{"id":598,"date":"2023-05-18T07:14:25","date_gmt":"2023-05-18T00:14:25","guid":{"rendered":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/?p=598"},"modified":"2023-05-18T07:14:38","modified_gmt":"2023-05-18T00:14:38","slug":"ktm76-manfaat-mudharat-dan-ketaqwaan","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/?p=598","title":{"rendered":"KTM76. Manfaat, Mudharat dan Ketaqwaan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kuliah Tafkir Islami &#8211; Kamis, 27 Syawal 1444 H \/ 18 Mei 2023<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200e\u0628\u0633\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0631\u062d\u0645\u0646 \u0627\u0644\u0631\u062d\u064a\u0645<br>\u200e\u0623\u064e\u0634\u0652\u0647\u064e\u062f\u064f \u0627\u064e\u0646\u064e\u0651 \u0644\u0627\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u0647\u064e \u0625\u0650\u0644\u0627\u064e\u0651 \u0627\u0644\u0644\u0651\u0670\u0647<br>\u200e\u0648\u064e\u062d\u0652\u062f\u064e\u0647\u064f \u0644\u0627\u064e \u0634\u064e\u0631\u0650\u064a\u0652\u0643\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f, \u0648\u064e\u0623\u064e\u0634\u0652\u0647\u064e\u062f\u064f \u0623\u064e\u0646\u0651\u064e \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u0651\u064e\u062f\u064b\u0627 \u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u064f\u0647\u064f \u0648\u064e\u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f\u0647\u064f<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"KTM76. Kuliah Tafkir Islami - (30) Manfaat, Mudharat dan Ketaqwaan (18 Mei 2023)\" width=\"720\" height=\"405\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/4wPH6e45rHE?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong># Kurikulum Materi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kaidah-kaidah dalam berpikir islami:<\/strong><br>1. Kaidah umum<br>2. <em>Kaidah yang bersumber dari fiqih<\/em><br>3. Kaidah yang bersumber dari Tsaqafah Islamiyah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kaidah-kaidah yang bersumber dari fiqih:<br><\/strong>2.1. Niat menentukan amal<br>2.2. Keyakinan Tidak Bisa Dihilangkan Dengan Keraguan<br>2.3. Yang Mudharat Harus Ditinggalkan<br>2.4. Kesulitan Mendatangkan Kemudahan<br>2.5. Antara Manfaat dan Mudharat<br><em><strong>2.6. Manfaat, Mudharat dan Ketaqwaan<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h5 class=\"wp-block-heading\">MANFAAT, MUDHARAT DAN KETAQWAAN<\/h5>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Manfaat dan mudharat itu mirip kepentingan sehingga bisa timbul pertanyaan:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Jika berpikir seperti itu, apakah ini terlalu longgar dan tidak memiliki sikap?<\/li>\n\n\n\n<li>Dimanakah pengorbanan di jalan Allah?<\/li>\n\n\n\n<li>Dimanakah kesungguhan di jalan Allah?<\/li>\n\n\n\n<li>Dimanakah rasa takut kepada Allah?<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jawaban dari ini semua ada di dalam <em><strong>ketaqwaan<\/strong><\/em>.<br>Contoh:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Ketika kita sedang shalat dan melihat anak kita masuk parit, maka keputusannya adalah menolong anaknya dan kemudian tetap melanjutkan shalat.<\/li>\n\n\n\n<li>Ketika sedang shalat dan ada ular lewat dan mengancam kita, maka kita mencari bambu untuk melindungi diri. Gerakan ini tidak membatalkan shalat.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam hal ini, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan agar agama tidak dianggap sebagai hal yang main-main, yakni digunakan ketika cocok dan ditinggalkan ketika tidak sesuai. Kita pun tidak boleh terjebak dalam selalu mengutamakan dunia dalam pengambilan keputusan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Beberapa catatan dalam melihat manfaat dan mudharat yang tidak akan merusak agama:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Manfaat dan mudharatnya adalah nyata dan bukan asumsi atau keraguan.<\/li>\n\n\n\n<li>Manfaat dan mudharat itu menggunakan ukuran syariat.<\/li>\n\n\n\n<li>Urutan prioritas dari manfaat dan mudharat itu mengikuti urutan yang ditetapkan syariat, yakni agama, diri, nasab, akal dan terakhir adalah harta.<\/li>\n\n\n\n<li>Melihat manfaat dan mudharat itu harus didasarkan kepada ketaqwaan kepada Allah dan bukan untuk menuruti hawa nafsu.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Manfaat dan mudharat itu menggunakan ukuran syariat<br><\/strong>Yakni sesuatu disebut manfaat ketika dinyatakan manfaat oleh syariat dan disebut mudharat ketika dinyatakan sebagai mudharat oleh syariat. Salah satu referensi yang digunakan adalah hukum fiqih. Ukuran mudharat bukanlah duniawi, tetapi aturan agama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Misal, berdagang dengan menimbun itu adalah manfaat namun tidak diakui syariat karena melanggar. Misal, seseorang yang beradaptasi dengan pimpinannya yang melanggar syariat itu adalah manfaat namun tidak diakui syariat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Melihat manfaat dan mudharat itu harus didasarkan kepada ketaqwaan<br><\/strong>Ketika unsur ketaqwaan digunakan sebagai dasar, maka kita akan berhati-hati dalam menentukan manfaat dan mudharat. Pemahaman hukum fiqih harus didasari oleh pemahaman tazkiyatun nafs yang kuat sehingga mendatangkan ketaqwaan. Ketaqwaan ini juga harus dibimbing oleh keimanan yang kuat kepada Allah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketaqwaan akan membimbing kita dalam menjelaskan hal-hal yang kita jalankan itu apakah masuk ke dalam kategori manfaat atau mudharat. Dengan demikian, tidak akan ada eksploitasi ke dalam hukum agama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penutup<br><\/strong>Kemampuan untuk menganalisa manfaat dan mudharat itu adalah penting dan perlu dipandu oleh ketaqwaan sehingga selalu terjaga. Kita tidak boleh menyerah dalam mengeluarkan usaha maksimal dalam membedakan yang mana yang manfaat dan yang mana yang mudharat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Iman kuat, fiqih kuat, tazkiyatun nafs kuat sehingga ketaqwaan tinggi &#8211;&gt; mindset kuat.<\/em><br><em>Iman lemah, fiqih lemah, tazkiyatun nafs lemah sehingga ketaqwaan rendah &#8211;&gt; mindset tereksploitasi.<\/em><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><span style=\"text-decoration: underline;\">TANYA JAWAB<\/span><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><em>1. Ketaqwaan adalah personal dan bisa jadi berbeda-beda dengan orang lain. Dengan demikian, penentuan manfaat dan mudharat itu bisa berbeda-beda dari satu sama lain. Bagaimana dengan hal ini?<\/em><br><\/strong>Sampai ke level tertentu, hal ini akan subjektif. Namun di konteks ini, ada objektifikasi di dalam perihal subjektif. Contoh: berdakwah di partai politik yang di dalamnya banyak mudharat namun tetap ditempuh untuk mengejar manfaat yang lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh lain: seorang suami yang bekerja di luar negeri. Bagi keluarganya bisa jadi merasa tidak ada mudharat karena sanggup ditinggalkan. Bagi suaminya juga mampu untuk bertahan hidup di luar demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Namun, bisa jadi orang lain tidaklah sanggup untuk bertahan. Maka, ada subjektivitas di dalam pengambilan keputusan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><em>2. Apakah mudhorat dan manfaat itu ada tingkatannya misal dari yang berat sampai dengan yang ringan? Apa indikasinya?<\/em><br><\/strong>Syariat itu memberikan kaidahnya. Sedangkan untuk ukuran teknis, hal ini dikembalikan kepada situasi yang berlaku umum di dalam masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><em>3. Mengunjungi saudara adalah silaturahim. Namun bagaimana jika nantinya akan selalu cekcok ketika melakukan hal ini?<\/em><br><\/strong>Kalau yakin bahwa akan cekcok ketika bertemu, maka sebaiknya tidak datang. Menolak mudharat lebih baik daripada mengambil manfaat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>wallahu a&#8217;lam bishowab<\/em><br><em>Ditulis oleh Tim Formula Hati (AA)<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kuliah Tafkir Islami &#8211; Kamis, 27 Syawal 1444 H \/ 18 Mei 2023 \u200e\u0628\u0633\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0631\u062d\u0645\u0646 \u0627\u0644\u0631\u062d\u064a\u0645\u200e\u0623\u064e\u0634\u0652\u0647\u064e\u062f\u064f \u0627\u064e\u0646\u064e\u0651 \u0644\u0627\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u0647\u064e \u0625\u0650\u0644\u0627\u064e\u0651 \u0627\u0644\u0644\u0651\u0670\u0647\u200e\u0648\u064e\u062d\u0652\u062f\u064e\u0647\u064f \u0644\u0627\u064e \u0634\u064e\u0631\u0650\u064a\u0652\u0643\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f, \u0648\u064e\u0623\u064e\u0634\u0652\u0647\u064e\u062f\u064f \u0623\u064e\u0646\u0651\u064e \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u0651\u064e\u062f\u064b\u0627 \u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u064f\u0647\u064f \u0648\u064e\u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f\u0647\u064f # Kurikulum Materi Kaidah-kaidah dalam berpikir islami:1. Kaidah umum2. Kaidah yang bersumber dari fiqih3. Kaidah yang bersumber dari Tsaqafah Islamiyah Kaidah-kaidah yang bersumber dari fiqih:2.1. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"stax_show_title_section":"","stax_single_post_media_panel_height":"","stax_single_post_media_panel_text":"","stax_single_post_cateory_breadcrumb":"","stax_single_post_title_position":"","stax_single_post_title_align":"","stax_single_post_title_extra_align":"","stax_single_post_title_size":"","stax_single_post_image_width":"","stax_single_post_image_format":"","stax_single_post_audio_panel":"","stax_single_post_video_panel":"","stax_single_post_video_width":"","stax_single_post_gallery_panel":"","stax_single_post_gallery_width":"","stax_single_post_gallery_slides":"","stax_single_post_meta_author_avatar":"","stax_single_post_meta_author_name":"","stax_single_post_meta_post_date":"","stax_single_post_meta_reading_time":"","stax_single_post_shapes":"","footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-598","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-arsip-kuliah-umum-tematik-ktm"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/598","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=598"}],"version-history":[{"count":2,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/598\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":616,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/598\/revisions\/616"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=598"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=598"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=598"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}