Kajian Akhlak dan Adab – Rabu, 23 Rabiul Awal 1444 H / 19 Oktober 2022
بسم الله الرحمن الرحيم
أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Sejenak Bersama Al-Qur’an: Surat Yusuf (12): 67-69
وَقَالَ يَا بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ ۖ وَمَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۖ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ ﴿ ٦٧﴾
[12:67] Dan Ya´qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri”.
وَلَمَّا دَخَلُوا مِنْ حَيْثُ أَمَرَهُمْ أَبُوهُمْ مَا كَانَ يُغْنِي عَنْهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا حَاجَةً فِي نَفْسِ يَعْقُوبَ قَضَاهَا ۚ وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِمَا عَلَّمْنَاهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ﴿ ٦٨﴾
[12:68] Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya´qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.
وَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَخَاهُ ۖ قَالَ إِنِّي أَنَا أَخُوكَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿ ٦٩﴾
[12:69] Dan tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf. Yusuf membawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya, Yusuf berkata: “Sesungguhnya aku (ini) adalah saudaramu, maka janganlah kamu berdukacita terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.
Yang dapat dipelajari dari ayat-ayat 67-69:
- Kalau hendak memasuki sesuatu, janganlah masuk dari satu pintu namun masuklah dari berbagai pintu. Ini menjadi kaidah yang digunakan diberbagai hal. Misal, kalau mau masuk ke dalam dakwah, masuklah dari berbagai pintu. Kalau mau berbisnis, masuklah dari berbagai pintu. Hal ini adalah strategi untuk memiliki banyak pilihan dan kemungkinan.
- Semua usaha yang dijalankan manusia sehebat apapun tidak akan menghasilkan keputusan apa-apa dihadapkan Allah SWT. Semua keputusan adalah keputusan Allah SWT.
- Oleh karena itu, hendaklah semua manusia untuk bertawakal kepada Allah SWT.
- Seseorang diperbolehkan untuk menjalankan apa yang menjadi firasat bagi dirinya karena firasat merupakan bagian dari ilham dari Allah atas dirinya.
- Data mengenai keberadaan Yusuf yang disakiti selama ini mulai muncul ke permukaan dan diketahui oleh orang terdekatnya. Ada saatnya ketika Allah sudah menentukan kapan sebuah kebenaran itu menang, maka satu persatu tanda itu akan muncul.
MATERI: ADAB BERMEDIA SOSIAL
# Pengantar
Media sosial adalah ruang publik. Untuk tampil di ruang publik itu perlu menjaga banyak kondisi hati, misal dari sikap riya. Ruang publik ini memberikan kesempatan setiap orang untuk menampilkan dirinya. Sekalipun seseorang itu sedang berada dalam kamar di rumahnya, ia sebenarnya sedang berada di ruang publik.
# Ketika seseorang berada di media sosial, maka:
- Seseorang itu sedang berada di ruang publik, sehingga harus menjaga aurat, harus menjaga adab bertegur sapa, menjaga adab dalam menerima berita dan seterusnya.
- Seseorang berada di area yang memiliki hukum positif yang menjerat atau memantaunya. Kita perlu mengetahui urusan yang terkait dengan hukum ini, misal hukum UU-ITE, KUHP, dst. Seseorang perlu tunduk di hal-hal yang berifat publik.
- Seseorang telah memasukkan konten (pembicaraan, gambar, dst) yang tidak akan pernah bisa dihapus. Istilahnya, di ruang publik itu tidak ada ruang pertaubatan. Misal, seseorang yang membuka aurat, ditayangkan di media sosial, menjadi viral dan banyak orang yang mengikutinya, hal ini menjadi satu tantangan ketika suatu saat ia bertaubat dan hendak menghapus semua jejak dan dampak perbuatannya yang lampau.
# Adab bermedia sosial
- Berbicara, menulis dan membuat konten yang baik
- Hendaklah bisa menjaga hati
- Mendatangkan manfaat bagi dirinya dan orang lain
- Menghindari perdebatan yang tidak perlu
- Bisa mengukur atas dampak dari konten yang kita buat
1. Hendaklah kita berbicara dengan baik, menulis yang baik dan membuat konten yang baik.
Semua hal yang baik itu dikembalikan kepada syariah. Kita perlu berkontribusi untuk membuat konten baik dan menghindai konten yang tidak bermanfaat (sampah).
Dari suatu penelitian, netizen Amerika itu berbohong di media sosial dan jujur di dunia nyata. Sebaliknya, netizen Indonesia itu ada kecenderungan untuk jujur di media sosial dan berbohong di dunia nyata.
2. Hendaklah bisa menjaga hati
Yakni jangan sampai konten yang dibagikan (share) itu mendatangkan dosa, misal menjadikan kita riya, ujub, menghinakan orang, dan seterusnya. Antara tahadus binni’mat dan riya itu tipis. Seseorang yang selfie di luar negeri itu baik dalam hal mensyukuri kenikmatan namun tidak menutup kemungkinan setan masuk yang mendatangkan rasa riya dan ujub yang justru mendatangkan dosa.
Ketika kita sudah masuk ke dunia sosial, kita perlu menyadari bahwa kita sudah masuk ke dalam dunia public figure, yang semua aktivitas kita akan terpantau.
3. Hendaklah bermedia sosial untuk mendatangkan manfaat bagi dirinya dan orang lain.
Apakah manfaat bermedsos? Jika tidak ada manfaatnya, maka hindari. Jika ada manfaatnya atau kita bisa memberi manfaat bagi orang lain, maka ini hal yang baik.
4. Menghindari perdebatan yang tidak perlu
Memenangkan hati lebih utama daripada memenangkan pikiran atau pembicaraan. Nabi menyarankan untuk meninggalkan debat. Pandai-pandailah untuk menyelesaikan masalah tanpa harus ada perdebatan. Kita berdialog dan menyampaikan data, bukan beradu omongan.
5. Bisa mengukur atas dampak dari konten yang kita buat
Medsos adalah dunia yang abadi karena jejak digital itu tidak bisa dihapus. Dengan demikian, dampa dari konten yang kita sebarkan dan posting itu perlu bisa diukur betul dan tidak sembarangan.
# TANYA JAWAB
Jika ada seseorang memposting misal makan makanan yang enak2 di restoran atau cafe, jalan2 diluar negeri dan dia tidak merasa itu adalah riya’ ataupun yg lain, lalu sebenarnya niatnya dan manfaat nya apa itu Ustadz? Alasannya untuk kenang2an biar gak hilang maka disimpan di medsos.
Jika tidak riya dan hanya ingin menyimpan sebagai kenangan, maka tidak mengapa. Jika ada riya, maka perlu ditinggalkan.
Bagaimana dengan membicarakan orang lain di grup WA?
Seseorang yang masuk di grup WA, sejatinya ia sedang duduk mengobrol dengan orang lain. Berlaku padanya hukum-hukum di dunia nyata. Jika ada obrolan ghibah, maka kita beristighfar dan mengingatkan. Kalau masih terus ada pembicaraannya, kita berhenti dan menyampaikan bahwa kita berlepas diri dari obrolan tersebut.
wallahu a’lam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (AA)
No Comments
Leave a comment Cancel