1. Arsip Kajian Tafsir QS Al-Furqan (R43P)

R43P16. Kajian Tafsir QS Al-Furqan ayat 69-72

Kajian Ramadhan 1443H/2022 MFH – Senin pagi, 23 Ramadhan 1443 H / 25 April 2022

بسم الله الرحمن الرحيم
‎أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
‎وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

𝐓𝐀𝐅𝐒𝐈𝐑 𝐒𝐔𝐑𝐀𝐇 𝐀𝐋-𝐅𝐔𝐑𝐐𝐀𝐍 𝐀𝐘𝐀𝐓 𝟕𝟐
وَالَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَۙ وَاِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ مَرُّوْا كِرَامًا – ٧٢

𝑫𝒂𝒏 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈-𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒆𝒓𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒔𝒂𝒌𝒔𝒊𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒍𝒔𝒖, 𝒅𝒂𝒏 𝒂𝒑𝒂𝒃𝒊𝒍𝒂 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒆𝒎𝒖 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 (𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈-𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈) 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒓𝒋𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒃𝒖𝒂𝒕𝒂𝒏-𝒑𝒆𝒓𝒃𝒖𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒃𝒆𝒓𝒇𝒂𝒆𝒅𝒂𝒉, 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒈𝒂 𝒌𝒆𝒉𝒐𝒓𝒎𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒓𝒊𝒏𝒚𝒂,

Ayat ini sebagai lanjutan penegasan dari sifat-sifat ‘Ibadur Rahman (hamba yang mulia dihadapan Allah) yaitu orang yang tidak suka memberikan kesaksian palsu

Menurut beberapa pendapat ulama, makna lā yasy-hadụnaz-zụra

  1. 𝚃𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚑𝚊𝚍𝚒𝚛𝚒 𝚔𝚎𝚋𝚘𝚑𝚘𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚊𝚝𝚊𝚞 𝚙𝚎𝚛𝚋𝚞𝚊𝚝𝚊𝚗 𝚍𝚘𝚜𝚊
  2. 𝚃𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚋𝚎𝚛𝚋𝚞𝚊𝚝 𝚔𝚎𝚖𝚞𝚜𝚢𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚖𝚋𝚊𝚑 𝚋𝚎𝚛𝚑𝚊𝚕𝚊.
  3. 𝚃𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚋𝚎𝚛𝚋𝚞𝚊𝚝 𝚏𝚊𝚜𝚒𝚔 𝚍𝚊𝚗 𝚗𝚒𝚏𝚊𝚚
  4. 𝚃𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚋𝚎𝚛𝚍𝚞𝚜𝚝𝚊 𝚊𝚝𝚊𝚞 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚋𝚎𝚛𝚜𝚊𝚔𝚜𝚒 𝚙𝚊𝚕𝚜𝚞
  5. 𝚃𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚋𝚎𝚛𝚋𝚞𝚊𝚝 𝚔𝚎𝚔𝚊𝚏𝚒𝚛𝚊𝚗
  6. 𝚃𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚕𝚊𝚔𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚙𝚎𝚛𝚋𝚞𝚊𝚝𝚊𝚗 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚊𝚍𝚊 𝚏𝚊𝚎𝚍𝚊𝚑𝚗𝚢𝚊
  7. 𝚃𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚋𝚎𝚛𝚋𝚞𝚊𝚝 𝚔𝚎𝚋𝚊𝚝𝚒𝚕𝚊𝚗.

Melalui sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: “
“𝐌𝐚𝐮𝐤𝐚𝐡 𝐚𝐤𝐮 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐨𝐬𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐥𝐢𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐬𝐚𝐫?”, 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤 𝐭𝐢𝐠𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐢. 𝐌𝐚𝐤𝐚 𝐤𝐚𝐦𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐰𝐚𝐛, “𝐖𝐚𝐡𝐚𝐢 𝐑𝐚𝐬𝐮𝐥𝐮𝐥𝐥𝐚𝐡, 𝐤𝐚𝐦𝐢 𝐦𝐚𝐮.” 𝐑𝐚𝐬𝐮𝐥𝐮𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐛𝐝𝐚, “𝐌𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐬𝐞𝐤𝐮𝐭𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐚𝐤𝐢𝐭𝐢 𝐤𝐞𝐝𝐮𝐚 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐮𝐚.” 𝐏𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐮𝐥𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐥𝐢𝐚𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐧𝐝𝐚𝐫, 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐝𝐮𝐝𝐮𝐤 𝐭𝐞𝐠𝐚𝐤 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐛𝐝𝐚, “𝐈𝐧𝐠𝐚𝐭𝐥𝐚𝐡, 𝐮𝐜𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐝𝐮𝐬𝐭𝐚, 𝐢𝐧𝐠𝐚𝐭𝐥𝐚𝐡 𝐤𝐞𝐬𝐚𝐤𝐬𝐢𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐥𝐬𝐮!” 𝐑𝐚𝐬𝐮𝐥𝐮𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠-𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐛𝐝𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐢𝐧𝐢, 𝐬𝐞𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐤𝐚𝐦𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐚𝐭𝐚 (𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐡𝐚𝐭𝐢) 𝐛𝐚𝐡𝐰𝐚 𝐬𝐞𝐚𝐧𝐝𝐚𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐥𝐢𝐚𝐮 𝐝𝐢𝐚𝐦

Ucapan dusta adalah menunjukan sebagai salah satu dosa besar dimana, pandangan beberapa ulama salah satunya Syaikhul ibnu taimiyah mengatakan dosa besar adalah dosa yang diancam oleh jahanam, murka Allah, laknat Allah dan termasuk yang ancamannya yang berat.

𝙃𝙖𝙡 𝙞𝙣𝙞 𝙙𝙞𝙩𝙚𝙜𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙝𝙖𝙙𝙞𝙨𝙩 𝙉𝙖𝙗𝙞 : 𝙍𝙖𝙨𝙪𝙡𝙪𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙎𝘼𝙒 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙗𝙙𝙖, “𝙅𝙖𝙪𝙝𝙞𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙗𝙤𝙝𝙤𝙣𝙜𝙖𝙣, 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙗 𝙠𝙚𝙗𝙤𝙝𝙤𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙞𝙧𝙞𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙠𝙚𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠𝙖𝙣, 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙞𝙧𝙞𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙣𝙚𝙧𝙖𝙠𝙖. 𝘿𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪𝙝, 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙨𝙚𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙤𝙝𝙤𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙗𝙤𝙝𝙤𝙣𝙜𝙖𝙣, 𝙝𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖 𝙙𝙞 𝙨𝙞𝙨𝙞 𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙩𝙪𝙡𝙞𝙨 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙤𝙝𝙤𝙣𝙜.”

Dosa yang paling berat setelah syirik itu adalah dusta, sehingga cara terbaik untuk menghadapi orang yang sering berdusta adalah tidak dipedulikan. Sehingga suatu saat akan datang zaman dimana banyak pendusta dibenarkan dan yang benar didustakan sebagaimana sabda Nabi :

𝙍𝙖𝙨𝙪𝙡𝙪𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙎𝘼𝙒 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙗𝙙𝙖, “𝘼𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙝𝙪𝙣-𝙩𝙖𝙝𝙪𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙪𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙨𝙩𝙖𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙢𝙥𝙖 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖, 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙪𝙨𝙩𝙖 𝙙𝙞𝙥𝙚𝙧𝙘𝙖𝙮𝙖, 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙟𝙪𝙟𝙪𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙪𝙨𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣, 𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙗𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙠𝙝𝙞𝙖𝙣𝙖𝙩, 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙟𝙪𝙟𝙪𝙧 𝙙𝙞𝙠𝙝𝙞𝙖𝙣𝙖𝙩𝙞

Cara paling baik menghadapi ketika hal itu terjadi adalah dengan tidak dihiraukan para pendusta tersebut. Sebagian ulama menyebut para pendusta itu adalah dajjal. Kalau ada orang yang dibohongi pendusta maka dia memiliki kelemahan karakter, sehingga seoarang mukmin itu harus jujur dan tidak bisa dibohongi, seorang mukmin tidak boleh zolim dan tidak boleh dizolimi.
𝙉𝙖𝙗𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙖𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙙𝙤𝙖 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙝𝙞𝙣𝙙𝙖𝙧 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙨𝙖𝙩𝙖𝙣, 𝙩𝙚𝙧𝙜𝙚𝙡𝙞𝙣𝙘𝙞𝙧 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙙𝙞𝙯𝙤𝙡𝙞𝙢𝙞

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَىَّ
“𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝𝙪𝙢𝙢𝙖 𝙞𝙣𝙣𝙞 𝙖-‘𝙪𝙙𝙯𝙪 𝙗𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙝𝙞𝙡𝙡𝙖 𝙖𝙬 𝙪𝙙𝙝𝙤𝙡𝙡𝙖, 𝙖𝙬 𝙖𝙯𝙞𝙡𝙡𝙖 𝙖𝙬 𝙪𝙯𝙖𝙡𝙡𝙖, 𝙖𝙬 𝙖𝙯𝙝𝙡𝙞𝙢𝙖 𝙖𝙬 𝙪𝙯𝙝𝙡𝙖𝙢𝙖, 𝙖𝙬 𝙖𝙟𝙝𝙖𝙡𝙖 𝙖𝙬 𝙮𝙪𝙟𝙝𝙖𝙡𝙖 ‘𝙖𝙡𝙖𝙮𝙮𝙖”.

“𝙔𝙖 𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝, 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙡𝙞𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖-𝙈𝙪, 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙨𝙖𝙩 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙙𝙞𝙨𝙚𝙨𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 (𝙨𝙮𝙖𝙞𝙩𝙖𝙣 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙝𝙖𝙩), 𝙩𝙚𝙧𝙜𝙚𝙡𝙞𝙣𝙘𝙞𝙧 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙙𝙞𝙜𝙚𝙡𝙞𝙣𝙘𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣, 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙞𝙖𝙮𝙖 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙙𝙞𝙖𝙣𝙞𝙖𝙮𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣, 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙗𝙤𝙙𝙤𝙝 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙙𝙞𝙗𝙤𝙙𝙤𝙝𝙞 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣.” (𝙃𝙍 𝘼𝙗𝙪 𝘿𝙖𝙬𝙪𝙙, 𝙃𝙍 𝘼𝙩 𝙏𝙞𝙧𝙢𝙞𝙙𝙯𝙞).

Pada zaman Nabi, selamat 13 tahun memberikan contoh tidak melawan kaum kafir qurais, karena itulah kecerdasan strategi. Beliau melawan kalau kondisinya dalam keadaan seimbang. Pada firman selanjutnya disebutkan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. Yakni mereka tidak mau menghadiri perbuatan yang tidak berfaedah itu, dan apabila secara kebetulan mereka bersua dengan orang-orang yang sedang melakukannya, maka mereka lewati saja dan tidak mau mengotori dirinya dengan sesuatu pun dari perbuatan yang berdosa itu

Makna (اللغو) adalah segala ucapan dan perbuatan yang tidak berguna. Mereka menjauhkan diri dan menghargai diirinya dengan tidak ikut masuk ke dalam hal yang tidak bermanfaat serta tidak berinteraksi dengan para pelakunya, Sesuatu yang tidak laghu maka bernilai pahala, misal menyiram tanaman itu sesuatu yang berpahala tetapi kalau menyiram tanaman menjadi lupa dengan Allah seperti menyiram tanaman tetapi ketika waktu sudah masuk sholat, tidak berhenti untuk menyiram tanaman maka itu dinamakan sesuatu yang laghu yaitu perbuatan yang tidak berguna. Laghu diangkat oleh imam baihaqi menjadi 2 cabang iman yaitu menghindari perkataan yang laghu dan menghindari perbuatan laghu.

𝘿𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙤𝙣𝙩𝙚𝙠𝙨 𝙛𝙞𝙧𝙢𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧 𝙙𝙞 𝙖𝙮𝙖𝙩 72 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙠𝙣𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙡𝙖𝙡𝙪𝙞 (𝙨𝙖𝙟𝙖) 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙜𝙖 𝙠𝙚𝙝𝙤𝙧𝙢𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖. 𝙄𝙣𝙞 𝙙𝙞𝙘𝙤𝙣𝙩𝙤𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙞𝙨𝙖𝙝 𝙄𝙗𝙣𝙪 𝙢𝙖𝙨’𝙪𝙙 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙄𝙗𝙣𝙪 𝙈𝙖𝙨’𝙪𝙙 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙪𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜-𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙛𝙖𝙚𝙙𝙖𝙝, 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙚𝙣𝙩𝙞. 𝙇𝙖𝙡𝙪 𝙍𝙖𝙨𝙪𝙡𝙪𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙗𝙙𝙖: 𝙎𝙚𝙨𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙄𝙗𝙣𝙪 𝙈𝙖𝙨’𝙪𝙙 𝙙𝙞 𝙥𝙖𝙜𝙞 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙜𝙖 𝙠𝙚𝙝𝙤𝙧𝙢𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖.

Dalam konteks musik, musik dikategorikan laghu atau tidak laghu maka musik menurut para imam Arba’a seperti imam abu hanifah, asyafi’i bahwa musik masuk dalam kategori laghu dan dihukumi haram, sehingga beberapa tafsir makna kata laghu adalah musik. Oleh karena itu para ulama muta’akhirin mengkaji ulang tentang hukum musik karena faktanya saat ini fenomena musik susah dihindari sehingga perlu panduan hukum yang jelas termasuk ijtihad ini dilakukan oleh imam yusuf al-qaradawi dimana musik itu harus memenuhi beberapa hal yang pertama liriknya bagus, yang membawakan benar yaitu laki untuk laki-laki, perempuan untuk perempuan, tidak melengahkan, tidak mengandung tasyabu (perbuatan orang kafir dan fasik). Alat musiknya masih dianggap khilaf diantara ulama. Walaupun ada Sebagian orang juga yang menganggap tidak boleh dan tidak nyaman maka itu lebih bagus.

𝗛𝗜𝗞𝗠𝗔𝗛 / 𝗣𝗘𝗟𝗔𝗝𝗔𝗥𝗔𝗡
  1. 𝙾𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚞𝚔𝚖𝚒𝚗 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚜𝚊𝚔𝚜𝚒𝚊𝚗 𝚙𝚊𝚕𝚜𝚞
  2. 𝙾𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚞𝚔𝚖𝚒𝚗 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚖𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚍𝚒𝚋𝚘𝚑𝚘𝚗𝚐𝚒 𝚍𝚊𝚗 𝚍𝚒𝚣𝚘𝚕𝚒𝚖𝚒
  3. 𝙾𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚞𝚔𝚖𝚒𝚗 𝚒𝚝𝚞 𝚖𝚎𝚖𝚙𝚞𝚗𝚢𝚊𝚒 𝚑𝚒𝚍𝚞𝚙 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚕𝚞 𝚋𝚎𝚛𝚗𝚒𝚕𝚊𝚒 𝚍𝚊𝚗 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚝𝚎𝚛𝚕𝚎𝚗𝚊 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚑𝚊𝚕 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚋𝚎𝚛𝚖𝚊𝚗𝚏𝚊𝚊𝚝
  4. 𝙾𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚞𝚔𝚖𝚒𝚗 𝚒𝚝𝚞 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚕𝚞 𝚓𝚞𝚓𝚞𝚛 𝚍𝚊𝚗 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚋𝚎𝚛𝚍𝚞𝚜𝚝𝚊
  5. 𝙾𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚞𝚔𝚖𝚒𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚑𝚒𝚗𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚑𝚊𝚕-𝚑𝚊𝚕 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚋𝚎𝚛𝚖𝚊𝚗𝚏𝚊𝚊𝚝
𝗣𝗘𝗥𝗧𝗔𝗡𝗬𝗔𝗔𝗡

Bagaimana kalau orang berbohong untuk menghindari masalah misalnya berbohonh karena ingin mengunjungi mertua?
Menghindari pembunuhan, mendamaikan 2 orang yang berselisih,berbohong dengan pasangan dalam konteks misal memuji pasangan. Sedangkan selain itu maka diharuskan untuk jujur mengatakan yang sebenarnya. Maka dalam konteks ini pandailah untuk jujur tapi tidak menimbulkan masalah.

Jika kita diundang pernikahan dimana ternyata didalamnya ada musik (penyanyi perempuan), bagaimana sebaiknya sikap kita? Dimana juga jika didalamnya ada acara adat, dengan suara gamelan apakah juga bisa dimasukkan pada kategori musik gamelan tsb?
Karena kondisi sekarang sudah seperti ini, maka diambil yang paling mashalat saja dimana kita tidak bisa menghindari untuk datang tapi tetap hukum tidak berubah karena hukumnya harus memenuhi syarat2 yang sudah disebutkan, sehingga kalau kita punya acara sebisa mungkin untuk menerapkan sesuai syariah yang sudah ditetapkan oleh para ulama klasik dan kontemporer. Dan kalau tidak bisa dihindari maka banyak istigfar semoga Allah mengampuninya dan ujungnya amal soleh harus lebih berat untuk mengalahkan hal-hal seperti ini

Bagi orang mukmin sebaiknya melewati hal yg tidak bermakna, bagaimana sikap dan doa yg harus dipanjatkan pada saat melewati/ berada pada lingkungan yg kurang bermakna, apabila aktivitas yg kurang bermakna terjadi di lingkungan keluarga, apakah menasehati, berarti sudah gugur kewajiban? mhn maaf kadang hati kurang ikhlas jk yg diingatkan tidak berubah , bgm sikap dan doanya?
Ingkar dengan hati, doa yang khusus bab ini adalah Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika (Wahai Allah, aku mohon pertolongan agar aku selalu ingat (dzikir) kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah yang baik kepada-Mu. Dan minta perlindungan dari kemaksiatan. Kalau sudah dinasihati maka sudah gugur kewajibannya, tetap terus kuat untuk menasihati dan sabar sampai kebenaran yang lebih dominan

Kalau orang mukmin harus jujur, arti nya klo tidak jujur berbuat berdosa. bagaiman dgn klo “dibohongi” kadang dengan keterbatasan manusia tidak tahu kalau dibohongi, apakah kena dosa juga? Bukankah kalau kita didzolimi, pahala orang yg mendzolimi pindah kekita?
Dibohongi atau dizholimi itu bukan dosa tapi merupakan kelemahan, oleh karena itu kita harus menguatkan diri agar posisinya tidak dalam dizolimi dan dibohongi karena kita ada potensial ditipu kalau dirikita tidak kuat.

wallahu Alam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (MS)

Comments to: R43P16. Kajian Tafsir QS Al-Furqan ayat 69-72

Your email address will not be published. Required fields are marked *