1. Arsip Kajian Cabang Iman (KCI)

KCI51. (28):Berteguh Hati Melawan Musuh dan Tidak Melarikan Diri

Kajian Cabang Iman – Jum’at, 12 Agustus 2022 / 14 Muharram 1444 H

‎بسم الله الرحمن الرحيم
‎أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
‎وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

# Sejenak Bersama Al-Qur’an QS As-Saffat (37): 123-132

وَإِنَّ إِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
[37:123] Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul.
إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَلَا تَتَّقُونَ
37:124 ketika ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu tidak bertakwa?
أَتَدْعُونَ بَعْلًا وَتَذَرُونَ أَحْسَنَ الْخَالِقِينَ
[37:125] Patutkah kamu menyembah Ba’l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta,
اللَّهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ
37:126 Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?”
فَكَذَّبُوهُ فَإِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ
[37:127] Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka akan diseret (ke neraka),
إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ
[37:128] kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ
[37:129] Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.
سَلَامٌ عَلَىٰ إِلْ يَاسِينَ
37:130: “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas?”
إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
[37:131] Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ
[37:132] Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

# Pelajaran Ayat

  • Demikian jalan para nabi selalu mengajak kepada jalan ketakwaan, ada yang taat ada yang mendustakan
  • Yang akan selamat orang-orang yang mukhlas, karena dia berusaha ikhlas maka Allah akan membuat dia menjadi orang yang ikhlas
  • Hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati, siapa yang berusaha insya Allah akan diberikan
  • Nabi Ilyas termasuk orang-orang yang muhsin dan orang-orang yang mukmin
# Cabang Iman ke 28 – Berteguh Hati Melawan Musuh dan Tidak Melarikan Diri

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (Al Anfal: 45)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). (Al Anfal: 15)

وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (Al Anfal: 16)

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (Al Anfal: 65)

“Wahai sekalian manusia, janganlah mengharap bertemu musuh, mintalah kekuatan kepada Allah. Apabila kalian bertemu musuh, maka bersabarlah dan ketahuilah bahwa Surga berada di bawah naungan pedang,” (HR Bukhari)

Dalam cabang iman ini makna jihad berada di makna pertama (jihad perang) tetapi tidak menutup kemungkinan berada di makna kedua & ketiga (amar ma’ruf nahi munkar & beramal saleh)

2 dimensi dalam cabang iman ini:

  • Dimensi zahir: tidak lari dari medan perang
  • Dimensi makna

Hikmah dan makna:

  1. Diajarkan oleh agama untuk mengupayakan kesuksesan sebuah agenda dan tidak mundur selangkahpun sebelum cita-cita itu tercapai
  2. Kita sanggup menanggung semua rasa sakit apapun agar tidak mundur dan tetap berada di jalan dakwah (harus ada kekuatan mental)
  3. Seluruh komitmen kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak mundur dari cita-cita apapun
  4. Kita dibolehkan untuk mundur jika itu bagian dari strategi sampai situasinya membaik, disini diperlukan kecerdasan untuk menjalankan strategi
  5. Harapan akan balasan dari Allah membantu kita untuk kuat menghadapi situasi dan menjalankan kebaikan, sebagaimana dalam kondisi perang ada balasan mati syahid dari Allah

Permasalahan generasi sekarang adalah masalah mental, tidak mampu sengsara, menanggung rasa sakit dan resiko, tidak cocok dengan cabang iman ini.


TANYA JAWAB

Untuk kondisi saat ini implementasi dari cabang iman mengkibarkan dakwah untuk tidak mundur selangkahpun, harus seperti apa untuk memenangkannya?
Untuk konteks dakwah sekarang, beberapa strateginya menggunakan komunikasi, syiar supaya terus dijalankan tidak mundur selangkahpun. Tidak merasa capek, lelah, terintimidasi.

Apakah perjuangan orang-orang di Palestina termasuk kategori berteguh hati?
Perjuangan di Palestina termasuk makna pertama jihad. Mereka terus bertahan tidak mundur, bagian dari implementasi cabang iman ini.

Assalamu’alaikum ustadz mau tanya bagaimana kita menghadapi musuh yang ternyata adalah sesama muslim juga memerangi Islam dengan cara menistakan agamanya?
Kita mengikuti Nabi, sifat-sifat ini ada di orang munafiq walaupun tetap kita tidak boleh menghakimi karena hanya Allah yang tahu mengenai kemunafiqan seseorang. Strategi utamanya Nabi meletakkan mereka dalam jangkauan tapi mereka tidak bisa menjangkau Nabi. Mereka berada dalam kontrol Nabi tapi tidak sebaliknya.

Kadang ketika sebuah keputusan diambil ada peninjauan kembali, bagaimana batasannya?
Jika nyata-nyata mengandung kesalahan/berbahaya maka bisa ditinjau kembali atau bahkan dibatalkan.

Assalamualaikum Ustadz apakah betul musuh terbesar kita adalah hawa nafsu?
Itu adalah hadits dhaif tetapi maknanya betul.

Apakah sama untuk kasus amar ma’ruf pengertian berteguh hati dengan konsistensi?
Sama, supaya kita tidak sedikit-sedikit menyerah, tidak pernah mundur

Dalam kondisi sekarang yaitu melimpahnya informasi dapat diakses dari mana saja, berkaitan dengan ghibah bagaimana memilahnya?
Bisa jadi saling tumpang tindih antara dakwah dengan ghibah, tapi bisa diijinkan dalam 3 hal: untuk kemaslahatan umum, jika orangnya bangga dengan keburukan, untuk pengadilan.

wallahu a’lam bishawab.
Notulensi ditulis oleh tim Formula Hati (GZ).

Comments to: KCI51. (28):Berteguh Hati Melawan Musuh dan Tidak Melarikan Diri

Your email address will not be published. Required fields are marked *