{"id":491,"date":"2022-12-07T18:06:00","date_gmt":"2022-12-07T11:06:00","guid":{"rendered":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/?p=491"},"modified":"2022-12-09T06:09:06","modified_gmt":"2022-12-08T23:09:06","slug":"kaa55-akhlak-buruk-kikir","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/?p=491","title":{"rendered":"KAA55. Akhlak Buruk ~ Kikir"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kajian Akhlak dan Adab &#8211; Rabu, 13 Jumadil Awal 1444 H \/ 7 Desember 2022<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200e\u0628\u0633\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0631\u062d\u0645\u0646 \u0627\u0644\u0631\u062d\u064a\u0645<br>\u200e\u0623\u064e\u0634\u0652\u0647\u064e\u062f\u064f \u0627\u064e\u0646\u064e\u0651 \u0644\u0627\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u0647\u064e \u0625\u0650\u0644\u0627\u064e\u0651 \u0627\u0644\u0644\u0651\u0670\u0647<br>\u200e\u0648\u064e\u062d\u0652\u062f\u064e\u0647\u064f \u0644\u0627\u064e \u0634\u064e\u0631\u0650\u064a\u0652\u0643\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f, \u0648\u064e\u0623\u064e\u0634\u0652\u0647\u064e\u062f\u064f \u0623\u064e\u0646\u0651\u064e \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u0651\u064e\u062f\u064b\u0627 \u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u064f\u0647\u064f \u0648\u064e\u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f\u0647\u064f<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"KAA55. Bahayanya Kikir - Ust Muhsinin Fauzi (7 Des 2022)\" width=\"720\" height=\"405\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/ObhdFJJHVOE?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong># Sejenak Bersama Al-Qur&#8217;an: Surat Yusuf (12): 94-98<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">1) Nabi Yaqub tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara anak\u00b2nya dan ia juga sudah bisa mencium bau Nabi Yusuf (dari bajunya), padahal jarak mereka masih sangat jauh dari dirinya. Semua itu adalah pemberitahuan dan pertolongan dari Allah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2) Adanya mu\u2019jizat Nabi Yusuf; Ketika meletakkan baju ke wajah ayahnya, mata ayahnya yang buta langsung bisa melihat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">3) Belajar dari saudara\u00b2nya Nabi Yusuf yakni ketika perbuatan buruknya sudah ketahuan dan sudah terbukti salah, mereka tidak bersikeras \/ berargumen \/ membuat justifikasi, tetapi langsung mengaku salah dan kemudian minta ampun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">4) Contoh sikap seorang ayah kepada anaknya yang berlaku zholim; Nabi Yaqub berlapang dada, memintakan ampun anak\u00b2nya yang sudah mengaku salah dan minta maaf, dan ia mendukung proses pertaubatan anak\u00b2nya.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h5 class=\"wp-block-heading\">AL BUKHL \/ PELIT \/ BAKHIL<\/h5>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akhlak bakhil ini kutub ekstrim dari israaf dan tabdziir. Kalau israaf dan tabdziir itu melebihi batasnya maka kalau bakhil kurang dari batasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagaimana yang tersirat dalam QS Al Isra ayat 29:<br><em>\u201cWa l\u0101 taj&#8217;al yadaka magl\u1ee5latan il\u0101 &#8216;unuqika wa l\u0101 tabsu\u1e6d-h\u0101 kullal-bas\u1e6di fa taq&#8217;uda mal\u1ee5mam ma\u1e25s\u1ee5r\u0101\u201d. Artinya \u201cDan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Definisi bakhil<br><\/strong>Tidak mengeluarkan apa yang wajib ia keluarkan atau mengeluarkan tapi di bawah standar yang wajib ia keluarkan. Dalam kalimat yang lain, bakhil itu ada dua yakni tidak mengeluarkan sama sekali atau mengeluarkan tapi kurang dari yang seharusnya. Sedangkan kutub ekstrimnya yakni israaf mengeluarkan yang tidak seharusnya atau mengeluarkan melebihi yang seharusnya. Dikatakan kutub ekstrim karena jika orang israaf di salah satunya biasanya bakhil di salah satu lainnya. Contoh: orang yang berlebihan memenuhi kebutuhan pakaian misal, maka ia jadi bakhil untuk urusan memberi (sedekah) karena uangnya sudah habis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bakhil ini memiliki kakak yang namanya syuhha, yaitu akhlak buruk ketika milik orang lain juga ingin dimiliki (rakus). Sifat bakhil yang tidakn mengeluarkan miliknya ini lebih ringan karena tidak sampai mau mengambil hak atau milik orang. Namun, keduanya sifat ini tetap saja merupakan akhlak buruk yang harus dihindari.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>\u25a0 Al Asfahani mengatakan bakhil itu menahan perkara\u00b2 \/ barang\u00b2 \/ kepemilikan orang\u00b2 dari yang tidak pantas untuk ditahan. Atau menahan perkara yang wajib keluar. Contoh, ada dana yang harus keluar pada bulan tertentu, maka ketika tiba bulannya harus dikeluarkan. Nafkah dari suami untuk isteri, maka itu wajib dikeluarkan dan tidak pantas untuk ditahan.<\/li>\n\n\n\n<li>\u25a0 Al Jurjani mengatakan bakhil itu menahan dari harta dirinya.<\/li>\n\n\n\n<li>\u25a0 Ibnu Hajar mengatakan bakhil itu menahan apa yang diminta dari apa yang ia punya. Dan seburuk-buruknya bakhil yaitu ketika menahan apa yang diminta, padahal yang meminta itu berhak. Apalagi jika menahan yang bukan hartanya. Seperti pengelola zakat atau DKM masjid harus berhati-hati.<\/li>\n\n\n\n<li>\u25a0 Al Qayyumi mengatakan bakhil itu menahan perkara yang wajib.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Dalil-dalil tentang bakhil<br><\/strong>Di Al-qur\u2019an banyak sekali ayat yang bicara tentang bahayanya bakhil, sbb:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>QS Ali-Imran ayat 180,<\/em><br>yang artinya \u201cJangan sekali-kali orang\u00b2 yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya mengira bahwa kikir itu baik bagi mereka, padahal kikir itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan di leher mereka pada hari Kiamat. Hanya milik Allah warisan yang ada di langit dan di bumi. Allah Mahateliti atas apa yang kamu kejakan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>QS An-Nisa ayat 37,<\/em><br>yang artinya \u201cYaitu orang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir serta menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. Kami telah menyediakan azab yang menghinakan untuk orang kafir.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>QS Al-Hadid ayat 24,<\/em><br>yang artinya \u201cYaitu orang\u00b2 kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir. Siapa pun yang berpaling dari perintah\u00b2 Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>QS An-Nisa ayat 128,<\/em><br>pada ayat ini Qur\u2019an bicara tentang akhlak buruk syuhha.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anas bin Malik mengatakan bahwa Nabi saw berdoa \u201cAllahumma innii a\u2019uudzu bika minal hammi wal\u1e2bazan, wa a\u2019uudzu bika minal \u2018ajzi wal kasal, wa a\u2019uudzu bika minal jubni wal bukhl, wa a\u2019uudzu bika min ghalabatid-daini wa qahrir-rijaal.\u201d \uf0e0 Artinya \u2018Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana dan sedih, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan bakhil, aku berlindung kepada-Mu dari hutang yang menumpuk dan aku berlindung kepada-Mu dari orang\u00b2 yang dominan\/menjajah.\u2019<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Beberapa ungkapan tentang bakhil dari salafussholeh:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25a0 Ali bin Abi Tholib ra, bakhil itu penutupnya kemiskinan dan bisa jadi orang yang dermawan akan masuk surga dengan kedermawanannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25a0 Tolha bin Abdila bin Ubaidillah ra, sesungguhnya kami mendapati harta kami seperti yang didapati orang\u00b2 bakhil, kami menyikapi harta kami sebagaimana orang\u00b2 bakhil menyikapi, tapi kami tahan yakni tahan untuk terus bisa mengeluarkan terhadap yang wajib dikeluarkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25a0 Hasan bin Ali ra, bakhil itu seseorang yang punya sudut pandang kalau memberi itu jadi binasa (hilang uangnya), kalau ditahan jadi mulia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25a0 Tawus ra, bakhil itu bakhil dari apa yang ada ditangannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25a0 Muhammad ibn Al Munkadif ra, jika Allah menginginkan suatu kaum itu buruk maka Allah akan kuasakan orang yang paling buruk kepada mereka dan Allah tempatkan rizki\u00b2 mereka ditangan orang\u00b2 bakhil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25a0 Imam Abu Hanifa ra, saya tidak akan menilai orang bakhil sebagai orang yang adil karena orang bakhil itu ekstrim, dia adalah orang yang suka mengambil diatas haknya karena takut dicurangi, maka yang demikian itu tidak amanah orangnya. \uf0e0 orang bakhil tidak bisa diamanahi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25a0 Ada cerita menarik yaitu ketika sekelompok orang memuji seorang wanita didepan Nabi saw, orang\u00b2 itu berkata tentang wanita itu, bahwa dia ahli puasa, ahli qiyamullail tapi dia bakhil, jawab Nabi saw \u201cJadi kalau begitu baiknya dia apa?\u201d. Demikianlah orang bakhil itu dianggap tidak ada baiknya. Kenapa? Karena ia tidak mengeluarkan yang wajib dikeluarkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25a0 Ibn Bisyr ibn Haris ra, melihat orang bakhil itu bisa mengeraskan hati, bertemu orang bakhil itu merupakan bencana di hati orang mukmin, jangan kau nikahkan anakmu dengan orang bakhil, jangan bermuamalah dengan orang bakhil dan betapa buruknya ulama yang bakhil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25a0 Ummul Banin ukhtu Umar bin Abdul \u2018Aziz ra, betapa buruknya orang bakhil itu, kalau ia adalah baju aku tidak akan mau memakainya dan kalau itu sebuah jalan aku tidak mau melewatinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25a0 As Sabih ra, saya tidak tahu mana yang paling dalam \/ jauh tempatnya di neraka, orang bakhil atau seorang pembohong.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25a0Yahya bin Muad ra, seorang dermawan selalu ada dihati mesikpun ia buruk tapi orang bakhil itu dibenci walau dia baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25a0 Hubais ibn Mubasyir ra, saya duduk bersama Imam Ahmad ibn Hambal dan semua orang ada disitu, mereka sepakat bahwa mereka tidak pernah tahu ada laki\u00b2 soleh yang bakhil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u25a0 Ibnul Qayyim ra, pengecut dan bakhil itu dua sahabat. Kalau tiada manfaatnya tentang masalah badan berarti dia pengecut. Dan kalau tiada manfaat di hartanya itu namanya bakhil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kenapa bisa jatuh pada akhlak bakhil?<br><\/strong>1) lemahnya iman, kurang percaya adanya akhirat<br>2) mencintai harta secara berlebihan, orang wajib punya harta tapi tidak boleh mencintainya<br>3) bisa jadi ada karakter zholim, orangnya memang suka melampau batas, suka melanggar<br>4) anggapan yang keliru bahwa bakhil itu bisa membuat dirinya kaya<br>5) ketakutan akan masa depan yang berlebihan<br>6) ketakutan untuk urusan yang berhubungan dengan anak<br>7) salah didik, mungkin orangtuanya bakhil atau dahulu dirinya disikapi bakhil oleh orang\u00b2 sekitarnya<br>8) karena tidak paham betul akibat yang akan diterima di akhirat<br>9) banyak keinginan yang berujung banyak pengalokasian dan pengeluaran<br>10) visi akhirat kurang kuat sehingga tidak tertarik kepada pahala<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Melatih kedermawanan:<br><\/strong>1) mengembangkan husnudzon kepada Allah bahwa Allah justru akan membalas banyak<br>2) penguatan iman khususnya iman hari akhir<br>3) sering membaca fadilah\u00b2 sedekah<br>4) sering membaca bahayanya bakhil<br>5) banyak berkumpul dengan orang\u00b2 dermawan<br>6) latihan sedekah dimulai dari perkara yang tidak ia butuhkan, misal kasih makan kucing, sedekah dengan nilai kecil, dst<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>TANYA JAWAB<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Q: Jika ada orang memberi banyak kepada yang kaya, tapi kalau kepada yang miskin memberi sedikit sekali; orang itu masuk kategori apa? Jika ada orang tidak mau memberikan hadiah ke orang kaya karena dianggapnya sudah mampu, sementara kalau ke orang miskin memberi seperlu saja; orang itu masuk kategori apa?<\/em><br>A: Ini bab tentang sasaran pemberian. Kalau sasarannya adalah orang miskin, untuk yang wajib namanya zakat; yang sunah namanya sedekah, infak, dst. Kalau sasarannya orang kaya, namanya hadiah. Kalau sudah melakukan itu semua, maka selesai. Tinggal bicara level atau tingkatan. Semakin jauh dari bakhil, makin baik kedermawanannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Q: Misal mau infak dengan niat untuk orangtua, pasangan, anak, cucu, apakah harus disebutkan atau cukup di dalam hati saja?<\/em><br>A: Tergantung jenis infaknya. Kalau infak yang umum tidak perlu, cukup dalam hati saja. Kalau kaitannya dengan qurban, maka harus disebutkan. Demikian juga kaitannya dengan wakaf bangun masjid misal, bagusnya dinyatakan, supaya pewakafannya jadi benar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Q: Kadang di daerah tertentu diasumsikan sebagai daerah yang orangnya pelit\u00b2, apakah bijaksana mengatakan demikian? beberapa kenyataannya seperti itu, bahkan sampai ada ucapan \u2018jangan ambil pasangan dari daerah itu\u2019.<\/em><br>A: Kalau melihat teori tentang bagaimana pembentukan karakter, orang jadi pelit itu bisa karena lingkungannya. Lingkungan sangat mempengaruhi. Jadi kalau lingkungannya banyak yang pelit maka bukan mustahil seorang anak kelak akan jadi pelit. Secara makro, logic kalau dikatakan satu daerah itu orangnya pelit. Persoalannya apakah semuanya pelit? Pukul rata semuanya pelit? Kan tidak bisa begitu, tidak bijaksana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Q: Apakah kalau sudah menunaikan yang wajib, juga sudah mengeluarkan yang sunah misal sedekah subuh, lalu untuk memberi yang diluar itu agak banyak pertimbangan\/perhitungan itu disebut bakhil?<\/em><br>A: Kalau sudah menunaikan yang wajib itu artinya sudah melewati batas, tidak disebut bakhil. Katakanlah dermawan level 1. Jika bisa memberi lagi diluar yang wajib dan sunah, dermawan level 2, semakin lebar atau luas sebaran sedekahnya makin tinggi levelnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Q: Apakah disebut pelit jika pemilih dalam hal memilih lembaga ziswaf? Dan kalau bertemu yayasan yang suka memaksa minta, apakah tetap diberikan atau tolak?<\/em><br>A: Memilih lembaga ziswaf, boleh. Itu bukan pelit. Menyikapi yayasan yang suka memaksa ya dikasih saja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>wallahu a&#8217;lam bishowab<\/em><br><em>Ditulis oleh Tim Formula Hati (WW\/AA)<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kajian Akhlak dan Adab &#8211; Rabu, 13 Jumadil Awal 1444 H \/ 7 Desember 2022 \u200e\u0628\u0633\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0631\u062d\u0645\u0646 \u0627\u0644\u0631\u062d\u064a\u0645\u200e\u0623\u064e\u0634\u0652\u0647\u064e\u062f\u064f \u0627\u064e\u0646\u064e\u0651 \u0644\u0627\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u0647\u064e \u0625\u0650\u0644\u0627\u064e\u0651 \u0627\u0644\u0644\u0651\u0670\u0647\u200e\u0648\u064e\u062d\u0652\u062f\u064e\u0647\u064f \u0644\u0627\u064e \u0634\u064e\u0631\u0650\u064a\u0652\u0643\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f, \u0648\u064e\u0623\u064e\u0634\u0652\u0647\u064e\u062f\u064f \u0623\u064e\u0646\u0651\u064e \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u0651\u064e\u062f\u064b\u0627 \u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u064f\u0647\u064f \u0648\u064e\u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f\u0647\u064f # Sejenak Bersama Al-Qur&#8217;an: Surat Yusuf (12): 94-98 1) Nabi Yaqub tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara anak\u00b2nya dan ia juga sudah bisa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"stax_show_title_section":"","stax_single_post_media_panel_height":"","stax_single_post_media_panel_text":"","stax_single_post_cateory_breadcrumb":"","stax_single_post_title_position":"","stax_single_post_title_align":"","stax_single_post_title_extra_align":"","stax_single_post_title_size":"","stax_single_post_image_width":"","stax_single_post_image_format":"","stax_single_post_audio_panel":"","stax_single_post_video_panel":"","stax_single_post_video_width":"","stax_single_post_gallery_panel":"","stax_single_post_gallery_width":"","stax_single_post_gallery_slides":"","stax_single_post_meta_author_avatar":"","stax_single_post_meta_author_name":"","stax_single_post_meta_post_date":"","stax_single_post_meta_reading_time":"","stax_single_post_shapes":"","footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-491","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-arsip-kajian-akhlak-dan-adab"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/491","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=491"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/491\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":492,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/491\/revisions\/492"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=491"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=491"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/formulahati.net\/wp\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=491"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}