝒏 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒘𝒂 𝒎𝒂𝒏𝒇𝒂𝒂𝒕, 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒆𝒎𝒊𝒌𝒊𝒂𝒏 𝒊𝒕𝒖 𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉 𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌 𝒑𝒂𝒉𝒂𝒍𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉 𝒃𝒂𝒊𝒌 𝒂𝒌𝒊𝒃𝒂𝒕𝒏𝒚𝒂.
Karena itulah disebutkan di dalam Sahih Muslim melalui hadis Abu Hurairah r.a. yang telah mengatakan bahwa 𝑹𝒂𝒔𝒖𝒍𝒖𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒑𝒆𝒓𝒏𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒃𝒅𝒂: 𝑨𝒑𝒂𝒃𝒊𝒍𝒂 𝒂𝒏𝒂𝒌 𝑨𝒅𝒂𝒎 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍 𝒅𝒖𝒏𝒊𝒂, 𝒕𝒆𝒓𝒑𝒖𝒕𝒖𝒔𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒎𝒂𝒍𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒆𝒄𝒖𝒂𝒍𝒊 𝒕𝒊𝒈𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒌𝒂𝒓𝒂, 𝒚𝒂𝒊𝒕𝒖 𝒂𝒏𝒂𝒌 𝒔𝒂𝒍𝒆𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒐𝒂𝒌𝒂𝒏 (𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒖𝒂)𝒏𝒚𝒂, 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒊𝒍𝒎𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒎𝒂𝒏𝒇𝒂𝒂𝒕 𝒔𝒆𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒅𝒊𝒂 𝒕𝒊𝒂𝒅𝒂, 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒔𝒆𝒅𝒆𝒌𝒂𝒉 𝒋𝒂𝒓𝒊𝒚𝒂𝒉
𝐏𝐄𝐋𝐀𝐉𝐀𝐑𝐀𝐍 / 𝐇𝐈𝐊𝐌𝐀𝐇
- 𝑱𝒊𝒌𝒂 𝒅𝒊𝒃𝒆𝒓𝒊 𝒑𝒆𝒓𝒊𝒏𝒈𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒇𝒊𝒓𝒎𝒂𝒏 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒊𝒌𝒂𝒑 𝒕𝒖𝒍𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝒃𝒖𝒕𝒂
- 𝑺𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒎𝒂𝒏𝒇𝒂𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒂𝒚𝒂𝒕 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉, 𝒔𝒆𝒉𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒑𝒆𝒍𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒌𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒊𝒎𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒃𝒆𝒔𝒂𝒓
- 𝑷𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒗𝒊𝒔𝒊 𝒌𝒆𝒍𝒖𝒂𝒓𝒈𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒂𝒊𝒌 𝒚𝒂𝒊𝒕𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒂𝒂𝒕 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒅𝒐𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒊𝒌𝒉𝒕𝒊𝒂𝒓 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒍𝒖𝒂𝒓𝒈𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒂𝒂𝒕
- 𝑷𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒗𝒊𝒔𝒊 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒋𝒂𝒖𝒉 𝒚𝒂𝒊𝒕𝒖 𝒌𝒆𝒍𝒖𝒂𝒓𝒈𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒂𝒏𝒂𝒌 𝒄𝒖𝒄𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒑𝒆𝒏𝒚𝒆𝒓𝒖 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒉𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒃𝒂𝒓 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒊𝒂𝒑𝒂 𝒔𝒂𝒋𝒂
PERTANYAAN
Apakah setiap amal kebaikan dr seorang ank , orangtua mendapatkan pahala yg sama dan sebaliknya jg dg keburukannya. apakah diperlukan niat spy orangtua mendapat pahala yang sama dg amal yg dilakukan anknya?
Kalau orang tua sudah mengajarkan dan mencontohkan dengan keteladanan maka orang tua akan mendapatkan pahala termasuk turunan kebawahnya dan seterusnya. Dan juga apabila ada anak yang melakukan hal yang buruk maka orang tua juga mendapatkan dosa dari hal tersebut
Niat tidak sanggup untuk mendidik anak maka diputuskan ke pesantren, mohon penjelasan hal tersebut?
Bisa dilakukan seperti itu sebagai keputusan dalam mendidik anak, karena anak cenderung lebih dengar orang lain ketik dididik, kalau kita lihat banyak anak para kyai justru dititipkan ke pesantren yang berbeda. Jadi masih merupakan solusi.
Kedua orang tua sudah tidak ada. saat ini ada anak yg saling berseteru, sementara anak yg lain sudah berusaha mendamaikan tapi tidak berhasil, karena kedua belah pihak merasa benar. Bagaimana sikap keluarga yang lain dan bagaimana dengan keadaan orang tua yg sudah meninggal apakah tidak ikut menanggung akibatnya.?
Mendamaikan adalah tindakan mulia, tapi cari caranya yang lebih efektif dan efisien agar ketemu titik temu solusinya. Bisa jadi perseturuan karena pengasuhan yang kurang tepat, maka perlu dijelaskan dan kelapangan hati dan harus ada yang mengalah, agar perselisihan bisa dihentikan
wallahu Alam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (MS)
No Comments
Leave a comment Cancel