1. Arsip Kajian Akhlak dan Adab (KAA)

KAA50. Akhlak Rendah Diri (Tawadhu’)

Kajian Akhlak dan Adab – Rabu, 8 Rabiul Akhir 1444 H / 2 November 2022

‎بسم الله الرحمن الرحيم
‎أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
‎وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

# Sejenak Bersama Al-Qur’an: Surat Yusuf (12): 70-76

فَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ جَعَلَ السِّقَايَةَ فِي رَحْلِ أَخِيهِ ثُمَّ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ أَيَّتُهَا الْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسَارِقُونَ ﴿ ٧٠﴾
[12:70] Maka tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan: “Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri”.

قَالُوا وَأَقْبَلُوا عَلَيْهِمْ مَاذَا تَفْقِدُونَ ﴿ ٧١﴾
[12:71] Mereka menjawab, sambil menghadap kepada penyeru-penyeru itu: “Barang apakah yang hilang dari pada kamu?”

قَالُوا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وَأَنَا بِهِ زَعِيمٌ ﴿ ٧٢﴾
[12:72] Penyeru-penyeru itu berkata: “Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya”.

قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا جِئْنَا لِنُفْسِدَ فِي الْأَرْضِ وَمَا كُنَّا سَارِقِينَ ﴿ ٧٣﴾
[12:73] Saudara-saudara Yusuf menjawab “Demi Allah sesungguhnya kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para pencuri”.

قَالُوا فَمَا جَزَاؤُهُ إِنْ كُنْتُمْ كَاذِبِينَ ﴿ ٧٤﴾
[12:74] Mereka berkata: “Tetapi apa balasannya jikalau kamu betul-betul pendusta?”

قَالُوا جَزَاؤُهُ مَنْ وُجِدَ فِي رَحْلِهِ فَهُوَ جَزَاؤُهُ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ ﴿ ٧٥﴾
[12:75] Mereka menjawab: “Balasannya, ialah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya)”. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim.

فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاءِ أَخِيهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِنْ وِعَاءِ أَخِيهِ ۚ كَذَٰلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ ۖ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ ﴿ ٧٦﴾
[12:76] Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.

# Pelajaran dari ayat

  1. Diperbolehkannya untuk bersiasat selama caranya dapat dibenarkan. Setiap Nabi memiliki syariatnya masing-masing. Yusuf bersiasat untuk mendatangkan ayah ibunya dengan cara menahan adiknya. Siasat itu harus sesuai dengan syariat yang ada.
  2. Akhir dari orang-orang yang berbuat dzalim (kepada Yusuf) itu akan memakan kedzalimannya sendiri. Saudara-saudara Yusuf itu akhirnya tersudut. Orang yang didzalimi akan mendapatkan tempat yang mulia dan orang yang mendzalimi akan mendapatkan tempat yang tidak mulia.

MATERI: AKHLAK RENDAH HATI (TAWADHU’) DAN EKSPRESINYA

# Pembagian Bab Akhlak:

  1. Bab Tazkiyatun Nafs – Sikap mental atau sikap hati, materi mendasar
  2. Bab Akhlak (Budi Pekerti) – Sikap yang paling tampak dan sehari-hari
  3. Bab Adab (Etika) – Akhlak yang diberi konteks

Turunan materi: Bab kepribadian, karakter, perilaku, sopan santun, etika.

# Dalil Al-Qur’an mengenai Tawadhu’:

  • QS Al-Furqan (25):63
  • QS Ali Imran (3):159
  • QS Al-Maidah (5):54
  • QS Al-Isra (17):24
  • QS Al-Qasas (28):83

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ﴿ ٦٣﴾
[QS Al-Furqan (25):63] Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ ﴿ ١٥٩﴾
[QS Ali Imran (3):159] Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Keluarga Imran: mulai dari Zakaria (Nabi), Yahya (Nabi), Imran, Maryam, Isa (Nabi).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴿ ٥٤﴾
[QS Al-Maidah (5):54] Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا ﴿ ٢٤﴾
[QS Al-Isra (17):24] Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ ﴿ ٨٣﴾
[QS Al-Qasas (28):83] Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

# Hadits Nabi mengenai Tawadhu’:

Tidaklah shadaqah itu mengurangi harta, dan tidaklah seseorang itu memaafkan orang lain itu melainkan ditambahkan kemuliaannya, dan tidaklah seseorang itu tawadhu’ karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.

Allah memerintahkan kepadaku agar kalian tawadhu, tidak sombong satu dengan yang lain

# Dasar Definisi

# Dampak

# Tips Praktis untuk mendorong kita berakhlak Tawadhu’:

  1. Perbaiki mindset bahwa kita adalah hamba Allah. Semua kelebihan yang diberikan Allah kepada kita adalah pemberian Allah. Kita tidak sombong, tapi tidak juga rendah diri. Konsep diri adalah rendah hati.
  2. Sering bersama orang-orang yang tawadhu. Sebaliknya, jika kita sering bersama-sama orang sombong, maka kita akan ikut sombong.
  3. Bacalah kisah-kisah orang shaleh, terutama salafushshaleh. Misal, bagaimana Nabi memuliakan anak kecil, para pembantu dan seterusnya.
  4. Bacalah ayat dan hadits yang terkait dengan tawadhu.

# TANYA JAWAB

wallahu a’lam bishowab
Ditulis oleh Tim Formula Hati (AA)

Kutipan:
https://www.mushaf.id/

Comments to: KAA50. Akhlak Rendah Diri (Tawadhu’)

Your email address will not be published. Required fields are marked *