1. Arsip Kajian Akhlak dan Adab (KAA)

KAA53. Akhlak Suka Menyakiti

Kajian Akhlak dan Adab – Rabu, 29 Rabiul Akhir 1444 H / 23 November 2022

‎بسم الله الرحمن الرحيم
‎أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
‎وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

# Sejenak Bersama Al-Qur’an: Surat Yusuf (12): 84-88

1) Kita belajar dari Nabi Yaqub ketika semarah-marahnya kepada anak-anaknya, ia bisa menahannya sehingga Allah menyebutnya ‘fahuwa kadziim’
2) Karena ia mampu menahan amarahnya, maka ungkapannya tidaklah sumpah serapah tetapi ungkapan-ungkapan yang sangat terkendali (positif)
3) Janganlah berputus asa karena sikap putus asa adalah milik orang kafir; Tetap berharap kepada rahmat Allah sebab rahmat-Nya sangat dekat kepada orang baik
4) Meskipun anak-anak itu punya akhlak buruk tetapi mereka tidak kehilangan ketaatannya kepada orangtuanya

AKhlak Suka Menyakiti

Selama ini pembahasan akhlak masih seputar akhlak baik. Selanjutnya, pembahasan mengenai akhlak buruk juga penting untuk diadakan dengan tujuan:

  • Agar lebih kokoh pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan
  • Agar dapat merasakan perbedaan yang nyata antara kebaikan dan keburukan
  • Agar tahu dengan baik tentang kebaikan bahkan bisa merasakan indahnya kebaikan ketika menyaksikan keburukan

Makna

  1. Secara bahasa, أسَاءَ itu menyakiti/berbuat buruk.
  2. Secara istilah, berbuat buruk itu adalah suka berlaku buruk kepada orang.
  3. Secara terjemahan, berbuat sesuatu yang buruk atau yang sejenis dengan perkataan buruk seperti jahat, tidak baik dan sejenisnya yang membuat orang lain bersedih atau merasakan dampak buruknya, baik dalam urusan agamanya, dunianya, badannya, jiwanya, keluarganya, dirinya, kabilahnya, dst.

Kalau berbuat buruk atau menyakiti ini hanya sesekali maka ini belum dapat disebut akhlak. Sesuatu disebut sebagai akhlak ketika sudah menjadi sebuah kebiasaan/sering dilakukan.

Dasar hukum terlarangnya akhlak suka menyakiti

QS Al-Baqarah ayat 83  yang artinya “Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah dan berbuat baiklah (ihsan) kepada kedua orangtua, kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat. ”Tetapi kemudian kamu berpaling (dari perintah itu) kecuali sebagian kecil dari kamu dan kamu (masih menjadi) pembangkang.”

Ketika Allah menyuruh berbuat baik maka ini maknanya juga dilarang untuk lawan perbuatannya. Dengan kata lain, karena ada perintah berbuat baik maka kita dilarang untuk berbuat buruk.

QS Fussilat ayat 46  yang artinya “Barang siapa mengerjakan kebaikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat buruk maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhan-mu sama sekali tidak menzolimi hamba-hamba-Nya.”

QS Al-Jasiyah ayat 15  yang artinya “Barang siapa mengerjakan kebaikan, maka itu untuk dirinya sendiri dan barang siapa mengerjakan keburukan maka itu akan menimpa dirinya sendiri; kemudian kepada Tuhan-mu sajalah kamu dikembalikan.”

Selain firman Allah seperti tersebut di atas, terdapat beberapa hadits dengan redaksi serupa berupa perintah berbuat baik, yaitu diantaranya yang artinya “Tebarkan salam, berikan makanan, kalau berbuat buruk maka segeralah berbuat baik, hendaklah kalian memperbaiki akhlakmu semampumu.” Kalau engkau berbuat buruk maka segeralah bertaubat, dan kalau engkau berbuat buruk kepada orang lain maka segera berbuat baik kepadanya.

Hadits lain, yang artinya “Barang siapa yang berbuat baik tentang apa yang masih tersisa maka diampuni apa yang sudah lalu, barang siapa berbuat buruk pada yang tersisa maka yang lalu dan yang tersisa akan diambil sanksi.”

Hadits lain, yang artinya “Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw, ‘Ya Rasulullah apakah akan diazab tentang apa yang kami kerjakan di waktu jahiliyah? Rasulullah saw menjawab “Barang siapa berbuat baik dalam Islam ini maka tidak diambil waktu jahiliyahnya tapi kalau berbuat buruk dalam Islam ini maka diambil dari yang awal dan akhirnya.”

Tidak ingin kah kamu saya beri tahu dosa paling besar? Rasulullah saw mengatakan hal itu 3 kali. Sahabat mengatakan “Ya Rasulullah kami mau” maka Rasulullah saw menjawab, “Menyekutukan Allah dan menyakiti orangtua.”

Imam Hasan Basri rahimahullah mengatakan ‘orang-orang mukmin itu mengumpulkan sifat baik, penyayang, empati; orang-orang munafik itu mengumpulkan sifat buruk’.

Syekh Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan ‘Barang siapa yang menyakiti keluarganya dan tetangganya adalah orang yang paling hina diantara mereka ; barang siapa membalas mereka maka ia adalah sejenisnya, barang siap yang tidak membalas maka ia adalah pemimpinnya dan paling baik diantara mereka dan yang paling utama diantara mereka’.

Imam Al Maimun rahimahullah mengatakan ‘Orang yang menyakiti orang secara rahasia maka hendaklah ia bertaubat secara rahasia; yang menyakiti orang secara terang-terangan maka hendaklah ia bertaubat secara terang-terangan, Allah itu Maha Mengampuni dan Tidak Mencela sementara orang itu mencela dan tidak mengampuni’.

Sebagian salaf mengatakan ‘Aku tidak pernah berbuat baik atau buruk kepada orang karena yang terjadi sesungguhnya adalah aku berbuat baik dan buruk pada diriku sendiri’.

Ada ungkapan salaf ‘4 ini akan mendapatkan balasan 4, yakni berusaha merendahkan maka akan dihinakan, berbuat buruk atau suka menyakiti maka ia akan dapat balasan, berjanji untuk pelit ya sudah jadi pelit beneran, dan bertindak bodoh’.
Ungkapan salaf lain yang mengatakan ‘Barang siapa yang suka menyakiti orang, maka ia akan menyaksikan dirinya dalam kehinaan’.

Beberapa akibat buruk dari akhlak suka menyakiti
1) Akhlak ini adalah akhlaknya orang munafik, khawatir nanti akan mengantarkan kepada sifat nifaq
2) Berdampak kehinaan pada dirinya
3) Termasuk sebab kerasnya hati
4) Menghalangi pertolongan
5) Akan dijauhi orang; tidak punya teman

Sabda Nabi saw yang artinya “Orang yang suka berbuat buruk itu nantinya tidak dapat syafaat di hari Kiamat, orang yang suka melaknati keburukan tidak akan dapat syafaat, tidak ada persaksian di hari Kiamat.

Kenapa orang sampai punya akhlak ini?
1) Bisa jadi orang ini sudah putus asa, mengalami masalah berat yang bertubi-tubi atau sering gagal.
Ibnul Qayyim mengatakan ‘Yang ditakuti dari putus asa itu adalah ketika akhirnya ia suka berbuat buruk, suka menyakiti orang, suul adab kepada Allah dan kepada orang’

2) Suudzon
Imam Hasan Basri mengatakan ‘Demikianlah prasangka kalian yang kalian prasangkakan kepada Rabb kalian. orang-orang itu akan berbuat sesuai dengan prasangka dia kepada Rabbnya; orang mukmin itu berhusnudzon kepada Rabbnya maka dia berbuat baik, orang munafik itu suudzon kepada Allah maka dia berbuat buruk’

3) Banyak melamun, bermimpi, terlampau jauh mimpi atau imaginasinya.
4) Terpengaruh oleh lingkungannya.
5) Tingkat kecerdasan; semakin bodoh seseorang semakin berpeluang untuk suka menyakiti, walaupun tidak selalu.
6) Karena ada kesombongan.

Bagaimana solusinya?
1) Harus sering istighar; dengan itu berharap ada rem
2) Tholabul ilmi
3) Masuk ke wilayah orang baik, banyak berkumpul dengan orang baik
4) Bagi orang sekitarnya bisa membantunya dengan cara mendampinginya dan mengingatkan untuk keluar dari akhlak ini

TANYA JAWAB

Bagaimana cara menyikapi orang yang menyakiti sementara orang itu sepertinya tidak menyadari bahwa perbuatannya buruk atau salah?

  1. Orang itu harus dikasih tahu
  2. Harus ada pendampingan
  3. Kalau berulang, maka perlu ada semacam teguran

Ketika orangtua masih hidup, sesama saudara akur. Keadaan berubah ketika orangtua meninggal, sesama saudara saling menyakiti dan masing-masing merasa paling benar. Bagaimana dengan ini?
Salah satu problem dalam masalah keluarga adalah tidak tegasnya garis kewalian. Orang hanya memahami wali adalah untuk wali nikah saja. Semestinya ketika orangtua meninggal, maka ditentukan siapa walinya. kalau ada apa-apa maka wali sebagai pengambil keputusan atau yang memutuskan perkara. Kalau tidak ada wali, maka berlaku amar maruf nahi mungkar, yakni siapa saja bisa mengambil peran dalam upaya mengatasi masalah.

Apa yang menyebabkan saudara-saudaranya Nabi Yusuf tidak suka dengan Nabi Yusuf?
Dimata saudara-saudaranya, ayah mereka dianggap lebih condong kepada Yusuf sehingga tumbuh rasa iri.

Bagaimana ketika terkadang berniat untuk memberikan evaluasi kepada orang lain namun malah dianggap menyakiti?
Imam Syafi’i mengatakan ‘Kalau kau angkat keburukan orang maka kau telah menghinakannya atau menyakitinya. Tapi kalau kau mau memberikan yang baik maka kau menasehatinya’. Kalau mau menasehati maka katakan yang baik, tetapi kalau membongkar semua perbuatan buruknya jangan-jangan kau bukan menasehati tapi menyakiti. Evaluasi itu adalah suatu bentuk pemaparan keadaan tanpa ada pretensi menghinakan dan tanpa ada keinginan untuk membuka keburukan. Niat baik dan cara baik membuat evaluasi diterima baik. Tapi kalau niat baik dengan cara buruk, maka evaluasi akan diterima buruk.

wallahu a’lam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (WW/AA)

Comments to: KAA53. Akhlak Suka Menyakiti

Your email address will not be published. Required fields are marked *