Kajian Akhlak dan Adab – Rabu, 22 Rabiul Akhir 1444 H / 16 November 2022
بسم الله الرحمن الرحيم
أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
# Sejenak Bersama Al-Qur’an: Surat Yusuf (12): 80-84
فَلَمَّا اسْتَيْأَسُوا مِنْهُ خَلَصُوا نَجِيًّا ۖ قَالَ كَبِيرُهُمْ أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ أَبَاكُمْ قَدْ أَخَذَ عَلَيْكُمْ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ وَمِنْ قَبْلُ مَا فَرَّطْتُمْ فِي يُوسُفَ ۖ فَلَنْ أَبْرَحَ الْأَرْضَ حَتَّىٰ يَأْذَنَ لِي أَبِي أَوْ يَحْكُمَ اللَّهُ لِي ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ ﴿ ٨٠﴾
[12:80] Maka tatkala mereka berputus asa dari pada (putusan) Yusuf mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua diantara mereka: “Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya”.
ارْجِعُوا إِلَىٰ أَبِيكُمْ فَقُولُوا يَا أَبَانَا إِنَّ ابْنَكَ سَرَقَ وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ ﴿ ٨١﴾
[12:81] Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah: “Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib.
وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ ﴿ ٨٢﴾
[12:82] Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada disitu, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar”.
َالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ ﴿ ٨٣﴾
[12:83] Ya´qub berkata: “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ ﴿ ٨٤﴾
[12:84] Dan Ya´qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).
Pelajaran dari ayat:
1) Orang yang berbuat buruk pun pada akhirnya tidak akan mampu membohongi hati nuraninya; ia bisa saja membohongi orang namun dirinya akan dihantui oleh perbuatan buruknya itu; keburukan pasti terbongkar dan kebaikan akan menang.
2) Pada masa tertentu, orang yang berbuat buruk itu pasti terpojok untuk akhirnya menyerah.
3) Belajar ketegaran dan kesabaran dalam menghadapi ujian sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi Ya’qub dimana ia sebelumnya kehilangan Yusuf kemudian harus kehilangan adiknya yakni Bunyamin.
AKHLAK TAAT
Sebenarnya akhlak taat ini adalah akhlak yang cukup dominan pada diri seorang mukmin. Iman yang melekat pada dirinya membentuk karakter taat. Lawannya taat adalah menentang.
Dengan imannya, seorang mukmin akan taat menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Keseharian seorang mukmin akan terbiasa taat dan akhirnya terbentuk akhlak taat. Hal inilah yang digambarkan dalam hadits Nabi saw yang artinya “Mukmin itu jinak, tidak beriman jika tidak ada sifat jinak”.
Ketaatan berawal dari iman kepada Allah dan Rasul-Nya, yang membentuk karakter seseorang ketika berada ditengah masyarakat, misal jadi taat dalam antrian, taat ketika berkendaraan, taat pada peraturan, begitu juga ketika bermuamalah.
Selain hadits mengenai bahwa mukmin itu jinak, terdapat hadits lain yang berbunyi “kullukum raa’in wa kullukum mas-uulun ‘an ra‘iyyatihi”, yang artinya “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”. Ketika seorang mukmin itu di depan maka dia bertanggung jawab dan ketika dia tidak di depan maka dia taat.
Kalimat kedua dari hadits tersebut dipersonifikasikan menjadi kalimat bijak yang sangat terkenal dalam Bahasa Jawa yaitu ‘ing ngarso sung tulodo – ing madyo mangun karso – tut wuri handayani’ yang bermakna ketika memimpin jadi teladan, ketika dipimpin taat.
Akhlak ini menyebabkan orang mukmin jadi banyak mengerjakan kebaikan dan sebaliknya jadi banyak menghindari keburukan. Demikian pula akhlak ini membentuk hubungan baik dengan semua pihak juga hubungan dengan Allah. Sebaliknya ketika tidak ada akhlak ini, akan banyak kehilangan kebaikan, membuat banyak hal buruk termasuk merusak hubungan baik dengan Allah juga dengan sesama.
Dampak akhlak taat:
1) Banyak sekali kebaikan yang ia jalankan
2) Akan membangun hubungan yang sangat baik sekali kepada Allah
3) Akan punya hubungan baik dengan sesama, tidak merugikan, tidak usil, dst
Dampak akhlak menentang:
1) Banyak keburukan yang terjadi pada dirinya, baik pelanggaran atau berhenti dari menjalankan perintah
2) Hubungan dengan Allah jadi buruk karena buat maksiat terus
3) Hubungan dengan sesama juga buruk karena selalu buat ulah, dst
Di dalam sejarah, akhlak ini sangat dominan dan populer di kalangan salafush sholeh. Cerita yang paling populer adalah ketaatan mereka terhadap perintah sholat, perintah hijab, terhadap larangan khamr, perintah jihad, dst, yang menunjukkan betapa taatnya para sahabat itu. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang sangat taat. Yang demikian itu turun temurun ke generasi berikutnya.
Dalam hubungan dengan sesama ketika mereka berbuat salah, maka seketika itu juga minta maaf. Hal ini didorong oleh akhlak taat tersebut. Mereka tidak suka mencederai orang dan mengerjakan segala sesuatu sesuai aturan.
Nabi saw memberikan contoh yakni ketika Baiat Aqobah pertama dan kedua. Perjanjiannya adalah orang-orang Anshar menjaga Nabi saw ketika Nabi saw ada di Madinah. Sementara, Perang Badar terjadi di area di luar Madinah. Nabi saw harus minta pendapat dahulu karena itu di luar perjanjian. Disini sahabat tidak lagi menggunakan dasar baiat untuk taat tapi menggunakan dasar iman, karena mereka kan sudah jadi orang mukmin, wajib taat kepada Nabi saw.
Ketaatan itu menjadi budaya yang dominan di antara para sahabat. Ketika itu tidaklah asing mendengar mengenai anak taat kepada ibunya, isteri taat kepada suaminya, suami taat kepada ibunya, dst.
Salah satu contoh lainnya adalah dari kisah salah satu isteri Nabi saw, Saudah ra. Nabi saw berwasiat yang bunyinya “Janganlah kalian meninggalkan kamar atau rumahmu”. Karena Saudah ra diberi perintah demikian, maka setelah Nabi saw wafat, Saudah ra tidak pernah meninggalkan kamar dan rumahnya kecuali hanya untuk keperluan ibadah, saking taatnya kepada Nabi saw.
Demikian akhlak ini membentuk suatu sistem kehidupan yang penuh kedamaian dan tentram. Tapi kalau yang terjadi sebaliknya, masyarakat menentang pemimpin, pemimpin tidak bisa jadi teladan, istri menentang suami, suami menentang ibunya, anak menentang orangtuanya dst. Yang terjadi adalah saling menentang, saling jegal, hidup bak neraka dunia.
Tibalah generasi yang mulai mengenal akhlak menentang, diawali dari kepemimpinan yang tidak bertanggung jawab, ayah ibu tidak bertanggung jawab, kepala sekolah atau guru yang tidak bisa jadi contoh terus melebar kemana-mana, dari situ muncul rasa kesal, jengkel, amarah dan mulailah melangkah ke arah penentangan.
Sumber akhlak taat
Apa yang menjadi suply/dasar orang bisa punya akhlak ini?
1) yang paling kokoh itu iman; dengan mudah ditemui orang beriman itu pasti taat. Pada situasi lain, ada kondisi dimana orang baru taat kalau sanksinya berat, itu taat dengan terpaksa namanya. Taat yang benar adalah bukan dijinakkan dengan terpaksa tapi taat karena atas dasar iman.
2) pembiasaan atau latar belakang / budaya / proses pertumbuhan manusia.
3) manajemen syahwat; kalau masih buruk ya suka menentang, kalau muthmainnah ketemunya taat.
4) peraturan / sistem; kadang orang engga taat karena engga ada aturan.
Di konteks ini ada satu hal yang perlu dicermati, yakni antara ketaatan dengan minder dan antara kreatifitas dengan menentang. Orang taat bukan berarti orang minder dan bukan berarti orang percaya diri itu harus menentang. Orang suka menentang bukan berarti dianggap paling kreatif. Orang taat pun bisa kreatif.
Dimanakah perbedaannya? Contoh: ketika ada sayembara dengan syarat² tertentu, orang kreatif membuat hal yang fantastis tapi dengan keluar dari syarat, maka dia tidak menang karena melanggar aturan. Contoh lain, ketika seorang guru menyuruh murid untuk berkarya dengan menggunakan seluruh perangkat yang ada di dalam kelas (tidak boleh keluar kelas), maka murid yang kreatif mampu menghasilkan karya terbaik tanpa harus keluar kelas.
Tips membentuk akhlak taat:
1) Kerjakan perintah Allah yang engkau ketahui dengan segera
2) Biasakan peraturan yang sudah mengikat dijalankan
3) Karena kaitannya dengan manajemen syahwat, maka perbanyak dzikir
# TANYA JAWAB
Apa yang menjadi rambu² tentang taat karena seringkali taat ini disalahgunakan oleh orang yang memiliki kekuasaan?
Aturannya saja yang dipegang. Bagi orang mukmin dia harus tahu posisi. Kalau posisi dipimpin ya taat kalau posisi memimpin ya tanggung jawab dan teladan. Kalau taat ini dieksploitasi oleh orang jahat maka mukmin punya ruang untuk menghilangkan kezoliman dengan cara menuntut, dengan hukum, dll. Karena tidak boleh ada kezoliman baik ke diri maupun orang lain. Sebagaimana hadits ﻻَﺿَﺮَﺭَ ﻭَﻻَ ﺿِﺮَﺍﺭَ “Tidak boleh memudaratkan dan tidak boleh dimudaratkan”. (HR Hakim dan lainnya dari Abu Sa’id al Khudri, HR Ibnu Majah dari Ibnu Abbas)
Intinya menghilangkan kezoliman, bukan karena dieksploitasi lalu kita jadi tidak taat, engga boleh begitu, itu namanya sikap ngambekan, karena hal itu membuat ikut buruk jadinya.
Bagaimana agar sifat baik berada pada posisi yang moderat?
- Harus ada ilmu agar paham koridor-koridornya.
- Faktor karakter / cara berpikir.
- Minta masukan ke orang, kadang seseorang tidak tahu apakah dirinya berlebihan atau tidak.
Bagaimana agar akhlak ini istiqomah?
Banyak baca doa “Allahumma aati nafsii taqwaahaa Wa zakkihaa anta khoiru man zakkaahaa Anta waliyyuhaa wa maulaahaa”
wallahu a’lam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (WW/AA)
No Comments
Leave a comment Cancel