1. Arsip Kajian Cabang Iman (KCI)

KCI45. (23): Bab Puasa

Kajian Cabang Iman – Jum’at, 1 Dzulhijjah 1443 H / 1 Juli 2022

‎بسم الله الرحمن الرحيم
‎أَشْهَدُ اَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه
‎وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

# Sejenak Bersama Al-Qur’an QS As-Saffat (37): 99-102

وَقَالَ اِنِّيْ ذَاهِبٌ اِلٰى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
[37:99] Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
[37:100] Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.”

فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ
[37:101] Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
[37:102] Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar

Pelajaran Ayat:

  1. Ketika seorang mukmin menghadapi sesuatu yang berat atau mengancamnya, solusi terbaik adalah menghadap pada Rabb-nya (shalat dan berdo’a), karena Rabb-nya Maha Kuasa untuk menentukan segalanya.
  2. Dalam konteks dakwah (apalagi situasinya tidak kondusif), kaum muslimin perlu memperhatikan siapa penerusnya. Konteks secara umum adalah pentingnya memperhatikan, memohon dan mengusahakan anak-anak/ keturunan yang sholeh, sehingga agama akan terjaga. Selain itu, anak-anak yang sholeh dapat meneruskan kebaikan yang sudah kita jalankan dan kebaikan tersebut mengalir hingga akhirat.
  3. Kemuliaan keluarga Nabi Ibrahim a.s tercermin dengan sangat taatnya keluarga beliau kepada Allah SWT.
# Cabang Iman ke 23 – Puasa

Dasar kewajiban perintah puasa Ramadhan kepada orang mukmin:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa,” [QS. Al Baqarah ayat 183]

Kewajiban puasa turun di tahun ke-2 hijrah. Sebelum ada perintah puasa, Rasulullah SAW berpuasa 3 hari per bulan (tanggal 13,14,15) yang selanjutnya kita kenal menjadi puasa sunnah. Contoh puasa sunnah lainnya, seperti Senin-Kamis, Puasa Arafah, Puasa Asyura, dan lainnya.

Rangkaian Sejarah
Di tahun ke-2 hijrah, terjadi rangkaian sejarah pensyari’atan yang indah. Dimulai dari puasa Ramadhan, diikuti dengan perang Badar yang juga terjadi di bulan puasa tersebut, dan setelahnya terdapat syari’at bar, yaitu Idul Fitri dan Zakat. Rangkaian sejarah ini menunjukkan bahwa puasa adalah dasar untuk mengantarkan pada kemenangan perang, dan kemenangan Perang mengantarkan pada syari’at Idul Fitri.

1. Sudut Tarikh Tasyri’
Puasa adalah alas untuk membangun pematangan diri agar umat Islam sanggup menanggung beban yang paling berat dalam Islam (jihad/ berperang), sehingga dapat mencapai puncak kebahagiaan (Idul Fitri).

2. Target Syariat Puasa
Allah SWT ingin menjadikan hamba-hamba yang mukmin untuk bertaqwa dengan latihan berpuasa. Jika seorang mukmin bertakwa, maka dunia dan akhiratnya akan bahagia sebagaimana dalam QS. Al Hujurat ayat 13: “…. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa….” dan di firman Allah yang lain, yaitu QS. At Talaq ayat 2-3. Kesimpulannya, ibadah puasa mengantarkan kesuksesan, kemuliaan, keberkahan hidup di dunia dan akhirat.

Kesimpulan:

  • Islam tidak sekedar mendorong kita puasa, tetapi mengikutkan sekian amal untuk menguatkan dan membantu puasa untuk menuju target.
  • Puasa adalah muara membentuk totalitas ketakwaan pada Allah SWT.
  • Seseorang yang baik puasanya, maka in syaa Allah baik agamanya
TANYA JAWAB

1. Assalamu’alaikum ustadz, mohon penjelasan tentang shaum Arafah. Untuk kondisi tahun ini di Indonesia, dimana hasil sidang isbat Idul Adha tanggal 10 Juli sehingga puasa tidak sama dengan orang wukuf di Arafah?
Pendapat 1: hari Arafah adalah hari dimana orang-orang di Arafah.
Pendapat 2: hari Arafah adalah tanggal 9 Dzulhijjah.

Pendapat yang rajih adalah puasa Arafah bermakna tanggal 9 Dzulhijjah, bukan hari dimana orang di Arafah. Sehingga muncul hukum beribadah sesuai tanggal yang ditentukan negaranya masing-masing.

2. Assalamu’alaykum ustadz, apa ibadah puasa sunnah yang paling afdhol di awal Dzulhijjah? Apakah berpuasa di tanggal 1-9 atau hanya 8-9 Dzulhijjah? Mohon dijelaskan makna puasa di bulan Dzulhijjah
Berdasarkan hadits ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah)….”. [HR. Abu Daud]

Menurut jumhur ulama: amal sholeh disini ialah secara umum, yaitu termasuk shalat, shodaqoh, tidak hanya puasa. Sehingga dari hadits ini, disimpulkan puasa 1-9 Dzulhijjah bersifat sunnah. Sementara, untuk puasa Arafah ada hadits khusus tersendiri.

3. Bolehkah melaksanakan shalat Idul Adha di rumah?
Boleh, tetapi tidak mendapatkan sunnah shalat berjamaah, sunnah di masjid/ mushola, serta sunnah Khutbah.

4. Seseorang berdomisili di New Zealand (4 jam lebih awal dibandingkan Indonesia). Menurut Komunitas Muslim disana, penetapan tanggal 1 Dzulhijjah jatuh di 2 Juli (karena hilal belum tampak). Harus ikut keputusan yang mana untuk penentuan 1 Dzulhijjah-nya?
Silakan mengikuti imam muslim/ mufti di negara masing-masing.

5. Apakah betul jika kita ber-qurban dan hewan qurban disembelih, maka kita tidak boleh puasa lagi?
Ibadah ber-qurban hanya terikat pada waktu dan tanggal dimana tempat hewan tersebut disembelih

6. Jika kita sedang dalam masa iddah, maka sebaiknya shalat Idul Adha dirumah atau dimasjid/ lapangan?

  • Larangan dengan makna: demi keamanan, menjaga fitnah
  • Larangan tanpa makna: mau alasan apapun tidak boleh

Tetapi untuk situasi sepertinya, sebetulnya tidak apa-apa karna kondisi shalat Idul Adha bersama keluarganya.

7. Bila kita tidak berkurban untuk diri sendiri dengan alasan sudah pernah berkurban, tetapi kita berkurban untuk keluarga yang belum bisa berkurban, apakah diperbolehkan? Dan baikkah dilakukan selanjutnya bila dibolehkan?
Boleh berkurban atas nama orang lain, termasuk yang sudah meninggal. Hal ini adalah sebagai bentuk kebaikan untuk menyempurnakan agamanya. Kita mendapat pahala karna memfasilitasi orang tersebut untuk berkurban.

wallahu a’lam bishawab.
Notulensi ditulis oleh tim Formula Hati (FA).

Comments to: KCI45. (23): Bab Puasa

Your email address will not be published. Required fields are marked *