1. Arsip Kajian Akhlak dan Adab (KAA)

KAA41. Adab Makan dan Minum

Kajian Akhlak dan Adab – Rabu, 26 Muharram 1444 H / 24 Agustus 2022

بسم الله الرحمن الرحيم
‎أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
‎وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Tadabur Qur’an surat Yusuf ayat 50-51

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُ الرَّسُولُ قَالَ ارْجِعْ إِلَىٰ رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ ۚ إِنَّ رَبِّي بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌ ﴿ ٥٠﴾

[12:50] Raja berkata: “Bawalah dia kepadaku”. Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka”.

قَالَ مَا خَطْبُكُنَّ إِذْ رَاوَدْتُنَّ يُوسُفَ عَنْ نَفْسِهِ ۚ قُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوءٍ ۚ قَالَتِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ الْآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ ﴿ ٥١﴾

[12:51] Raja berkata (kepada wanita-wanita itu): “Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?” Mereka berkata: “Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya”. Berkata isteri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar”.

Pelajaran dari ayat:
(1) Baik sekali seseorang itu untuk minta klarifikasi sebelum mengambil keputusan. Bila menemukan sesuatu yang tidak begitu terang/jelas, maka perlu ditanyakan dahulu, apalagi pada konteks ayat ini berkaitan dengan keluarga raja yang penuh dengan tipu daya, intrik, dst.

(2) Ketika mendapati dirimu mengalami fitnah, ingat dan yakinlah bahwa Allah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat. Jangan gentar menghadapi kezoliman. Allah Maha Tahu tipu daya orang² zolim. Jangan sampai terprovokasi atas keburukan yang orang perbuat padamu. Ingatlah, ketika pergolakan sampai pada puncaknya, satu persatu pelaku kejahatan pada akhirnya akan mengaku. Di konteks ayat 51, istri raja akhirnya mengakui kesalahannya.

ADAB MAKAN DAN MINUM

Islam bukanlah semata agama yang mengatur bagaimana beribadah ritual seperti sholat, puasa, haji dst. Lebih dari itu, Islam juga sangat serius dan perhatian memberikan penjelasan²/panduan, tentang bagaimana beradab dan berakhlak yang benar, yang memang menjadi kebutuhan bersama. Seperti urusan makan dan minum, diatur dengan indah oleh agama ini. Seyogyanyalah kita bersyukur kepada Allah dan Rasul-Nya atas bimbingan ini. Sehingga semuanya jadi indah bagus tertib dan halal.

Adab sebelum makan

Ternyata, cara kita makan mencerminkan siapa diri kita. Karakter orang tampak ketika ia sedang makan. Kalau cara makannya berantakan, kemungkinan orangnya berantakan. Orang yang kalau makan comot sana comot sini, mengambil banyak, bisa jadi dia orangnya celutak. Ada orang makan ambil secukupnya yang ada didekatnya, besar kemungkinan dia orang yang tenang dan tidak rakus. Dari cara makannya, akhlak seseorang akan terlihat.

(1) Dianjurkan untuk membersihkan tangan sebelum makan.
Supaya tidak ada peluang mudhorot pada dirinya, khawatir ketika makan sementara tangannya kotor akan menyebabkan sakit.

(2) Sebaiknya bertanya tentang makanan yang disodorkan/dihidangkan, jika tidak tahu akan makanan tersebut, khawatir jatuh ke perkara haram.
Lain soal jika sudah jelas, maka itu jangan ditanyakan.
Hadits yang bicara tentang bagaimana Nabi saw menanyakan makanan yang disodorkan kepadanya adalah ketika berkunjung ke rumah Maimunah, dimana ketika itu beliau dihidangkan daging dhab.

(3) Segera makan ketika dihidangkan makanan, jangan dibiarkan lama terutama ketika sedang bertamu.
Para ulama mengatakan “Termasuk memuliakan tamu adalah menyegerakan hidangan padanya, dan termasuk memuliakan tuan rumah adalah segera makan ketika sudah dihidangkan”. Termasuk misalnya makanan sudah dihidangkan oleh isteri di rumah. Maka para suami janganlah menunda, segera makanlah.

(4) Membaca basmalah sebelum makan.
Diriwayatkan oleh Aisyah ra. Rasulullah saw bersabda, “Apabila kalian hendak makan, bacalah ‘bismillah’, jika lupa tidak membaca basmalah di awal, bacalah ‘bismillahi fi awwaluhu wa akhiruhu”. HR Abu Dawud dan Tirmidzi.

Dari Umar bin Abi Salamah ra “Waktu aku masih kecil dan berada dibawah asuhan Rasulullah saw, tanganku berseliweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah saw berkata “Wahai ghulam, bacalah Bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” Maka seperti itulah cara makanku setelah itu.” HR Bukhari Muslim.

Adab saat makan

(1) Makan dengan tangan kanan.
“Jika seseorang dari kalian makan maka makanlah dengan tangan kanannya dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” HR Muslim.
Tentu adab ini berlaku untuk yang tidak ada uzur.

(2) Ambil makanan dari yang terdekat. Ketika makanan sudah tersaji di piring, mulailah makan dari pinggir, bukan dari tengah.

(3) Membersihkan tangan setelah makan.

(4) Disunahkan/dianjurkan berkumur setelah makan.
Ketika Nabi saw dan beberapa orang sedang ada disebuah bukit, dan sebentar lagi tiba waktu sholat, salah satu diantara mereka mengundang Nabi saw makan maka beliau makan sedikit. Kemudian Nabi saw minta air dan berkumur lalu sholat tanpa berwudhu lagi. (HR Bukhari)

(5) Kalau dijamu makan, misal dapat undangan syukuran atau yang semisal itu. Setelah disuguhi makan maka dianjurkan mendoakan orang yang menjamu.
Satu waktu Nabi saw diundang makan, beliau disuguhi roti dan sejenis minyak. Maka Nabi saw makan dan setelahnya mendoakan yang menjamu. (HR Abu Dawud)

(6) Makan dengan 3 jari.
Seorang ulama mengatakan makan dengan lebih dari 3 jari itu termasuk buruk. Tetapi jika tidak mungkin dengan 3 jari, karena saking ringannya makanan atau karena tidak mungkin mengambilnya dengan 3 jari, maka bisa didukung oleh jari yang ke-4 atau 5.

TANYA JAWAB

1. Apakah benar kalau makan sesuatu misal kue, lalu jatuh ke lantai, maka segera diambil, kemudian dibersihkan kotorannya dan lanjut dimakan. Apakah sudah benar?
Iya benar. Jika makanan jatuh, ambil dan hilangkan kotorannya kemudian dimakan. Hal tersebut menghindari mubazir dan terhindar dari perbuatan jorok.

2. Ada begitu banyak adab, apakah ada konsekuensi jika terlewat?
Secara hukum, adab itu sunah. Dilakukan berpahala, kalau tidak dilakukan tidak berdosa. Khusus basmalah, sebagian ulama mengatakan wajib.

3. Bagaimana kalau makan diluar, tidak mungkin kan menanyakan ke pihak resto, bagaimana?
Ini masuk ke ranah hukum. Kalau makan di tempat orang muslim maka sebaiknya tidak bertanya. Tapi kalau makannya ditempat yang halal haram-nya tidak jelas, maka harus bertanya.

4. Selama ini kita mengenal makan itu 3x sehari. Sebenarnya bagaimana contoh dari Nabi saw?
Ini tergantung kondisi masing². Yang jelas dari sejak dulu, memang sudah ada istilah makan pagi siang dan malam. Tapi sebagian masyarakat yang tidak mengenal itu, misal hanya mengetahui makan sehari 2x, ya tidak mengapa.

5. Jika kita melihat teman dengan cara makan comot sana sini, bagaimana cara menegurnya agar tidak tersinggung?
Teknik menegur, kenali obyeknya, dekat gak? Kalau dekat bisa langsug ngomong/to the point, kalau gak dekat mungkin dengan mengatakan “bagaimana kalau kamu duduk manis biar saya bantu ambilkan makanannya”. Bisa juga tema tentang adab ini diangkat di pengajian, sebab jangan² mereka tidak tahu bahwa itu adab Nabi saw.

6. Bagaimana jika makan pakai sendok?
Aslinya makan pakai tangan, itu sunah. Jadi kalau makan pakai sendok artinya meninggalkan sunah. Sesederhana itu. Termasuk sunah adalah makan duduk di lantai, bukan di kursi.

7. Ada orang kidal, kalau kasih makan orang pakai tangan kiri tapi kalau makan buat diri sendiri bisa pakai tangan kanan.
Kalau ada uzur, maka diizinkan untuk makan dengan tangan kiri.

8. Bagaimana mengakali makan di tempat yang makanannya banyak yang haram?
Kalau ada di negeri yang memang makanannya haram, maka dia harus berupaya mencari makanan halal.
Kalau makanannya campur, ada halal dan haram, berpeluang bercampur tempat masaknya, maka tidak boleh disentuh. Solusinya adalah bisa makan buah. Kecuali tahu benar/yakin bahwa masaknya dipisah, itu boleh. Kalau di negara yang sama sekali tidak ada peluang halalnya, maka takwalah kepada Allah semampunya. Biasanya orang² pilih menu vegetarian.

9. Kalau tinggal di luar negeri bagaimana?
Kalau makanan itu bercampur, yang paling aman mengambil makanan yang tidak dimasak. Itu adalah maksimal yang bisa dilakukan. Makanan yang tidak dimasak itu tidak kena najis kan. Selebihnya bawalah bekal jika ada tugas yang cukup lama di LN. Pandai²lah cari solusi kehalalan.
Nabi saw makan duduk dibawah, duduk diatas kaki kirinya dan kaki kanan diberdirikan, pakai jari..itu sunah. Namun sekarang faktanya budaya telah bergeser. Makan dimeja dengan sendok garpu. Sehingga ya tidak sunah lagi.
Ketika makan pakai sendok dan garpu, dimana hal itu memungkinkan tangan kiri terlibat aktif, dalam konteks ini usahakan makan pakai sendok saja, tinggalkan garpu, cukup aktifkan tangan kanan saja.

10. Justru di negara lain malah lebih hati² soal makanan ini. Mereka sangat terbuka menginfokan soal halal haram, mereka sangat perhatian terhadap turis muslim. Tapi kalau di Bali hotel bintang 5 sekalipun, malah acuh, miris…
Mensiasati ketika traveling adalah bawa kurma.
Pernah dengar bahwa tanda akhir zaman adalah obesitas.
Pernah menemukan tulisan : susu jangan dicampur dengan buah ini itu, daging jangan dicampur itu ini, sebab akan menyebabkan ini itu, apakah itu ada dalam literatur Islam?
Ide bagus itu bawa kurma, awet dan mengenyangkan. Aisyah ra pernah selama 3 bulan hanya makan kurma dan air, alhamdulillah beliau kuat sehat. Ada juga yang membawa mie instan. Masing² orang punya cara sendiri untuk survive. Intinya jangan pernah biarkan memasukkan makanan yang subhat ke mulut kita.
Kaitan obesitas dan tanda akhir zaman, itu betul. Termasuk tanda kiamat kecil.
Masalah jangan mencampur makanan ini dengan makanan itu, adalah ijtihad ahli gizi/ahli herbal/ahli makanan.

wallahu a’lam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (WW)

Comments to: KAA41. Adab Makan dan Minum

Your email address will not be published. Required fields are marked *