1. Arsip Kajian Cabang Iman (KCI)

KCI46. (24): I’tikaf di Masjid

Kajian Cabang Iman – Jum’at, 8 Dzulhijjah 1443 H / 8 Juli 2022

‎بسم الله الرحمن الرحيم
‎أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
‎وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

# Sejenak Bersama Al-Qur’an – Surat As-Saffat ayat 103-110

فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ
[103] Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah).

وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ
[104] Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim!

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ
[105] sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ
[106] Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ
[107] Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۖ
[108] Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,

سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ
[109] ”Selamat sejahtera bagi Ibrahim.”

كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ
[110] Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Pelajaran Ayat:

  1. Nabi Ibrahim a.s telah melaksanakan perintah Allah dalam mimpinya, yaitu menyembelih Nabi Ismail a.s. Lalu, Allah mengganti Nabi Ismail dengan sembelihan yang besar (domba)
  2. Kisah Nabi Ibrahim ini adalah ujian yang nyata: seorang anak yang dinantikan kelahirannya, kemudian diminta berpisah dan disembelih dengan tangannya sendiri di depan keluarganya
  3. Allah abadikan jejak-jejak ini pada orang-orang yang datang kemudian, dengan bentuk ibadah haji
  4. Nabi Ibrahim mendapatkan salam dari Allah, artinya ini adalah suatu kemuliaan
  5. Ciri orang muhsin (orang yang berbuat baik) adalah menjalani ujian dari Allah dengan sebaik-baiknya dan berserah diri pada Allah
  6. Allah menguji hamba-Nya karena Dia Maha Penyayang agar kelak hamba-Nya mendapat balasan berupa limpahan karunia yang besar
# Cabang Iman ke 24 – I’tikaf di Masjid

Dasar Al-Qur’an Surat Al Baqarah ayat 125

وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ
Artinya: “…Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!”

Dasar Hadits:
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat. (HR. Bukhari dan Muslim)

I’tikaf adalah ibadah yang Rasulullah SAW kerjakan setiap tahun (Ramadhan), artinya ibadah ini bukan perkara biasa. Imam Baihaqi meletakkan i’tikaf menjadi bagian dari iman, karena perintah dasar nya disandingkan degan hal-hal yang pokok. I’tikaf adalah salah satu bentuk memakmurkan masjid

Secara bahasa, i’tikaf makna nya berdiam. I’tikaf adalah berada di masjid dengan niat khusus meskipun sesaat. Batas minimalnya adalah sesaat (tasbih). Hal-hal yang membatalkan i’tikaf, yakni keluar dari masjid dan dalam keadaan junub.

Hikmah I’tikaf di Masjid

  1. Jika masyarakat ramai ke masjid melalui shalat dan i’tikaf, maka masjid menjadi pusat kegiatan. Ketika masyarakat berpusat di masjid, maka masjid akan men-drive kehidupan masyarakat. Sebaliknya, jika masyarakat jarang ke masjid, dan pusat kegiatan berada di pasar (mall, tempat makan, dll) maka masyarakat akan di-drive oleh pasar.
  2. Suasana hati bisa ditebak dengan dimana dia sering berada. Jika tidak memenuhi kualifikasi, akan sulit untuk ke masjid. Jika kita bisa i’tikaf di masjid, maka pertanda hati kita baik
  3. I’tikaf adalah salah satu kegiatan yang paling dekat dengan memakmurkan masjid. Memakmurkan masjid adalah ibadah yang besar. Jika masjid makmur maka masyarakat makmur, karena limpahan berkah dari Allah.
  4. Orang yang memakmurkan masjid termasuk dalam orang yang hatinya bergantung ke masjid. Golongan ini lah yang terdapat dalam hadits Nabi, sebagai salah satu dari 7 golongan yang dinaungi Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

TANYA JAWAB

1. Apakah menunggu waktu syuruq sesudah subuh dengan niat I’tikaf sudah dianggap sebagai itikaf?
Jawaban: Boleh, karena i’tikaf artinya berdiam di masjid walaupun sesaat hanya bertasbih.

2. Bolehkah pahala itikaf diniatkan untuk keluarga kita?
Jawaban: Hal ini termasuk khilaf para ulama. Utamakanlah ibadah yang diniatkan untuk orang lain, seperti haji, shodaqoh, do’a.

3. Kegiatan ibadah apa yang paling baik saat itikaf?
Jawaban: Apa saja, shalat, dzikir, tilawah, taubat. Nabi banyak membaca taubat

4. Tentang masjid sebagai pusat kegiatan, sekarang terjadi perubahan paradigma di kalangan umat islam sendiri, bahwa masjid adalah tempat yang harusnya steril karna merupakan tempat ibadah. Bagaimana menyikapi ini ustadz?
Jawaban: Perlu penguatan paradigma di masyarakat. Yang tidak boleh dilakukan di masjid adalah perbuatan maksiat dan berdagang. Selain 2 hal tersebut diperbolehkan. Jadi, jangan terlalu berlebihan dalam menyucikan masjidnya, karena nanti malah tidak terjamah.

5. Mohon pencerahan larangan dalam berdagang di masjid saat ada kajian majelis dan lainnya?
Jawaban: Saat di masjid, mohon menghindari dagang dan hal-hal yang terkait dengan itu. Karena dalam hadits, Nabi bersabda (dalam konteks ada yang berdagang di masjid) dengan “…Semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perniagaanmu…”

6. Jika di masjid, anak-anak remaja belajar musik Islam dan latihan drama islami apakah diperbolehkan?
Jawaban: Permasalahan musik terjadi khilaf para ulama, tetapi 4 madzhab sepakat mengharamkan musik. Sehingga hindari lah aktivitas tersebut.

7. Apakah para ibu diperbolehkan ikut i’tikaf di masjid walaupun sebentar, yang penting diniatkan?
Jawaban: Boleh, karena istri-istri Nabi i’tikaf setelah Nabi wafat.

8. Kapan dilakukan niat i’tikaf?
Jawaban: Niat i’tikaf dilakukan saat masuk masjid.

9. Apakah boleh didalam masjid para wanita belajar qosidahan tanpa menggunakan rebana atau tidak?
Jawaban: Boleh, tapi pastikan masjid khusus wanita, karna wanita adalah aurat dan fitnah. Fakta psikologisnya, laki-laki memandang wanita itu dari fisik dan suaranya. Sedangkan wanita melihat laki-laki dari akhlaknya.

10. Bagaimana hukumnya shalawat di masjid atau tidak disertai dengan alunan nada seperti yang sering dilakukan di mushola?
Jawaban: Boleh, tidak apa-apa.

  • Khilaf para ulama
  • Termasuk kategori adab/etika (sesuai dengan kondisi sekitar). Contohnya, di Arab wanita menggunakan speaker itu tidak beradab, tetapi di Indonesia tidak apa-apa.
  • Tergantung sudut pandang (walimah di masjid sehingga shalat tidak tepat waktu/meninggalkan shalat)

wallahu a’lam bishawab.
Notulensi ditulis oleh tim Formula Hati (FA).

Comments to: KCI46. (24): I’tikaf di Masjid

Your email address will not be published. Required fields are marked *