Kajian Akhlak dan Adab – Rabu, 15 Rabiul Akhir 1444 H / 9 November 2022
بسم الله الرحمن الرحيم
أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
# Sejenak Bersama Al-Qur’an: Surat Yusuf (12): 77-79
قَالُوا إِنْ يَسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ أَخٌ لَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ فَأَسَرَّهَا يُوسُفُ فِي نَفْسِهِ وَلَمْ يُبْدِهَا لَهُمْ ۚ قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا ۖ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ ﴿ ٧٧﴾
[12:77] Mereka berkata: “Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu”. Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): “Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu”.
قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ ﴿ ٧٨﴾
[12:78] Mereka berkata: “Wahai Al Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang diantara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk oranng-orang yang berbuat baik”.
قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ نَأْخُذَ إِلَّا مَنْ وَجَدْنَا مَتَاعَنَا عِنْدَهُ إِنَّا إِذًا لَظَالِمُونَ ﴿ ٧٩﴾
[12:79] Berkata Yusuf: “Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim”.
Pelajaran dari ayat
1) Karakter suka memfitnah akan selalu muncul kembali ketika ada kesempatan dan karakter ini tidak cukup mudah untuk diobati. Ciri yang menonjol pada karakter ini adalah merasa dirinya tidak pernah salah.
2) Pada orang yang suka memfitnah tersebut tetap saja masih ada sisi kebaikannya terutama kebaikan yang terkait dengan keluarga.
3) Komitmen kepada peraturan yang ada, yakni tidak ada tawar menawar walaupun itu menyangkut keluarga.
AKHLAK MUDAH
Akhlak itu adalah sesuatu yang sangat melekat pada diri seseorang sedangkan adab itu adalah akhlak yang sudah dikaitkan dengan konteks.
Akhlak mudah ini termasuk akhlak yang tampak dari Nabi SAW sebagaimana yang dikatakan oleh ibunda mukminin Aisyah ra, “Nabi SAW itu adalah seseorang yang mudah”. Nabi SAW selalu memilih yang mudah dan selalu memudahkan. Tentang bab ini, Aisyah ra dalam sebuah riwayat mengatakan bahwa “Nabi tidak diberi 2 pilihan perkara kecuali Nabi memilih yang mudah selama tidak dosa. Kalau itu dosa maka dia adalah orang yang paling jauh darinya”.
Masih berkaitan dengan akhlak mudah, Nabi SAW mengatakan “Mudahkanlah jangan kau persulit”. Dalam hadits lain, “Berikan kabar yang baik, jangan membuat mereka lari dari agama”. Hadits lain, “Mudah waktu membeli, mudah juga waktu menjual”.
Akhlak mudah ini adalah juga bagian yang Allah perintahkan kepada Nabi SAW; Allah tegaskan tentang hal itu pada QS Al Baqarah ayat 185, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”.
Mudah ini juga termasuk ciri dari agama kita, seperti:
- Kalau berbuat salah maka tinggal bertaubat
- Kalau belum pandai maka belajar
- Kalau sudah belajar namun belum bisa juga maka dikerjakan semampunya
- Kalau sedekah tidak ada harta maka sedekah pakai lisan (dzikir)
- Kalau diberi karunia maka bersyukur
- Kalau diberi ujian maka sabar
Kemudahan dalam Beragama
Sebuah Hadits yang menunjukkan kemudahan dalam beragama, dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf ra, ia berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Jika seorang wanita selalu menjaga sholat 5 waktu, juga berpuasa sebulan (Ramadhan), serta betul-betul menjaga kehormatannya dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)
Akhlak mudah ini juga ditunjukkan Nabi SAW sebagaimana yang diriwayatkan Muslim, Nasai, dan Turmudzi yang artinya, dari Aisyah ra berkata, ‘Suatu hari Nabi SAW menemui dan bertanya, ‘apakah engkau punya makanan?’ jawab, ‘Tidak.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Kalau begitu, saya akan puasa’.”
Dampak dari Akhlak Mudah
Dari uraian hadits-hadits di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa akhlak mudah ini membawa dampak yang sangat baik, yaitu:
1) Urusannya gampang terlaksana, mudah mengeksekusi, banyak perkara yang berjalan (dengan izin Allah)
2) Pada orang yang rumit, segala sesuatu itu dirasa berat tapi orang yang memiliki akhlak mudah akan membuat ringan di hati dan apa saja tidak dijadikan sebuah perkara
3) Membuat hubungan dengan sesama itu gampang; outputnya jadi punya banyak hubungan baik dengan orang. Di masa sekarang ini kita saksikan bahwa prinsip memudahkan telah melahirkan tekhnologi.
Praktek akhlak mudah dalam kehidupan:
1) Mudah dalam beragama
2) Mudah dalam bermuamalah
3) mudah dalam konteks berhubungan dengan sesama
4) mudah dalam mengambil keputusan sehari-hari
1) Mudah dalam beragama.
Hal ini ditegaskan oleh Nabi SAW “mudahkanlah jangan buat rumit”, oleh karena itu perlu ilmu yang cukup agar praktek beragama itu mudah. Karena kalau orang semangatnya tinggi tapi ilmunya sedikit pasti rumit dalam beragama. Sebaliknya, kalau semangatnya rendah tapi ilmunya luas jadi tidak betul dalam beragama.
2) Mudah dalam bermuamalah.
Nabi SAW tegaskan, “mudah waktu menjual, mudah waktu membeli”
3) Mudah dalam konteks berhubungan dengan sesama.
Pada orang rumit, segala perkara itu dipandang merepotkan sedangkan pada orang mudah melihat segala sesuatu itu gampang. Dengan kata lain, kita bersikap memudahkan dalam segala hal.
4) Mudah dalam mengambil keputusan sehari-hari, tidak memaksakan
Catatan penting tentang akhlak mudah
Dalam menerapkan praktek tersebut di atas, ada beberapa catatan penting yaitu:
1) Akhlak mudah bukan berarti melanggar peraturan
2) akhlak mudah bukan berarti menggampangkan
3) akhlak mudah bukan berarti ngawur, dalam arti semuanya tidak standar
4) akhlak mudah bukan berarti mengambil hak orang
5) akhlak mudah bukan berarti mendorong orang lain mengambil hak kita
Bagaimana seseorang bisa memiliki akhlak ini?
Akhlak ini muncul dari beberapa proses:
1) Karunia dari Allah SWT. Ada orang-orang yang Allah karuniakan memiliki akhlak ini
2) supply ilmu yang cukup; ilmu yang luas mudah dalam menerapkan karakter ini, namun ada juga walau ilmu luas tapi tetap engga baik sebab memang tidak ada karunia dari Allah dalam konteks ini ada berhubungan dengan poin 1
3) bisa disupply dari standar yang ditetapkan oleh masing² orang. Kalau standar tinggi apa saja jadi rumit, kalau standar moderat maka perkara apa saja jadi mudah. Pada kasus ini standar tinggi untuk akhirat saja, kalau untuk dunia pilih standar rendah
Sebaliknya, kapankah akhlak rumit itu datang?
1) Sudah merupakan karakternya
2) Memiliki ilmu yang sangat sempit
3) Memiliki standar tinggi
Tips agar memiliki akhlak mudah:
1) Memiliki standar yang moderat/sederhana, kecuali untuk akhirat itu boleh tinggi
2) Lapang dada. Hindari hati sempit; mudahlah menerima kekurangan
3) Latihan dari perkara² kecil untuk memilih yang mudah, contoh latihan memilih pakaian, memilih makanan, dan seterusnya
TANYA JAWAB
1) Bagaimana harus bersikap untuk beberapa hal yang dianggap mempersulit padahal menerapkan sesuai aturan?
Perlu kebijaksanaan melihat keadaan, tergantung konteks juga; secara umum peraturan seharusnya dibuat untuk mempermudah orang.
2) Bagaimana mengenai umroh yang dilaksanakan berkali-kali?
Tergantung konteks; kalau berasal dari jauh maka boleh berkali-kali; Kalau penduduk asli misal Madinah dan sekitarnya maka baiknya sekali saja.
3) Bagaimana dengan sikap legowo?
itu adalah akhlak terpaksa menerima, jadi berbeda dengan bahasan ini.
4) Bagaimana kalau bertemu dengan orang yang malah ngelunjak karena sikap mudah kita?
harus ada edukasi / pembelajaran agar akhlak mudah tidak disalahgunakan.
wallahu a’lam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (WW/AA)
No Comments
Leave a comment Cancel