1. Arsip Kajian Cabang Iman (KCI)

KCI37. (19) Mengagungkan Al-Qur’an

Kajian Cabang Iman – Jum’at, 8 Syaban 1443 H / 11 Maret 2022

‎بسم الله الرحمن الرحيم
‎أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
‎ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Sejenak Bersama Al-Qur’an QS As-Saffat (37): 40-44

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ
[37:40] kecuali hamba-hamba Allah yang diikhlaskan/dibersihkan (dari dosa).
أُولَٰئِكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَعْلُومٌ
[37:41] Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu,
فَوَاكِهُ ۖ وَهُمْ مُكْرَمُونَ
[37:42] yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan,
فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ
[37:43] di dalam surga-surga yang penuh nikmat.
عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ
[37:44] di atas takhta-takhta kebesaran berhadap-hadapan.

Pelajaran Ayat
  • Hamba-hamba Allah yang ikhlas akan selamat dari azab yang pedih, dan memperoleh rizki yang jelas
  • Rizki yang jelas letaknya yaitu berada di surga yang penuh dengan kenikmatan
Cabang Iman ke 19 – Mengagungkan Al Qur’an

Dasar Hukum:

لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
[59:21] Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ
[56:77] Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,
فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ
[56:78] pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),
لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
[56:79] tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.
تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
[56:80] Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin.

وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَىٰ ۗ بَلْ لِلَّهِ الْأَمْرُ جَمِيعًا ۗ أَفَلَمْ يَيْأَسِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا ۗ وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُمْ بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلُّ قَرِيبًا مِنْ دَارِهِمْ حَتَّىٰ يَأْتِيَ وَعْدُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
[13:31] Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

[HR Bukhari]
“Sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya”.

[HR Bukhari Muslim]
“Jagalah (hafalan) Al-Qur’an itu, maka demi Dzat, jiwaku di kekuasaaNya, sungguh ia (Al-Qur’an) lebih cepat lepasnya daripada unta dari ikatannya”.

[HR Bukhari]
“Tidak ada hasad kecuali terhadap dua hal: (terhadap) seseorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah lalu dia mengamalkannya dan mengajarkannya (kepada orang lain).”

[HR Muslim]
Dari Umar RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah mengangkat derajat beberapa kaum melalui kitab ini (Alquran) dan Dia merendahkan beberapa kaum lainnya melalui kitab ini pula.”

Hukum memuliakan Al Qur’an:
Wajib atau sunnah muakkadah

Bentuk-bentuk memuliakan Al Qur’an:
  1. Membacanya: membaca sesuai dengan tajwid, membaca sesuai dengan makhorijul huruf, membaca dengan lancar (tidak terbata-bata), membaca dengan suara yang merdu
  2. Memahami makna Al Qur’an: memahami dengan terjemahan, memahami dengan tafsirnya
  3. Menghafal apa yang mampu dari qur’an
  4. Tadabbur Al Qur’an: memahami dengan menghadirkan hati, sehingga menimbulkan rasa takut dan harap
  5. Mengamalkan Al Qur’an: amal hati, amal perbuatan (shalat, puasa), amal lisan (berkata jujur, berkata baik)
  6. Mengajarkan Al Qur’an
  7. Membela Al Qur’an dari apa/siapa saja yang menghinakan
  8. Apa saja yang masuk kategori memuliakan dan tidak menghinakan (contoh Al Qur’an ditaruh di tempat yang tinggi)

TANYA JAWAB

Ijin bertanya bagaimana cara melagukan Al Quran supaya konsisten. Bagi awam/pemula suka mengikuti sesuai yang baru di dengar. Misal saat ajari anak ikut irama gurunya. Ganti dengar di youtube imam Masjidil Harom ya tiba2 ikuti itu.
Setiap orang punya kemampuan seni masing-masing, ada yang bisa meniru lagu dengan baik ada yang loncat-loncat lagunya. Hal ini dibolehkan karena hukumnya sunnah sehingga tidak apa-apa loncat-loncat lagunya. Cara yang paling mudah yaitu sebelum kokoh lagunya jangan berpindah-pindah, supaya konsisten di satu lagu saja.

Bagaimana jika membaca Qur’an via aplikasi android. Karena lebih flexibel. Kalau bawa Mushaf takut tidak bisa menjaganya.
Boleh saja, aplikasi itu membantu lebih memudahkan kita

Kalau AL Qur’an dengan HP tidak perlu berwudhu, tapi mengucapkannya kan perlu suci, itu bagaimana Ustadz?
Ada hukum menyentuh dan membaca. Untuk menyentuh mushaf harus suci dari hadats besar/kecil, kalau bukan mushaf boleh tidak suci (misalkan di HP). Untuk membaca wajib suci hadats besar tidak wajib suci dari hadats kecil, tapi lebih bagus jika suci (disunnahkan).

Biasanya kita mengaji pada waktu tertentu saja (di bulan puasa rajin), bagaimana supaya bisa istiqomah?
Tips langkah-langkah supaya istiqomah:

  • Berani memasuki proses pembiasaan, dimulai dari yang paling kecil
  • Mencari momen yang pas misal bada subuh bada magrib
  • Mengikuti grup tilawah

Saya lagi coba menghafalkan alquran dari belakang juz 30, bolehkah menghafalkannya dengan cara ketika sholat membuka mushaf dan membacanya (mengintip mushaf)?
Sebenarnya hukumnya boleh tapi dengan catatan jangan banyak gerakan karena bisa batal shalatnya. Teknik paling gampang punya mushaf yang besar ditaruh di depan sehingga tidak perlu bolak balik halaman. Supaya lebih mudah menghafal di usia yang sepuh salah satu tekniknya yang bisa dicoba yaitu memperbanyak dengar tilawah, nanti lama-lama hafal sendiri.

Terkait pemusnahan Quran apa yang harus dilakukan, misal ada mushaf yang sudah rusak tidak bisa dibaca lagi atau kita punya banyak buku Yasin?
Kalau menurut ijtihad ulama mushaf yang sudah rusak lebih baik dibakar kemudian dikuburkan. Kalau buku Yasin masih bagus lebih baik disumbangkan ke pondok atau orang yang membutuhkan.

wallahu a’lam bishawab.
Notulensi ditulis oleh tim Formula Hati (GZ)

Comments to: KCI37. (19) Mengagungkan Al-Qur’an

Your email address will not be published. Required fields are marked *