{"id":609,"date":"2023-05-23T14:29:23","date_gmt":"2023-05-23T07:29:23","guid":{"rendered":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/?p=609"},"modified":"2023-05-26T14:31:20","modified_gmt":"2023-05-26T07:31:20","slug":"kah32-kitab-al-hikam-hikmah-ke-32","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/?p=609","title":{"rendered":"KAH32. Kitab Al-Hikam Hikmah ke-32"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kuliah Al-Hikam &#8211; Selasa, 2 Dzulqa&#8217;dah 1444 H \/ 23 Mei 2023<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u0628\u0633\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0631\u062d\u0645\u0646 \u0627\u0644\u0631\u062d\u064a\u0645<br>\u0623\u064e\u0634\u0652\u0647\u064e\u062f\u064f \u0627\u064e\u0646\u064e\u0651 \u0644\u0627\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u0647\u064e \u0625\u0650\u0644\u0627\u064e\u0651 \u0627\u0644\u0644\u0651\u0670\u0647<br>\u0648\u064e\u062d\u0652\u062f\u064e\u0647\u064f \u0644\u0627\u064e \u0634\u064e\u0631\u0650\u064a\u0652\u0643\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f, \u0648\u064e\u0623\u064e\u0634\u0652\u0647\u064e\u062f\u064f \u0623\u064e\u0646\u0651\u064e \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u0651\u064e\u062f\u064b\u0627 \u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u064f\u0647\u064f \u0648\u064e\u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f\u0647\u064f<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"KAH32. Kuliah Al-Hikam Hikmah ke-32 - Ust Muhsinin Fauzi (23 Mei 2023)\" width=\"720\" height=\"405\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/WWFfMuVV7aM?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong># Pengantar Tazkiyatun Nafs<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam mendalami ilmu Tazkiyatun Nafs, hal yang paling utama dibutuhkan agar ilmunya bisa terbentuk adalah melalui ketekunan, yakni kesabaran untuk menjalaninya. Hal ini disebut sebagai ilmu perilaku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Misal, ilmu tentang sabar yang tentunya sudah kita dapatkan berulang kali, apakah saat ini kita memang sudah sabar? Hal ini butuh ketekunan untuk mendalaminya. kita terus meniti jalan supaya semakin terbuka dan terbuka sampai Allah berikan sifat itu. Ketaqwaan itu didatangkan Allah ke dalam hati kita. ketika suatu saat sifat ini tercabut, maka kita perlu masuk lagi untuk menekuninya. Dzikir dan ibadah itu menjadi penting dan lebih penting lagi adalah latihan menyikapi hidup karena hidup ini adalah madrasah. Perlu adanya ketekunan untuk melatih diri sendiri.<\/p>\n\n\n\n<h5 class=\"wp-block-heading\"># AL-HIKAM, HI<em>KMAH KE-32<\/em><\/h5>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" start=\"32\">\n<li>&#8211; \u062a\u064e\u0634\u064e\u0648\u0651\u064f\u0641\u064f\u0643\u064e \u0625\u0644\u0649 \u0645\u0627 \u0628\u064e\u0637\u064e\u0646\u064e \u0641\u064a\u0643\u064e \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0639\u064f\u064a\u0648\u0628\u0650 \u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u064c \u0645\u0650\u0646\u0652 \u062a\u064e\u0634\u064e\u0648\u0651\u064f\u0641\u0650\u0643\u064e \u0625\u0644\u0649 \u0645\u0627 \u062d\u064f\u062c\u0650\u0628\u064e \u0639\u064e\u0646\u0652\u0643\u064e \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u063a\u064f\u064a\u0648\u0628\u0650.<br><em><strong>Kerinduanmu terhadap aib, cela atau kekurangan yang tidak tampak itu lebih baik daripada kerinduanmu terhadap hal-hal gaib yang tidak tampak darimu.<\/strong><\/em><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini adalah istilah-istilah yang biasa digunakan dalam ilmu tasawuf, seperti ghuyub dan ghaib. Bahasa-bahasa yang digunakan oleh Ibnu Athaillah (penulis kitab Al Hikam) adalah khas dan khusus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apakah yang dimaksud dengan rindu terhadap aib yang tidak tampak? Maksudnya adalah kerinduan atau suka untuk melihat kekurangan diri sendiri. Hal ini lebih baik daripada melihat hal-hal ghaib yang belum tampak, yakni hal-hal yang belum tampak bagi orang-orang yang sedang meniti jalan ini seperti karomah dan rahasia ilahiyah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di dalam syarah kitab ini disebutkan bahwa ketika engkau terus melihat atau introspeksi untuk kekurangan-kekurangan yang tidak tampak padamu itu lebih baik daripada engkau melihat karomah dan rahasia ilahiyah. Kekurangan-kekurangan diri yang tidak tampak itu seperti kesombongan, iri, riya, ujub, dst.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ujub<\/strong><br>Ujub berarti mengagumi diri sendiri. Dalam islam, sikap ini tidak diperbolehkan. Seseorang mengklaim semua kebaikan yang ada pada dirinya adalah miliknya sendiri. Yang diperbolehkan itu adalah mensyukuri karunia Allah. <em>Syukur<\/em> berarti membesarkan Allah SWT. Ia mengklaim semuanya adalah pemberian dan milik Allah SWT. Alhamdulillah, Allah memberi banyak kebaikan kepada kita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Riya<\/strong><br>Riya berarti kekaguman terhadap diri sendiri yang ingin dilihat orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Sum&#8217;ah<\/strong><br>Sum&#8217;ah berarti kekaguman terhadap diri sendiri yang ingin didengar orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Mudahanah<\/strong><br>Mudhanah berarti beradaptasi dengan keadaan dengan cara melanggar syariat. Ini adalah sikap yang tidak komitmen terhadap agama demi kepentingan dunia. Seseorang menomorduakan agama untuk kepentingan dunianya. Mudahanah ini adalah sikap dari orang munafik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Suka Kekuasaan<\/strong><br>Seorang mukmin boleh berkuasa namun tidak boleh berhasrat terhadap kekuasaan atau kepemimpinan. Ada perbedaan yang tipis antara kepemimpinan dan kewajiban amar ma&#8217;ruf nahi mungkar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di dalam islam, salah satu yang tidak boleh diminta adalah kekuasaan dan yang boleh diminta adalah rizki, sebagaimana sabda Nabi. Namun, Allah menyuruh kita untuk amar ma&#8217;ruf nahi mungkar. Lalu bagaimana dengan ini, karena tidak mungkin amar ma&#8217;ruf nahi mungkar tanpa kekuasaan? Hal ini dijawab pada ayat: <em>berbuatlah, maka Allah dan rasul-Nya akan melihat perbuatanmu.<\/em> Caranya adalah dgn membangun reputasi atau memperbanyak beramal sebagai karya nyata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Orang yang punya reputasi akan dipercaya oleh masyarakat sehingga akan diangkat menjadi pemimpin. contoh, Abu bakar dan Umar yang memiliki reputasi di dalam masyarakat. Tasawuf harus dipercaya secara komprehensif sehingga seseorang yang mengamalkannya tidak menjadi orang yang kecil dan lemah. Seseorang harus memiliki karakter dan akhlak yang baik namun ia tetap berada di tengah-tengah masyarakat (untuk menyebarkan kebaikan).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Menyikapi penyakit hati<\/strong><br>Ketika seseorang terus memperhatikan penyakit-penyakit hati di atas bahkan sampai berusaha untuk memperbaikinya, maka ini jauh lebih baik ketimbang memperhatikan hal-hal gaib lainnya seperti karomah, dst. Hasil dari latihan yang kita jalani adalah kedekatan dengan Allah. kalau bisa dekat dengan Allah, maka doa kita bisa mustajab. Namun, tetaplah lebih baik bagi Allah ketika kita fokus pada kegiatan memperbaiki diri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong># Pesan dari hikmah: Fokus memperbaiki diri<\/strong><br>Penyakit-penyakit hati tadi harus diselesaikan segera karena bisa jadi terus ada di dalam diri sampai tua jika tidak diselesaikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Doa bercermin:<\/strong><br>\u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f\u0645\u064e\u0651 \u0643\u064e\u0645\u064e\u0627 \u062d\u064e\u0633\u064e\u0651\u0646\u0652\u062a\u064e \u062e\u064e\u0644\u0652\u0642\u0650\u064a \u0641\u064e\u062d\u064e\u0633\u0650\u0651\u0646\u0652 \u062e\u064f\u0644\u064f\u0642\u0650\u064a<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Alloohumma kamaa hassanta kholqii fahassin khuluqi<\/em><br><em>Ya Allah, sebagaimana Engkau baguskan tubuhku, maka baguskanlah akhlakku.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Wallahu a\u2019lam bishowab<\/em><br><em>Ditulis oleh Tim Formula Hati (AA)<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kuliah Al-Hikam &#8211; Selasa, 2 Dzulqa&#8217;dah 1444 H \/ 23 Mei 2023 \u0628\u0633\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0631\u062d\u0645\u0646 \u0627\u0644\u0631\u062d\u064a\u0645\u0623\u064e\u0634\u0652\u0647\u064e\u062f\u064f \u0627\u064e\u0646\u064e\u0651 \u0644\u0627\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u0647\u064e \u0625\u0650\u0644\u0627\u064e\u0651 \u0627\u0644\u0644\u0651\u0670\u0647\u0648\u064e\u062d\u0652\u062f\u064e\u0647\u064f \u0644\u0627\u064e \u0634\u064e\u0631\u0650\u064a\u0652\u0643\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f, \u0648\u064e\u0623\u064e\u0634\u0652\u0647\u064e\u062f\u064f \u0623\u064e\u0646\u0651\u064e \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u0651\u064e\u062f\u064b\u0627 \u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u064f\u0647\u064f \u0648\u064e\u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f\u0647\u064f # Pengantar Tazkiyatun Nafs Dalam mendalami ilmu Tazkiyatun Nafs, hal yang paling utama dibutuhkan agar ilmunya bisa terbentuk adalah melalui ketekunan, yakni kesabaran untuk menjalaninya. Hal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"stax_show_title_section":"","stax_single_post_media_panel_height":"","stax_single_post_media_panel_text":"","stax_single_post_cateory_breadcrumb":"","stax_single_post_title_position":"","stax_single_post_title_align":"","stax_single_post_title_extra_align":"","stax_single_post_title_size":"","stax_single_post_image_width":"","stax_single_post_image_format":"","stax_single_post_audio_panel":"","stax_single_post_video_panel":"","stax_single_post_video_width":"","stax_single_post_gallery_panel":"","stax_single_post_gallery_width":"","stax_single_post_gallery_slides":"","stax_single_post_meta_author_avatar":"","stax_single_post_meta_author_name":"","stax_single_post_meta_post_date":"","stax_single_post_meta_reading_time":"","stax_single_post_shapes":"","footnotes":""},"categories":[19],"tags":[],"class_list":["post-609","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-arsip-kuliah-al-hikam-kah"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/609","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=609"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/609\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":611,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/609\/revisions\/611"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=609"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=609"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=609"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}